Sengkarut Exporia FIB 2022

Dok. Hayamwuruk/Ningrum

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (BEM FIB Undip) menggelar Exporia 2022 bertema Find Your Potential and the Universe is Yours pada Sabtu-Minggu, 3-4 September 2022 di Gedung Serba Guna (GSG) dan Crop Circle FIB Undip.

Exporia merupakan ajang untuk mempromosikan organisasi mahasiswa (ormawa) dan unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang ada di FIB. Berbeda dengan konsep Exporia luring pada 2019 lalu, kini Exporia diadakan selama dua hari dengan pembagian penampilan sejumlah ormawa dan UKM di hari yang berbeda. Stan masing-masing ormawa dan UKM pun disesuaikan dengan hari di mana mereka dijadwalkan tampil.

Stan-stan ormawa dan UKM tampak disediakan ala kadarnya dengan satu meja dan dua kursi tanpa atap. Dhevan Triarya Fadillah, ketua panitia Exporia 2022 mengatakan, hal tersebut akibat persiapan yang terlalu mepet dan kurangnya dana.

“Nah, kalau mau pakai stan kayak dulu (2019) ternyata setelah dihitung lagi itu makan banyak uang, banyak banget, gitu. Kita juga danusannya gak kenceng dan kita [saat] itu masih online jadinya cuman mengandalkan paid promote gitu, sih, sama iuran panitia,” jelas Dhevan.

Terkait mepetnya persiapan, Dhevan mengaku sulit mendapatkan panitia yang bersedia akibat banyak anggota BEM FIB yang lebih dulu ada dalam kepanitiaan acara pentas seni tahunan mereka—Mahakarya. “Jadi, kalau dulu (2021), tuh, kita emang narik-narikin orang. Tapi, tuh, kalo tahun lalu semuanya rata-rata, ya, bersedia. Kalo yang sekarang itu rata-rata pada kayak ga bisa kalo misalnya double job,” terang Dhevan.

Soal pembagian stan ormawa di hari yang berbeda, Dhevan juga mengatakan hal tersebut akibat kelangkaan meja di FIB Undip yang dapat digunakan untuk Exporia 2022.

“Kita itu pake meja di sini. Kemarin juga kita, tuh, kayak mikir, ‘Ini, tuh, FIB masa ngga punya meja, gitu?’ Kita, tuh, bener-bener sampe nyari ke kantin-kantin apa segala gitu karena kita, kan, kuliah make bangku barengan sama meja gitu, jadinya kita bener-bener make yang udah ngga kepake sama masing-masing prodi (program studi),” terang Dhevan.

Pada praktiknya, sejumlah ormawa dan UKM mengeluhkan penempatan stan, salah satunya Kharisma. “Karena memang kami mayoritas adalah perempuan, dan ternyata kami ditempatkan di tempat yang kebetulan ngga ada pohonnya. Jadi temen-temenku yang lain mengeluh soal stan yang panas,” ujar Nabilah, perwakilan Kharisma.

Di desain awal, lanjut Nabila, stan Kharisma semula ditempatkan di bagian teduh Crop Circle FIB seperti stan ormawa dan UKM lain, “Kalo ngga salah stan dipindah karena tempat stan yang seharusnya mau dipake [justru] untuk parkiran dosen,” katanya.

Sekitar pukul 09.00 WIB, GSG FIB mendadak mati listrik dan baru dapat kembali beroperasi normal sekitar pukul 13.00 WIB. Menurut Dhevan, hal tersebut akibat kapasitas listrik GSG FIB yang tidak memadai.

“Karena di bawah (gedung C FIB Undip) itu ada Orenji acaranya Himawari (Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang), PKU (Pekan Kesejarahan Undip) acaranya HM (Himpunan Mahasiswa) Sejarah, dan LibFest acaranya Ilmu Perpustakaan,” katanya.

Padahal, tutur Dhevan, pihak Exporia telah melakukan sosialisasi tanggal 12 Juli 2022 secara daring kepada ormawa-ormawa di FIB. “Itu dari jauh-jauh hari, dari jauh banget kita udah bilang, ‘kan, dua bulan sebelumnya malah kita udah bilang. Nah, aku pun ga ngerti gimana bisa mereka bikin juga acara di bawah mungkin mereka yang cuek atau ngga tau,” keluhnya.

Menanggapi hal tersebut, menurut Hawari Jaelani selaku ketua pelaksana PKU, pihaknya tidak begitu mendapat informasi yang jelas terkait pelaksanaan Exporia 2022. “Aku sama wakilku baru tau kalau Exporia itu tanggal 3-4 September bukan dari pihak Exporia tapi dari pihak ketiga, dan itu soal peminjaman gedung GSG bukan soal tanggal,” terangnya kepada Hayamwuruk via WhatsApp (5/9/22).

Namun, menurutnya walaupun sejumlah acara dilaksanakan bersamaan, seharusnya FIB telah siap dengan hal tersebut. “Menurutku pernyataan sosialisasi yang sudah disampaikan [panitia Exporia 2022] bukan poin utama yang perlu disampaikan dalam masalah kemarin, tetapi soal persiapan GSG menghadapi ruang ekspresi para mahasiswanya,” ujarnya.

Fair aja menurutku acara Exporia, LibFest, PKU, atau Orenji diadakan bersamaan karena mereka punya target pasar acara masing-masing,” tambahnya.

Pernyataan tersebut juga didukung Alrifqi Dirgantara Ilmi, wakil ketua pelaksana PKU, yang mengatakan akar masalah justru terletak pada kebijakan FIB Undip. “Sebenernya Exporia ga salah, kita ga salah, mungkin yang bisa kita salahkan, ya, si yang memberikan kebijakan untuk kita boleh di GSG, sih,” ujarnya via WhatsApp (5/9/22).

Menurutnya, seharusnya pihak FIB tidak mengizinkan sejumlah acara dilaksanakan serentak dan berdekatan jika memang kapasitas kurang memadai.

“Kalo memang acara Exporia udah masuk, acara-acara yang lain itu mungkin dipindahkan ke gedung-gedung yang lain. Cuma, ‘kan, mungkin SOP (standar operasional prosedur)-nya itu kalo kegiatan mahasiswa bisa ditaro di GSG segala macem, ya, tapi aku liat di surat disposisi itu ngga hanya GSG aja, kok, beberapa kelas masih bisa dipake,” jelasnya.

Exporia hari pertama yang semula dijadwalkan selesai pada 15.10 WIB pun berakhir sekitar pukul 16.00 WIB dengan meniadakan sesi tanya-jawab saat pemaparan ormawa maupun UKM. Namun, di hari kedua (4/9/22) Exporia berjalan sesuai rencana. “Ngga ada kendala, sih,” tutup Dhevan.

Reporter: Umma, Lina, Rilanda
Penulis: Lina
Editor: Rilanda

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top