
Anthropology Research Expedition (ARE), sebuah komunitas di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) yang fokus pada penelitian dan riset kebudayaan, sukses menggelar pameran dan skrining film yang bertajuk “AREchieve: Preserving Culture for Future Generation”.
Acara tersebut digelar selama dua hari, Rabu (06/11/24) dan Kamis (07/11/2024) di Gedung Serba Guna (GSG) FIB, Undip. Pada hari pertama, acara dibuka dengan gelar pameran yang menampilkan luaran hasil riset dari komunitas ARE.
Sementara pada hari kedua, acara dilanjutkan dengan gelar pameran serta skrining film (kegiatan menonton dan bedah film) berjudul Yadnya Karo yang merupakan luaran etnovideo dari ekspedisi Tengger.
Sesi skrining film diawali dengan pemutaran film Yadnya Karo, lalu dilanjutkan dengan diskusi bersama pembicara yang terjun langsung dalam proses riset Tengger.
Terkait luaran apa saja yang dipamerkan dalam acara AREchieve, Koordinator acara pameran, Andi Muhammad Affan Nugraha, merincikan ada enam hasil ekspedisi ARE yang dipamerkan.
“Untuk pamerannya sendiri dimulai dari (ekspedisi) Sumba, kedua Tembalang, ketiga itu Dieng, keempat Kalimantan, kelima Boyolali, keenam itu Tengger. Untuk yang dipamerkan itu berupa foto dan juga ada beberapa bagian-bagian (menggambarkan, -red) kalau itu benda-benda peninggalan kebudayaan,” ujar Affan.
Ekspedisi Tengger dipilih pada skrining film ini karena menjadi ekspedisi terbaru yang dilakukan oleh komunitas ARE pada tahun 2023.
“Kenapa ditayangkan (ekspedisi) Tengger karena itu pertama Tengger merupakan ekspedisi terakhir yang dilakukan, gitu. Bukan terakhir, mungkin lebih terbaru lah, terbaru dilakukan gitu di tahun lalu dan alhamdulillah sekarang udah selesai etnovideonya. Mungkin kita ingin menunjukkan output-nya tuh ada berupa video dan juga ada beberapa pameran-pameran dan bahkan ada tulisan skripsi, gitu,” jelas Affan.
Affan juga mengungkapkan bahwa acara ini digelar tidak hanya mengenalkan keragaman budaya yang ada di Indonesia, tetapi juga ingin memotivasi (khususnya) mahasiswa program studi (Prodi) Antropologi Sosial untuk turun langsung ke lapangan.
“Tujuannya yang pertama, untuk memperkenalkan bahwa (komunitas) ARE melakukan ekspedisi-ekspedisi di Jawa maupun luar Jawa. Yang kedua, ingin memberikan pengalaman bahwa Indonesia cukup beragam dalam segi budaya dan berbagai hal dalam masyarakat. Yang ketiga, mungkin juga memotivasi anak (mahasiswa) Antropologi Sosial untuk mempraktikkan keilmuan yang sudah diserap dari bangku perkuliahan.”
Acara AREchieve yang merupakan hasil luaran dari ekspedisi komunitas ARE juga mendapat atensi tersendiri khususnya bagi para penggemar isu kebudayaan lokal.
Dari pengakuan Affan, pada hari pertama pameran berhasil “mencuri” perhatian enam sampai tujuh puluh pengunjung. Sementara untuk hari kedua yang juga diisi dengan skrining film, dihadiri sekitar 120-an peserta atau dua kali lipat jumlah pengunjung pada hari pertama.
Salah seorang pengunjung, Pilar Bayu Sakti, mengaku senang dengan adanya acara pameran dan skrining film yang digelar oleh komunitas ARE. Ia juga mengungkapkan manfaat yang bisa diperoleh dari acara tersebut.
“Aku sebagai anak Antropologi jadi punya gambaran ekspedisi antropologi itu kayak gimana dan hasil-hasil output-nya itu kayak gimana, sih. Meskipun itu film, bisa jadi sarana edukasi, mungkin bisa juga digunakan oleh pihak luar untuk mengerti kultur di daerah tersebut kayak gimana,” ujar Pilar kepada tim Hayamwuruk.
Respons positif juga diberikan oleh, Fauzie R. Fernanda, salah satu pembicara pada sesi bedah film Yadnya Karo. Fauzie merasa senang khususnya luaran berupa etnovideo. Ia juga berharap etnovideo terus menjadi luaran dari ekspedisi yang dilakukan oleh komunitas ARE.
“Saya senang melihat karya ARE, terutama tadi yang sudah disaksikan etnovideo. Berupa etnovideo itu menurut saya sebuah karya yang bagus, dan harapannya itu kedepannya setiap kali ada ekspedisi-ekspedisi akan terus dilakukan dibuat output seperti itu (etnovideo-red),” ungkapnya.
Tak hanya berharap terkait luaran hasil ekspedisi dari ARE, Fauzie juga berharap kegiatan pengenalan luaran dari ekspedisi yang dilakukan oleh ARE tidak hanya digelar di lingkungan kampus, tetapi juga di ruang publik sehingga mampu menjangkau masyarakat umum.
“ARE ini enggak hanya pameran di GSG aja, tapi juga bisa mengekspansi di tempat-tempat lain, mungkin kayak di Kota Semarang di Taman Indonesia Kaya. Pokoknya di ruang terbuka yang itu fokusnya ke kebudayaan karena menurutku di Taman Indonesia Kaya itu kan jadi sebuah sarana buat orang-orang berfokus pada kebudayaan,” pungkasnya.
Reporter : Icy, Lia (magang), Afis (magang)
Penulis : Fajri
Editor : Amel