
Penulis: Lia
Editor: Arya
Teater Emper Kampus (Emka) menggelar pentas Laboratorium Naskah (Labnas) 2026 bertajuk Siur Semai pada Sabtu (22/08/2026) di Gedung Serbaguna (GSG) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip). Pentas ini digelar sebagai bentuk unjuk keahlian sekaligus memperkenalkan generasi baru Teater Emka kepada publik.
Pada Labnas tahun ini, Teater Emka menyuguhkan tema ekologis serta konflik sosial yang erat kaitannya dengan masyarakat sekitar. Tema tersebut menjadi payung besar Teater Emka untuk menggelar pentas-pentas lain pada tahun ini.
Nurul Athiyah Hilmi selaku sutradara menyampaikan, tujuannya mengangkat isu penjualan lahan di sebuah desa adalah untuk menyebarkan kesadaran bagi penonton bahwa seseorang dapat dimanfaatkan oleh individu lain demi keuntungan pribadi.
“Topik penjualan lahan itu menurutku suatu hal yang menarik. Aku mikirnya saat manusia dan alam itu disamakan menjadi suatu komoditas, hal itu dimanfaatkan untuk keuntungan, bukan sebagai identitas aslinya dan itu sangat ironis bukan? Saat mereka bisa dihabisi, bisa dimanfaatkan sebanyak-banyaknya tanpa bisa melawan, tanpa bisa mengeluh,” ungkapnya.
Berkolaborasi dengan Wadah Musik Sastra (WMS), Labnas kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya dengan ide film segar yang mengemas pertunjukan dalam balutan drama musikal. Hal ini juga merupakan pementasan drama musikal pertama yang disuguhkan Teater Emka.
Drama musikal ini, kata Nurul, merupakan bentuk eksperimen Teater Emka.
“Saat jadi aktor sejak tahun lalu, aku sudah berpikir, kok enggak pernah ada pentas musikal ya? Terus aku mikir ini menarik. Saat aku jadi sutradara coba aku realisasikan. Bukannya Labnas itu untuk ajang eksperimen, laboratorium. Lalu siapa yang bereksperimen? Apa cuma anak-anak magang? Apa aku juga boleh bereksperimen? Lalu sebenarnya aku memasukkan saja drama musikal ini ke dalam pentas,” jelasnya.
Nurul juga mengungkapkan kendalanya dalam mempersiapkan pentas ini, yakni kurangnya perhatian pada musikalisasi karena dirinya yang terbiasa dengan keaktoran.
“Aku itu karena biasanya menjadi aktor, aku selalu fokus ke keaktoran, sedangkan aku melupakan elemen penting dari musikal itu sendiri yaitu penyanyi dan juga koreo,” tuturnya.
Sementara itu, Federina Hutri Sirait, mahasiswa Sastra Inggris angkatan 2025 selaku penonton menyampaikan kendala yang dihadapi selama menonton pentas, yakni tantangan bahasa Jawa yang digunakan dalam dialog.
“Aku kan angkatan 25 baru satu tahun di sini, jadi menyesuaikan bahasa juga aku masih kurang bagus. Aku juga tetap belajar, tapi masih kurang (paham, -red) gitu. At some point aku kurang paham, kadang kayak ini ngomong apa, ya, kok orang ketawa, tapi aku nggak paham,” ungkap Federina.
Federina juga ikut menambahkan, lagu yang dibawakan oleh WMS seperti kurang koordinasi sehingga terdengar ada kunci nada yang salah.
Meski begitu, Federina mengaku kagum terhadap keseluruhan pementasan.