Di Fakultas Ekonomi Bisnis, Aku Diminta Dosen Untuk Melepaskan Cadarku

Ilustrasi: Jae

Sekujur tubuh Iza (bukan nama sebenarnya) tak berhenti bergetar ketika mendengar bahwa dirinya diminta untuk melepas cadarnya. Ketika itu, kelompoknya sedang mempresentasikan tugas video tentang parawisata di Banyumas pada kelas Statistika Ekonomi 2 (6/12/21), yang diampu oleh IS. Dalam video itu, Iza ditugaskan menjadi pembawa acara.

“Untuk 3MP (video), karena nanti akan diunggah di Youtube, bisa tidak, pembuka (pembawa) acara itu tidak menggunakan cadar? Supaya kita netral. Pakai jilbab biasa saja, jangan cadar. Karena, sebagian masyarakat kita resistance dengan itu (cadar). Bukan berarti saya tidak setuju dengan cadar. Tapi ini karena kita mau minta like di Youtube,” ucap IS.

Saat mendengar ucapan itu, dunia seolah-olah berhenti untuk sesaat. Bagai disambar petir siang bolong, dirinya terkejut, kemudian marah. Namun, tak ada yang bisa dia lakukan.

Dia ingin sekali berbicara saat itu, namun khawatir memperkeruh suasana. Iza melepas earphone yang menyumbat lubang telinganya untuk mendengarkan kelas, kemudian menangis. Hanya itu yang bisa dia lakukan.

Ini bukan pertama kali dirinya diperlakukan berbeda karena menggunakan cadar. Sewaktu menghubungi Ketua Program Studi, D, misalnya. Ketika ingin meminta tandatangannya, dia diminta menunjukan Kartu Tanda Mahasiswa-nya.

“Setiap aku minta tanda tangan, aku harus ngasih KTM-ku dulu. Cuma aku yang dimintai KTM, tidak ada yang lain,” ucap Iza.

Selain selalu meminta KTM, D juga pernah meminta Iza untuk melepas cadarnya.

“Yasudah, gak usah ditutup, biar dosen kenal,” kata Iza menirukan perkataan D.

“Ya, nanti juga, ‘kan, pakai masker, Pak. Apa bedanya?” Iza menyahuti ucapannya sendiri, membuat satu rangkaian percakapan.

“Pokoknya, kalau kamu sudah di luar FEB, gapapa pakai cadar. Tapi, kalau masih di dalam FEB, kamu gak boleh pake.”

D mengatakan bahwa tujuan ia meminta Iza melepas cadarnya untuk pemerataan penampilan.

Hayamwuruk mencoba menghubungi IS, namun dia menolak wawancara dengan alasan sibuk, dan mengarahkan untuk menghubungi D. Hayamwuruk kemudian menghubungi D untuk mengonfirmasi informasi di atas, namun pesan kami hanya dibaca.

Kemudian, salah satu reporter kami ditelepon oleh Kepala Prodi Sastra Indonesia, SW. Ia meminta Hayamwuruk untuk menghentikan peliputan ini karena dinilai terlalu sensitif dan kontra produktif.

“Ini, kan, isu yang sensitif ya. Kalau meliput ini, jadinya kontra-produktif. Sebaiknya, Hayamwuruk meliput prestasi-prestasi di jurusan ataupun di fakultas,” kata SW kepada reporter kami melalui telepon (16/12/21).

***

Cerita yang dialami Iza tentu bukanlah pertama kali dan satu-satunya di Indonesia. Sudah banyak sekali terjadi diskriminasi terhadap cadar dalam ranah pendidikan. Diskriminasi terhadap pengguna cadar dan jilbab sudah bisa dicecap semenjak masa Orde Baru.

Sebagai salah satu upaya menggebosi kekuatan Islam radikal, Orde Baru menerbitkan SK 052/C/Kep/D. 82 yang mengatur tentang standarisasi berpakaian siswa dari Taman Kanak-Kanak sampai Sekolah Menengah Atas. Peraturan ini akhirnya menjadi instrumen sekolah untuk merepresi siswi yang berjilbab.

Pada 1982, 8 siswi SMAN 3 Bandung diancam akan dikeluarkan dari sekolah karena menolak melepas jilbab. Di SMAN 68 Jakarta, siswi bernama Siti Ratu Nasiratun Nisa dikeluarkan karena menggunakan jilbab. Meski kemudian aturan soal pakaian ini diubah kembali melalui SK. 100/C/Kep/D. 91.

Pasca reformasi, larangan terhadap jilbab bergeser menjadi larangan terhadap cadar. Di Fakultas Perternakan Universitas Sebelas Maret, misalnya. Beredar surat edaran (27/9/17) yang mengatur tata tertib di lingkungan kampus. Salah satu poin dalam surat itu adalah mewajibkan wajah untuk terlihat.

Pada 2015, Universitas Lambung Mangkurat melarang penggunaan cadar karena dianggap menganggu proses belajar. Pada 2017, Rektor Universitas Islam Negeri Jakarta,  Dede Rosyada meminta kepada seorang dosen untuk melepas cadarnya ketika mengajar, atau tetap memakai cadar tapi berhenti mengajar.

Di Jember,  pada 2017, Institut Agama Islam Negeri Jember larang mahasiswi bercadar dengan dalih pencegahan radikalisme. Agar sesuai dengan ajaran islam moderat atau islam nusantara, pada 2018 Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga melarang penggunaaan cadar.

Keadaan sebaliknya terjadi di Inggris. Universitas Oxford untuk pertama kalinya, sepanjang berdiri selama 900 tahun, menerima mahasiswa yang menggunakan cadar dan niqab. Mahasiswi keturunan Inggris-Pakistan tersebut diterima untuk belajar hukum perdata.

***

“Kalau memang cadarku bisa menurunkan akreditasi FEB atau kampus, gak apa-apa aku lepas,” tutur Iza.

“Tapi kalau alasannya gak masuk akal, seperti pemerataan penampilan, aku gak mau. Harusnya bebas mau pakai (pakaian) seperti apa.”

“Tapi kalau memang alasannya (tidak boleh menggunakan cadar) tidak masuk akal bagiku, aku tidak mau. Aku akan perjuangin ini (cadar) sampai akhir,” ucapannya meninggi.

Reporter : Muhsin Sabilillah, Rilanda
Penulis    : Muhsin Sabilillah
Editor      : Restutama

*Catatan Redaksi: Jika kamu pernah mengalami diskriminasi karena perbedaan fisik, kognitif, gender, keyakinan, kamu bisa ceritakan ke Hayamwuruk melalui lpmhayamwuruk@gmail.com

Hayamwuruk menerbitkan kembali berita ini setelah mengalami revisi.

One thought on “Di Fakultas Ekonomi Bisnis, Aku Diminta Dosen Untuk Melepaskan Cadarku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top