
Epostika Kelana menggelar Epostika Tutur berupa Seminar Nasional Ekonomi dan Layar Epostika pada Jumat (28/08/2026) di Gedung Art Center Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip). Kegiatan ini berfokus pada pengembangan Ekonomi Kreatif (Ekraf) berbasis potensi lokal dengan mengangkat kisah Sigur.id, UMKM asal Desa Branjang, Kabupaten Semarang, yang mengolah limbah kayu menjadi produk kreatif berbahan epoxy resin.
Rangkaian acara Epostika Kelana berlangsung selama tiga hari, yakni 26–28 Agustus 2026. Selain Epostika Tutur, kegiatan tersebut menghadirkan Epostika Rakit berupa workshop pembuatan kerajinan resin art bersama Sigur.id dan Epostika Bhasya berupa bedah karya Sigur.id.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dan mahasiswa terhadap potensi ekonomi ekokultural di sekitar mereka. Program tersebut didanai melalui Pendanaan Indonesia Raya dari Kementerian Kebudayaan dan digagas melalui kolaborasi tim mahasiswa bersama dosen pembimbing, Muhammad Hamdan Mukafi, S.S., M.A.
Wakil Ketua Pelaksana Epostika Kelana, Khoridatun Nayyiroh (Sastra Indonesia 2023), menjelaskan bahwa Sigur.id dipilih sebagai mitra karena mampu mengolah limbah kayu menjadi produk estetis yang bernilai ekonomi hingga menembus pasar mancanegara, meski keberadaannya belum banyak disadari masyarakat Semarang.
”Melalui Epostika Kelana, kami ingin meng-highlight bahwa di balik pemanfaatan limbah kayu Desa Branjang, ada narasi ekokultural dan filosofi kehidupan yang mendalam pada setiap karyanya,” ujar Khori.
Ia berharap kegiatan ini mampu menjembatani kolaborasi yang lebih luas dengan dinas terkait dan berbagai pemangku kepentingan.
Pemilik Sigur.id, Janu Adhe Saputra, membagikan kisahnya dalam mengolah limbah kayu yang dikombinasikan dengan epoxy resin. Usaha yang berawal dari dampak pandemi ini tak hanya menyisipkan lanskap alam Nusantara dan cerita lokal Desa Branjang pada karyanya, tetapi juga mampu memberdayakan pengrajin serta warga sekitar.
Meski sempat mengalami keraguan dari masyarakat di awal berdiri serta kendala keterbatasan ruang produksi dan tantangan pemasaran digital, kini Sigur.id telah menjangkau pasar Bali, Jogja, hingga menembus pasar internasional.
“Keterbatasan bukan alasan untuk membatasi diri dalam berkreasi. Yang terpenting adalah keberanian untuk memulai,” tegas Janu.
Selain seminar yang menghadirkan Dinas Ekonomi Kreatif Kota Semarang, Layar Epostika menjadi daya tarik melalui pemutaran film dokumenter perjalanan Sigur.id. Alwiah, mahasiswa Sastra Indonesia 2024, menilai tayangan tersebut membuat pembahasan ekonomi kreatif sangat inspiratif.
“Acara ini membuka pandangan saya bahwa potensi lokal tidak hanya sebatas budaya atau tradisi, tetapi bisa diubah menjadi peluang ekonomi jika diolah dengan kreativitas yang tepat,” ujar Alwiah.
Ia juga menilai media sosial dan konten digital penting untuk mendorong generasi muda terlibat dalam pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.
Reporter: Haya, Silvy
Penulis: Silvy
Editor: Titin