
Reporter: Titin, Lia, Polo, Iyock, Alim, Rana, Deajeng, Sania, Indira.
Penulis: Indira
Editor: Titin
Ratusan mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) menggelar aksi demonstrasi bertajuk “Peringatan Darurat, Indonesia Sekarat, Rakyat Menggugat” di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Tengah, Semarang, pada Jum’at (12/6/2026). Aksi ini digerakkan oleh mahasiswa Undip sebagai bentuk protes terhadap kondisi ekonomi nasional yang memburuk serta berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.
Aksi dimulai pukul 15.30 WIB dengan penyampaian orasi secara bergantian di depan gerbang utama. Aksi sempat memanas ketika sejumlah mahasiswa memanjat gerbang gedung DPRD sebagai bentuk desakan agar pihak legislatif dan eksekutif menemui massa aksi secara langsung. Meski situasi sempat menegang, koordinasi di lapangan tetap terjaga sehingga aksi kembali berjalan kondusif.
Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan sepuluh poin tuntutan, di antaranya sebagai berikut.
- Evaluasi proyek Makan Bergizi Gratis (MBG) dan turunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk subsidi harga BBM dalam sementara waktu,
- Reformasi Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri),
- Perkuat nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar dalam jangka waktu 7×24 jam,
- Turunkan harga obat-obatan,
- Segerakan audit dan keluarkan Dana Danantara,
- Kembalikan hak-hak tanah petani dan hapuskan Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk kesejahteraan nelayan,
- Pemangkasan tunjangan pejabat sebesar 20%,
- Hentikan program MBG dan koperasi desa merah putih,
- Realisasikan 19 juta lapangan pekerjaan, dan
- Tarik mundur aparat yang berada di proyek PSN.
Nur Majid, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undip 2026, yang hadir dalam aksi tersebut, menyoroti krisis ekonomi yang terjadi saat ini. Menurutnya, utang negara yang tinggi telah membatasi kemampuan pemerintah untuk memberikan subsidi yang layak bagi masyarakat.
“80%-90% kacau balau, karena balik lagi surat utang kita, utang kita itu sudah tinggi sekali, ya. Bukan cuma ke luar negeri, tapi juga ke dalam negeri sehingga tidak bisa menutup subsidi terhadap BBM,” ujar Majid.
Dampak kebijakan tersebut dirasakan langsung oleh Benedito, salah satu demonstran yang mengungkapkan bahwa kenaikan harga BBM memicu kenaikan harga di sektor kebutuhan pokok lain yang memberatkan masyarakat.
“Jelas lebih berat. Pasti sangat mempengaruhi, apapun itu. Karena dengan naiknya harga, itu semua hal, semua faktor, semua sektor pasti akan naik juga. Pasti akan terasa ke masyarakat hari ini. Politiknya memang sangat kencang,” ungkap Benedito.
Sementara itu, Michelle, salah satu massa aksi yang turut turun ke jalan, menggarisbawahi tantangan akses bersuara bagi mahasiswa di Semarang yang dinilainya kian menyempit. Menurutnya, pembungkaman aspirasi kini dilakukan dengan cara-cara yang sistematis.
“Dari yang aku lihat sih, kita sebagai mahasiswa harus diberikan ranah bersuara yang lebih open, dimana menurutku sebagai mahasiswa yang ada di Semarang ranah bersuara kita masih kurang, kesadaran kita masih kurang, bahkan pembungkaman itu secara tipis-tipis masih ada dengan hal-hal sesimpel seperti poster-poster propaganda, poster-poster informasi yang diturunkan, yang dibuang seperti itu,” ujar Michelle.