Gelar Aksi Merahkan Tugu Muda, Massa Sempat Dicegat Aparat

Dok. Hayamwuruk/Lia

Reporter: Lia & Indira

Penulis: Indira

Editor: Lia

Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Semarang Raya (BEM SERA) menggelar aksi demonstrasi yang terdiri dari berbagai kampus di Semarang pada Rabu (26/8/2026) untuk menyuarakan Panca Tuntutan Rakyat (PANTURA). Aksi ini merupakan lanjutan setelah seruan aksi mereka di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kerap diabaikan. Aksi yang semula direncanakan berpusat di Tugu Muda, Kota Semarang tersebut sempat mengalami gesekan dan pencegatan ketat oleh aparat kepolisian di dua titik strategis, yakni di sekitar DP Mall dan Balai Kota Semarang.

Kendati berhasil masuk ke kawasan Tugu Muda, aksi massa terpaksa berlangsung singkat karena faktor keamanan dan waktu mulai memasuki malam hari. Aliansi akhirnya memutuskan untuk fokus menyampaikan pernyataan sikap secara tegas setelah pergerakan massa tertahan sejak siang hari.

Melalui seruan PANTURA, para mahasiswa menuntut pemerintah untuk segera menurunkan harga bahan pokok dan Bahan Bakar Minyak (BBM), mengembalikan fungsi utama Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), mengevaluasi total program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta menghentikan program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), mengembalikan kepemilikan tanah kepada rakyat sekaligus merevitalisasi wilayah terdampak bencana, serta menghentikan segala praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) di lingkungan pemerintahan.

Anggota tim negosiator aksi, Nur Maajid Taufiqurrahman, mengungkapkan bahwa pihaknya sejak awal telah mengantisipasi adanya upaya penghadangan dari aparat kepolisian. Meski begitu, massa tetap melanjutkan rute menuju Tugu Muda sebagai titik awal aksi demi menyuarakan aspirasi rakyat.

“Ya, sebenarnya memang aksi kami itu harusnya di Tugu Muda. Tapi karena tadi dapat pencegatan, sebenarnya itu sudah kita baca dari awal bahwa pasti akan ada pencegatan. Maka dari itu, kami tidak mau untuk aksi di tempat yang tidak sebenarnya. Makanya kami menerobos untuk masuk ke Tugu Muda,” ujar Maajid.

Maajid juga menjelaskan alasan kuat Tugu Muda dipilih sebagai titik pusat demonstrasi daripada gedung DPRD yang selama ini kerap menjadi jujukan aksi karena DPRD dinilai sudah kehilangan fungsi representatif dan tidak pernah membuahkan hasil konkrit atas tuntutan rakyat.

“Di DPRD, kita sudah sering kali aksi. Tapi pertanyaannya, apakah didengarkan atau tidak? Bahkan, tanggal 24, teman-teman Undip melaksanakan aksi di DPRD dan hanya ditemui satu perwakilan tanpa buah hasil apa pun atas tuntutan kami. Makanya, kami merasa Tugu Muda adalah tempat untuk menggalang kekuatan lebih banyak dari masyarakat,” tegasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top