BONGPAY TERTUA BERUSIA TIGA ABAD JADI KOLEKSI PERTAMA MUSEUM BONGPAY

 

Dok. Agus Boedi Santoso

Gagasan pembentukan Museum Bongpay yang sebelumnya muncul dalam diseminasi riset Monumen Ingatan akhirnya terealisasi. Museum yang berada di Mount Carmel, Ungaran, tersebut resmi dibuka pada Sabtu (5/9/2026). Peresmian museum ditandai dengan peletakan sebuah bongpay berusia sekitar tiga abad oleh Philipus Dellian Agus Raharjo bersama Komunitas Boen Hian Tong.

Museum Bongpay tersebut berupa taman berbentuk oktagon yang dikelilingi patung-patung prajurit. Di bagian tengahnya terdapat patung seorang jenderal dengan konsep yang menyerupai Pasukan Terakota. Museum ini dirancang untuk menampung hingga 64 bongpay yang akan dipilih dan dikumpulkan secara bertahap. Saat ini, museum baru memiliki satu koleksi, yakni bongpay tertua yang menjadi penanda peresmiannya.

Bongpay tersebut merupakan temuan Philipus Dellian Agus Raharjo yang kerap disapa Pipo bersama Bram Luksa pada 2023. Setelah ditemukan, bongpay tersebut dibawa ke Komunitas Boen Hian Tong dan disimpan di Gedung Rasa Dharma selama kurang lebih 2,5 tahun.

Dalam kurun waktu tersebut, Harjanto Halim, ketua Komunitas Boen Hian Tong mengusulkan pembentukan Museum Bongpay. Gagasan tersebut kemudian mendapat respons dari Steven Foeng, anggota tim manajemen Mount Carmel, Ungaran, yang menyediakan lokasi untuk museum.

“Dilatarbelakangi oleh bongpay yang membutuhkan tempat layak dan kebetulan dari pihak Mount Carmel berinisiatif untuk membuatkan Museum Bongpay untuk mengakomodasi semua bongpay kuno yang tidak terawat, tidak memiliki pemilik, dan tentunya bernilai sejarah,” jelas Indriani Hadi Sumarto yang kerap disapa Lingling, pengurus sekretariat Boen Hian Tong.

Salah satu hal yang menarik dalam peresmian museum tersebut adalah ritual penghormatan kepada leluhur melalui pemberian persembahan berupa makanan dan uang kertas. Makanan yang disajikan pun beragam. Namun, masyarakat Tionghoa di Semarang memiliki tiga hidangan utama dalam persembahan, yakni ayam, babi chin, dan chin obung atau ayam rebung.

Wakil Ketua V Rasa Dharma, Andi Kurniawan, menjelaskan bahwa praktik penghormatan leluhur dalam pembukaan Museum Bongpay dilakukan karena bertepatan dengan tradisi masyarakat Tionghoa pada bulan ketujuh kalender lunar. Pada bulan tersebut, masyarakat Tionghoa umumnya melakukan ritual penghormatan kepada leluhur.

Andi mengatakan peletakan bongpay Yan-Guan yang dilakukan pada bulan ketujuh tersebut juga menjadi momentum untuk mendoakan leluhur yang tidak lagi memiliki keturunan atau tidak mendapatkan doa dari anak cucunya.

“Kebetulan di bulan ketujuh ini peletakan bongpay Yan-Guan dilakukan. Kami juga ingin mendoakan leluhur yang tidak didoakan oleh anak-cucu keturunannya. Jadi bukan menganggap mereka masih hidup, hanya salah satu bentuk sajian penghormatan saja,” ujarnya.

Peresmian Museum Bongpay diharapkan tidak hanya menjadi upaya pelestarian benda bersejarah, tetapi juga membuka kembali pemahaman masyarakat terhadap jejak sejarah Kota Semarang yang belum banyak terungkap.

“Harapannya jelas memperkaya wawasan bahwa Kota Semarang punya sejarah luar biasa yang belum terungkap. Sejarah adalah proses hidup manusia dan semoga dengan museum ini orang semakin menghargai proses hidup dengan lebih baik,” harap Andi.

Museum Bongpay di Mount Carmel, Ungaran, kini dibuka untuk umum setiap hari. Masyarakat yang ingin melihat koleksi dan mempelajari sejarah bongpay dapat berkunjung secara langsung ke museum tersebut.

 

Reporter: Deajeng, Lidia
Penulis: Deajeng
Editor: Titin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top