Seni Mencintai: Polemik Ke-Subjek-an dalam Problem Eksistensial Manusia

Pemenuhan hasrat merupakan substansi primer dalam kehidupan manusia. Hasrat menjadi entry point terwujudnya sebuah kebebasan dan kemerdekaan yang selalu diidamkan oleh manusia sebagai subjek. Manusia sebagai subjek memiliki indikasi sebagai seorang diri yang mengkaji dirinya sendiri. Dengan ini, hasrat bertindak sebagai kastrasi yang tak terpisahkan dari manusia itu sendiri. Berjalan lebih jauh mengenai eksistensi hasrat, maka Robert J. Sternberg mengakumulasikan hasrat bersama dengan intimasi (intimacy) dan komitmen (decision) sebagai komponen dasar pembentuk cinta dalam triangular of love theory. Dengan demikian hasrat (gairah ketertarikan) merupakan jejak awal tertanamnya cinta pada jiwa setiap manusia. Dalam pandangan yang lebih jauh soal cinta, manusia dirundung banyak kegamangan khususnya dalam mendefinisikan cinta secara ontologis. Hal ini dipengaruhi oleh sudut pandang manusia dalam memaknai hakikat cinta dan persoalan hasrat serta merepresentasikan perbedaan di antara keduanya.

Cinta merupakan suatu kondisi kejiwaan yang kompleks di mana seseorang akan gagal dalam mengembangkan seluruh kepribadiannya tanpa cinta yang didasarkan pada pengetahuan dan usaha. Hal tersebut karena dalam diri manusia sebagai subjek cinta memiliki potensi yang besar dalam kualitas personal dan emosional. Cinta dan hasrat memiliki substansi yang komplementer di mana keduanya tidak dapat ditunjukkan dalam ruang gerak yang pasif. Keduanya dijembatani oleh sebuah hakikat yang disebut seni mencintai. Seni dalam mencintai dikenalkan oleh Erich Fromm melalui bukunya yang berjudul The Art of Loving. Fromm mendefinisikan cinta sebagai seni, artinya cinta terwujud dalam tindakan aktif dan disadari secara penuh oleh manusia sebagai subjek. Seni dalam cinta membina agar hasrat termanifestasi dalam kekekalan – komitmen – dan intimasi yang abadi. Sebagai seni, cinta membutuhkan pengetahuan dan usaha. Meskipun demikian, budaya masyarakat modern menyederhanakan kesakralan cinta dengan berpacu pada dalil bahwa cinta merupakan sensasi rasa nyaman yang dapat dinikmati semata-mata karena kesempatan dan keberuntungan seseorang. Manusia modern melihat masalah cinta sebagai problem ”dicintai” bukan ”mencintai”. Premis ini mengklaim seakan-akan cinta merupakan persoalan objek bukan subjek, dalam hal ini kelayakan cinta disetarakan dengan kesuksesan, misalnya ”seseorang harus mapan dan tampan untuk dicintai. Selain itu masyarakat modern menganggap bahwa cinta merupakan hal yang sepele dan tidak penting, sebuah kontradiksi sebenarnya karena pada kenyataannya mereka lapar akan hal itu: mereka menonton film tentang cinta, mendengarkan lagu picisan tentang cinta, dan menghadirkan seseorang yang mereka kagumi sebagai ilusi dalam skenario khayalan sebelum tidur. Sialnya, nyaris tidak seorang pun berpikir bahwa ada suatu kejanggalan yang perlu dipelajari tentang cinta, yakni hakikatnya.

Fenomena dalam budaya masyarakat modern mengantarkan cinta sebagai alat gadai pada hubungan yang tidak sehat (toxic relationship). Hal ini terjadi karena masyarakat dewasa ini menyempitkan orientasi cinta serta tidak menyadari problem eksistensialnya sebagai manusia. Masyarakat modern menganggap cinta serupa pengabdian yang meleburkan diri sepenuhnya kepada objek yang dicintai. Cinta menjadi ajang perbudakan antar individu dengan dalih afeksi dan intimasi. Kesadaran akan kesepian dan keterpisahan membuat beberapa individu merelakan segala hal agar tidak ditinggalkan. Misalnya, seorang individu menormalisasikan tindak kekerasan (sadistis) dalam hubungan dan menganggapnya sebagai wujud cinta dari pasangannya. Padahal cinta sendiri memiliki empat unsur dasar menurut Fromm, yakni perhatian (care), tanggung jawab (responsibility), hormat (respect), dan pengetahuan (knowledge) tentang seseorang yang dicintai. Maka dari itu, tindak kekerasan bukanlah wujud cinta melainkan wujud dari egoisme yang diperluas. Cinta dijadikan sebagai konotasi negatif atas rasa kepemilikan dan melupakan fakta bahwa orang yang kita cintai juga merupakan individu yang bebas. Miskonsepsi cinta yang demikian menegasikan nilai kesakralan cinta yang membedakan antara cinta dan puncak hasrat (gairah) sesaat.

Memaknai hakikat cinta dicapai dengan menyadari bahwa cinta adalah seni. Selayaknya seni, cinta membutuhkan pendekatan yang kreatif, uji teori, dan kemahiran praktik. Serupa dengan seni, cinta juga kerap membutuhkan penguasaan agar cinta terhindar dari kerentanan akibat uang, prestise, dan kekuasaan dominan. Cinta dibutuhkan sebagai solusi dari problem eksistensial manusia agar manusia dapat menerima otoritas dari luar diri dan bersatu dengan sesamanya. Dalil cinta yang didasarkan pada pemikiran Fromm mengasumsikan bahwa ”aku dicintai karena aku mencintai” dengan kata lain ”aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu”. Cinta yang memaksakan objek untuk memberikan cinta yang sama besarnya bukanlah cinta, melainkan egoisme yang diperluas. Cinta bukanlah gairah sesaat yang digunakan semata-mata untuk membungkus diri agar menjadi populer dan memiliki daya tarik seksual. Selain itu cinta juga tidak semata-mata dibutuhkan manusia sebagai ajang kesatuan simbiotik. Hakikat sebenarnya dalam cinta adalah sebuah paradoks: ”dua hati menjadi satu entitas namun tetap mempertahankan keutuhan individualitas”.

 

Penulis: Indriani Putri Anjelita
Editor: Juno

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top