Becak Motor yang Mencoba Bertahan di Tengah Modernisasi

Sumber gambar: Bernas.id

Suasana ramai, riuh suara pengunjung, pedagang dan kendaraan saling bersahutan di teriknya siang . Begitulah keadaan pasar yang memiliki sejarah panjang itu, Beringharjo namanya.

Rabu, 1 November 2023, di sana tampak seorang pria dengan kaos hitam bertuliskan “Jogja Istimewa”, bercelana tani sedikit dilipat sampai atas mata kaki, sibuk menawarkan jasa transportasinya ke beberapa wisatawan yang berlalu-lalang untuk mengelilingi tiap sudut pusat kota Jogja dengan becak motornya.

Tak henti-henti ia menawarkan jasa becak motor (bentor) sampai mendekati orang-orang yang jalan beriringan sambil mengibaskan topi patinonya seakan memberi isyarat atas keunggulan jasa bentornya, yang tidak lain tidak bukan bisa melindungi penumpang dari panasnya siang dengan penutup di atasnya. Pria itu adalah Supri, dengan wajah ramahnya ia mengajak ngobrol banyak wisatawan dan pejalan kaki sekedar menanyakan kabar dan asal dari mana.

Pria yang sudah mengemudi becak selama puluhan tahun itu merinci berapa uang yang diterima jika ingin menaiki bentornya mengelilingi 0 km Jogja. Adapun tawaran untuk diantarkan ke tempat yang lebih jauh seperti ke Candi Prambanan, area Gunungkidul, ia mematok harga Rp100.000,00. Semua tergantung permintaan penumpang.

Sebelumnya ia menerangkan kalau dulunya sudah menjadi tukang becak kayuh, namun karena merasa usianya sudah tidak memungkinkan mengayuh becak lagi, setelah ada bentor ia berlatih agar fasih ketika mengemudikannya.

Di satu sisi, ada harapan akan kemungkinan kalau transportasi umum baik becak kayuh atau bentor ini tetap eksis ke depannya, mengingat sekarang semuanya serba online seperti hadirnya ojol (ojek online). Bertolak dari hal itu, Supri menambahkan banyaknya anak muda yang memilih untuk ngojol di waktu luang atau bekerjanya alih-alih menjadi tukang becak. Karena itulah, ia berharap keadaan seperti ini tidak membuat jasa tukang becak tidak hilang.

“Kebanyakan yang masih muda mbecak pada gengsi. Kalau anak muda susah cari kerja ya ngojek, asal ada motor ada SIM,” terang Supri.

Supri mengatakan kalau sebenarnya jasa becak kayuh ataupun bentor itu sudah menjadi layanan transportasi umum layaknya ojek dan sejenisnya, tidak hanya sekadar bisa dinaiki sebagai transportasi wisata domestik.

Dibalik senyum wajahnya, Supri menyiratkan keluhan bahwa meskipun sudah dilegalkan menjadi transportasi umum, untuk saat ini jasa bentor di Jogja masih belum memiliki plat nomor kendaraan agar lebih aman di jalan.

“Buat plat bentornya mau dibikinin sama Pak Sultan [Sultan HB X). Tahun depan katanya sudah jadi. Misal ada tilangan bisa lebih aman. Kalau di jalanan juga wajib pakai helm, penumpang gausah pake gapapa. Mudah-mudahan semuanya bisa lancar dan aman,” kata Supri.

Jika dilihat dari sisi keunggulannya, menurut Supri bentor itu sejatinya sedikit lebih baik dibanding layanan ojol kendaraan bermotor. Selain modifikasinya dari model becak kayuh, bentor juga tetap mempertahankan identitasnya di mana ada atapnya yang melindungi penumpang dari panasnya siang atau hujan.

Ia melanjutkan, masyarakat yang didominasi oleh generasi muda ini, melihat keberadaan becak itu dipandang bagus menjadi warisan budaya tempo dulu yang harus dijaga di tengah modernitasnya zaman. Padahal jika tidak ada regenerasi, mengingat bentor dan becak kayuh ini sering dijumpai pengemudinya orang tua rentang usia 50 tahun ke atas, bagaimana ini bisa diwariskan kepada generasi-generasi selanjutnya nantinya.

Penumpang dari jasa bentor lebih banyak dari wisatawan luar Jogja atau asing yang tujuannya untuk mengantarkannya berkeliling melihat corak tempat wisata sebagai destinasi yang kental dengan kebudayaan untuk memberikan pengalaman menarik tentang budaya Jawa dengan khas Jogja.

Lebih lanjut Supri mengatakan, pendapatan yang dihasilkan tidaklah menentu. Jika sedang ramai pengunjung dan muatan bentornya diisi penumpang bisa lebih tinggi dibandingkan hari biasa karena jumlah penumpangnya lebih banyak. Begitupun sebaliknya, di hari biasa pendapatan harian terkadang kurang bahkan tidak mendapat penumpang sama sekali.

Terlebih, hadirnya ojol membuat ketimpangan dalam mencari penumpang semakin terlihat karena selain penggunaannya yang praktis cukup memesan melalui aplikasi, juga memberikan estimasi jarak tempuh dan waktunya sehingga bisa diperkirakan oleh pemesan ketika menuju atau mengantarkan makanan ke tempat tertentu. Oleh sebab itu, pengguna jasanya lebih banyak.

Dalam benaknya, Supri menjawab sebuah pertanyaan tentang bagaimana jika seandainya layanan bentor ini dibuatkan aplikasi khusus seperti ojol. Sayangnya ada permasalahan tersendiri. Menurutnya, karena pengemudi bentor mayoritas berumur 50 ke atas, hal ini menjadi catatan yang patut diperhatikan.

“Kemungkinan kalau udah tahu caranya [memakai gadget] bisa seperti itu [punya aplikasi khusus], cuma ya harus belajar lagi. Udah pada tua, buka hp aja belum ada yang fasih,” terangnya.

Disamping itu, cara Supri dan pengemudi bentor lain untuk bertahan di keadaan yang serba online ini melalui perkumpulan sesama pengemudi bentor. Ia menyebutkan kalau ada perkumpulannya yang bernama Paguyuban Becak Motor DIY (PBMY). Bergabung di PBMY tersebut membuat Supri mampu bertahan sampai sekarang berkat adanya dukungan dan yang senasib sepenanggungan.

Adapun jumlah pengemudi bentor ini tersebar di beberapa titik kawasan Malioboro. Pertama di Beringharjo seperti yang digunakan Supri untuk mangkal. Kedua di depan kantor DPRD DIY, ketiga di perlintasan kereta api, dan Ramayana.

Bersama dengan teman-teman paguyubannya, Supri masih akan melanjutkan pekerjaannya sebagai penyedia jasa bentor. Sejauh ini, harapan utama Supri adalah wisatawan dari luar Jogja yang datang menyusuri tempat-tempat bersejarah, jalan-jalan, atau berbelanja di kawasan Malioboro.

Setelah sudah ada peresmian plat nomor untuk bentor di Jogja, ia berharap bahwa pengguna jasanya ini bisa lebih meluas terutama untuk penduduk Jogja sendiri. Berdasarkan hal ini, untuk selanjutnya bentor dapat menjadi transportasi umum sebagaimana mestinya.

 

Reporter: Faruq, Amel

Penulis: Faruq

Editor: Juno

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top