Bazar Ramadan Tembalang Dongkrak Penjualan UMKM Lokal

Dok. Hayamwuruk/Aisyah

Penulis: Syipolo

Reporter: Syipolo, Raihana, Maruf

Editor: Titin

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Kelurahan Tembalang menggelar Bazar Ramadan di Muladi Dome Universitas Diponegoro (Undip) yang berlangsung 19 Februari hingga 14 Maret 2026. Kegiatan ini digagas sebagai upaya menyediakan tempat berjualan bagi pedagang Car Free Day (CFD) yang terhenti selama bulan Ramadan.

Ketua panitia Bazar Ramadan UMKM Kelurahan Tembalang, Eko Sakti, menjelaskan bahwa bazar ini merupakan bagian dari program kerja lembaga UMKM tahun ini.

“Kalau UMKM Kelurahan Tembalang sebenarnya program kerjanya ada tiga, (yaitu -red) pendataan (pengusaha UMKM -red)), optimalisasi website UMKM, dan pasar. Kebetulan yang pasar ini kita garap dulu lewat bazar Ramadan,” ujarnya pada 23 Februari 2026.

Bazar tersebut melibatkan cukup banyak pelaku usaha. Panitia membagi area menjadi tiga zona dengan total lebih dari 170 lapak.

“Zona A ukuran 2×2 ada 142, zona B 3×3 ada 23, dan zona C untuk non-kuliner ada 9,” kata Eko.

Menurutnya, penyelenggaraan bazar ini berawal dari kebutuhan pedagang yang kehilangan tempat berjualan ketika CFD tidak berlangsung selama Ramadan.

“Kalau CFD berhenti, otomatis mereka nggak punya tempat jualan. Jadi, kita sediakan tempat supaya mereka tetap bisa berjualan selama bulan puasa,” jelasnya.

Bagi pedagang, bazar ini terbukti mampu meningkatkan penjualan. Septian, mahasiswa aktif Undip yang membuka usaha cireng kuah, mengaku omzetnya meningkat signifikan selama Ramadan.

“Selama Ramadan meningkat, terutama di sini rame banget. Mungkin ada tiga kali lipat dari biasanya,” kata Septian.

Ia juga menambah tenaga kerja untuk membantu operasional lapak karena ramainya pembeli. Meski penjualan meningkat, beberapa pedagang tetap menghadapi tantangan kenaikan harga bahan baku. Septian menyebut kenaikan tersebut masih relatif kecil.

“Kayak minyak sama tepung ada kenaikan, tapi nggak signifikan. Mungkin sekitar dua sampai tiga persen,” jelasnya.

Hal berbeda dirasakan Arif, pedagang tahu aci yang mengandalkan cabai sebagai bahan utama.

“Cabai sekarang lebih mahal. Kalau saya kan digejrot, bahan bakunya utamanya cabai,” katanya. Meski begitu, ia memilih mempertahankan harga jual demi menjaga pelanggan.

Para pedagang berharap penyelenggaraan bazar ini terus dilanjutkan di tahun-tahun berikutnya. Selain membantu meningkatkan pendapatan selama Ramadan, bazar juga menjadi titik temu antara pedagang dan konsumen dalam suasana yang lebih ramai.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top