Bukan Perawan Maria: Perempuan dalam Koridor Typo

Sumber Gambar : Mizan Store

Identitas Buku
Judul Buku : Bukan Perawan Maria
Penulis : Feby Indirani
Penerbit : Bentang Pustaka
Cetakan : Pertama, Mei 2021
Halaman : xvi + 204 hlm.; 20,5 cm
ISBN : 978-602-291-817-2

***

Suatu ketika seorang kawan bertanya kepada saya, “Kenapa harus ada feminisme? Bukankah perempuan saat ini sudah sejahtera?” Kemudian dia melanjutkan, “Feminis hanya bikin gaduh, penginnya ngalahin laki-laki.” Saat itu saya tidak berkata banyak karena keterbatasan ilmu yang saya miliki, hanya saja pertanyaan tersebut tidak bisa hilang dalam ingatan. Tetapi saya tidak pernah sepakat dengan pemahamannya. Semenjak hari itu, saya membaca berbagai buku referensi termasuk mencari buku rekomendasi bagi pemula yang ingin mempelajari feminisme. Kemudian saya sebisa mungkin selalu menghadiri acara diskusi atau sejenisnya yang membahas tentang gender dan feminisme.

Belakangan saya menemukan jawaban atas pertanyaan kawan saya. Ikhaputri Widiantini, seorang dosen Ilmu Filsafat Universitas Indonesia yang merupakan pembicara Bootcamp Gender dalam acara Logosfest yang saya ikuti mengatakan, “Tujuan feminisme adalah kesetaraan. Kalau tujuannya untuk mencapai kesetaraan terus ngapain mendominasi laki-laki. Apakah kita hanya akan mengganti patriarki dengan matriarki? Lalu melelahkan sekali perjuangan ini.”

Dari beberapa buku yang saya baca, buku Bukan Perawan Maria karya Feby Indirani adalah yang paling segar bagi saya. Dia menawarkan kritik yang menggelitik terhadap tingkah laku orang yang fanatik terhadap agama. Barangkali sebagian pembaca akan marah, tidak terima, kepanasan, atau sekadar tertawa dengan cerita yang disuguhkan. Sebagain yang lain memilih merenung dan mencari makna tersembunyi di balik 19 cerpen yang tertulis di sana.

Telah saya sebutkan di muka bahwa secara keseluruhan, kumpulan cerpen (kumcer) tersebut berisi cerita-cerita tingkah laku orang beragama yang terlalu fanatik dan justru merugikan orang lain. Kumcer karya Febi Indirani yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, bahasa Italia dan beberapa cerita telah diterjemahkan ke dalam bahasa Spanyol dan bahasa Jepang juga mengangkat persoalan perempuan yang lagi-lagi mendapat tempat berat sebelah di lingkungannya. Salah satu cerpen yang menarik perhatian saya berjudul Typo.

Typo mengisahkan seorang perempuan yang memiliki segudang prestasi. Ketika kuliah dia juga masuk ke jurusan eksakta yang minim mahasiswa perempuan. Tentu saja, kecantikan dan kepintarannya membuat dia populer. Namun, setelah menikah dia tidak bisa berprestasi lagi. Bahkan, dia mengalami kejadian yang aneh. Dia selalu membuat typo, misal Auni, Arni, Arini ketika menulis namanya sendiri, Aini.

Menurut pembacaan saya, ini adalah cara penulis untuk menunjukkan kepada pembaca bahwa sangat banyak perempuan yang ruang geraknya menjadi terbatas setelah menikah. Perempuan dibebankan dengan pekerjaan mengurus rumah, anak, dan suami yang dituntut harus sempurna. Belum lagi urusan bersosialisasi dengan para tetangga yang terkadang membuat pusing kepala.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak asing dengan fenomena istri yang dipanggil dengan nama suami. Begitu juga dengan seorang ibu yang dipanggil dengan nama anaknya. Hal itu yang menimpa Aini sehingga dia tidak pernah mendengar namanya dipanggil lagi setelah menikah. Dia menolak keadaan tersebut, tetapi tidak memiliki keberanian untuk menyampaikannya.

“Panggilan Bu Zul atau Nyonya Zulkarnain, sudah melekat padanya selama bertahun-tahun. Namun, ia masih belum sepenuhnya nyaman. Namaku Aini, selalu begitu sesungguhnya, tetapi hanya dalam hati.” (Bukan Perawan Maria, 2021: 112)

Maka lewat cerita ini, penulis telah menyampaikan bahwa perempuan dapat kehilangan dirinya setelah menikah. Hal itu bisa saja terjadi apabila dia tidak diberikan kebebasan ruang gerak untuk tetap berekspresi dan menjadi diri sendiri. Misalnya, setelah memiliki anak, seorang istri harus mengurus anak hingga sang anak sudah cukup bisa melakukan banyak hal tanpa bantuan. Namun, dia harus menghadapi kenyataan bahwa seringkali orang lain bahkan suami menghendaki punya anak lagi dengan jenis kelamin yang berbeda dengan anak pertama. Padahal, membesarkan anak bukan perkara remeh temeh. Oleh karenanya, perempuan tidak bisa melakukan banyak hal untuk dirinya. Hal itu yang terjadi pada Aini. Tentu saja kita tidak bisa memukul rata bahwa semua perempuan mengalami nasib yang sama. Akan tetapi, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa fenomena itu ada.

Cerpen Typo memuat peristiwa yang dibalut dalam cerita yang dekat dengan keadaan sehari-hari. Bahasa yang digunakan juga tidak sulit. Namun, seperti yang sudah saya sebutkan di atas, barangkali ketika kamu membaca cerpen ini hanya akan tertawa karena orang dewasa melakukan kesalahan dalam menuliskan namanya sendiri atau merenungi makna tersirat dalam cerita. Bagi saya, cerpen ini telah mengabarkan bahwa perempuan masih berada dalam jalan sempit antara diri sendiri dan tuntutan di luar dirinya.

Penulis : Farijihan Putri
Editor : Rilanda

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top