
Reporter: Susan, Indira, Sania, Lia
Penulis: Indira
Editor: Lia
Extinction Rebellion (XR) Semarang bersama Charita Tea menggelar aksi literasi bertajuk “Ngabuburead Melawan dengan Bahagia: Indonesia yang Rese Bisa di-RESET (?)” di Warung Kopi Alam pada Kamis (05/03/2026). Acara ini menjadi ruang bagi warga untuk berkeluh kesah sekaligus mendiskusikan buku ekspedisi karya kolaborasi empat jurnalis, yaitu Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu yang memotret berbagai problematika di Indonesia guna menyebarkan gagasan mengenai regulasi dan tindakan tepat yang seharusnya diambil pemerintah terkait problematika yang ada.
Silvani Andalita dari XR Semarang menjelaskan bahwa gerakan ini bersifat nasional dan dilakukan di berbagai wilayah Indonesia.
“Acaranya enggak cuma di Semarang. Ada dari Sintang, Riau, Jakarta, NTT, Medan, Sukabumi, Padang, Meratus, Pontianak, Banjarmasin, Solo, Lombok, Bimotrong, Palembang,” ungkap Silvani saat merinci sebaran kota yang turut melaksanakan diskusi serupa.
Dengan dresscode warna-warni yang mencolok, XR Semarang ingin menunjukkan bahwa perlawanan terhadap kebijakan pemerintah tidak harus selalu kaku, melainkan bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan, yakni masyarakat melawan kebodohan dan kemalasan melalui diskusi dan literasi.
“Kita tidak punya senjata atau alat berat, jadi kita melawan dengan cara meriset apapun, termasuk melawan lewat diskusi seperti ini,” ujar Silvani.
Sistem diskusi dilakukan secara partisipatif sambil menikmati teh. Setiap peserta dipersilahkan memilih dan membaca satu bab untuk diceritakan bergantian dan ditanggapi bersama berdasarkan perspektif masing-masing.
Dalam sesi pembacaan bab, Sani, pemilik Yayasan Bhumi Horta yang hadir dalam diskusi tersebut, memilih untuk mendalami bab mengenai Monsanto dan Kedaulatan Dunia serta memberikan tanggapan langsung terkait data yang ia temukan.
“Kalau tadi saya baca bab tentang Monsanto, tentang kedaulatan dunia. Ketika saya melihat tulisan di bab itu, itu memang saya agak terbelalak, kaget karena ada beberapa data yang saya enggak tahu. Nah dari situ saya ke-trigger untuk mencari informasi yang lain melalui ponsel saya. Jadi di situ saya akhirnya dapat info kalau ternyata Monsanto itu sendiri sudah bercokol di Indonesia,” ungkap Sani sesuai hasil pembacaannya dalam forum tersebut.
Sebagai peserta yang juga aktif dalam gerakan lingkungan, Sani menutup pandangannya dengan pesan mengenai filosofi keseimbangan antara tindakan manusia dan alam. Ia menekankan bahwa nama organisasinya sendiri, Bhumi Horta, memiliki makna tentang tanggung jawab manusia terhadap tempat tinggalnya.
“Bumi itu sebenernya kan ga dimaknai sebagai Bumi yang tempat kita berpijak, tapi tempat kita tinggal, rumah. Sesuatu yang bisa kita bikin nyaman, bisa bikin kita merasa ada di rumah. Nah itu yang dikatakan Bumi. Horta itu adalah apa yang membuat supaya itu terjadi. Membuat supaya tempat tinggal kita itu bisa nyaman untuk ditinggalin. Harus seimbang antara apa yang kita lakukan sama bumi yang kita pegang,” pungkas Sani.