
Aksi Kamisan Semarang kembali digelar di depan Kantor Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah (Jateng), Kamis (3/9/2026). Mengangkat tema “September Hitam” sebagai momentum untuk mengingat kembali berbagai kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), aksi ini dihadiri oleh ratusan massa.
Rizieq dari Aksi Kamisan Semarang mengatakan, tema September Hitam diangkat untuk menjaga ingatan terhadap berbagai pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia.
“Aksi kamisan kali ini kita coba mengangkat tema September Hitam, di mana kita tahu sejarah di bulan September ini banyak sekali pelanggaran-pelanggaran HAM yang dilakukan oleh negara. Jadi, kita coba untuk menjaga ingatan, melawan lupa,” tutur Rizieq.
Alasan Polda Jawa Tengah dipilih sebagai lokasi aksi berkaitan dengan tuntutan massa terhadap aparat kepolisian.
Rizieq mengatakan, pelanggaran HAM dalam beberapa tahun terakhir juga kerap melibatkan kepolisian sehingga desakan penuntasan kasus disampaikan langsung di hadapan institusi tersebut.
“Jadi, aksi kamisan kali ini kita di depan Polda karena seperti yang kita ketahui bahwa pelanggaran-pelanggaran HAM itu seringkali dilakukan oleh aparat kepolisian,” ujarnya.
Aksi tersebut diisi dengan sejumlah kegiatan, mulai dari orasi, teatrikal, musikalisasi puisi, hingga tabur bunga. Teatrikal yang dilakukan massa menunjukkan reka adegan kematian Iko Juliant Junior, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang meninggal setelah aksi demonstrasi pada 31 Agustus 2025. Kematian Iko menjadi sorotan karena terdapat sejumlah kejanggalan dalam kronologi penyebab kematiannya. Sementara itu, tabur bunga dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap korban pelanggaran HAM lainnya.
Rizieq berharap berbagai kasus pelanggaran HAM di Indonesia dapat segera diselesaikan dan impunitas dihapuskan. Ia menegaskan bahwa negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan keamanan warga negara.
“Negara harus menjamin bagaimana warga negaranya menjadi aman,” tegasnya.
Di tengah aksi, isu lingkungan juga turut disuarakan, salah satunya mengenai rencana pembangunan geotermal di Gunung Ungaran.
Lidwina, mahasiswa Unnes mengatakan, isu tersebut menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian karena berpotensi berdampak terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.
“Kalau teman-teman tahu akhir-akhir ini ada proyek geotermal di Ungaran. Itu kan dekat sekali dengan Semarang. Kalau kita melihat kasus-kasus geotermal yang ada di daerah-daerah lain, itu tentunya berdampak, ya. Mulai dari gas buangnya, lalu warga-warganya, dan mata air. Bahkan, bisa terdampak ke kita yang ada di bawah,” ujarnya.
Lidwina menilai pengawalan terhadap isu tersebut perlu dilakukan dengan membangun jejaring antarkelompok. Menurutnya, jejaring dapat menjadi ruang untuk berdiskusi dan berbagi informasi mengenai berbagai isu yang berkembang di Semarang dan Jawa Tengah.
“Mungkin berjejaring, bisa tetap berisik, lah, ibaratnya. Tetap kita mau buat diskusi, tetap sharing isu-isu yang ada,“ tegas Lidwina.
Reporter: Sania, Lia, Arya
Penulis: Sania
Editor: Lia