
Reporter: Dila, Najwa, Silvy
Penulis: Silvy
Editor: Syipolo
Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) menggelar pagelaran ketoprak berjudul Joko Kendil dalam rangka Dies Natalis ke-61 pada Jumat (16/10/2026) di Gedung Serba Guna (GSG) FIB Undip. Pagelaran ini melibatkan jajaran pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa dan dihadiri sekitar 200 orang
Pimpinan produksi sekaligus pemain ketoprak, Laura Andri Retno Martini, menyatakan pagelaran ini merupakan upaya mengenalkan dan merawat kesenian tradisional.
Laura menjelaskan bahwa lakon Joko Kendil dipilih agar pertunjukan lebih mudah dipahami mahasiswa. Sejumlah mahasiswa sebelumnya mengaku kesulitan memahami alur cerita dan bahasa yang digunakan dalam lakon berlatar sejarah, seperti Diponegoro Unggul ing Jurit
“Dari situ, kami mencoba mengemas pementasan dengan cerita yang sudah dikenal sebelumnya atau yang alurnya bisa dibayangkan oleh mahasiswa,” ujar Laura.
Menurutnya, lakon Joko Kendil tidak hanya menghibur penonton, tetapi juga menyampaikan pesan moral tentang kejujuran, kepercayaan diri, dan pentingnya menghargai orang lain tanpa memandang penampilan fisik. Pesan tersebut diharapkan dapat menjadi pengingat bagi mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari.
Laura juga mengungkapkan bahwa gagasan awal pementasan muncul dari kegelisahan terhadap minimnya kegiatan kebudayaan di lingkungan fakultas. Kegiatan tersebut mendapat dukungan fakultas dan sejak 2024 didanai sepenuhnya oleh FIB Undip
“Sebagai bentuk komitmen fakultas untuk nguri-uri kebudayaan, mengonservasi kebudayaan dan kesenian daerah, khususnya ketoprak, serta mengenalkannya kepada mahasiswa,” jelasnya.
Ketua Program Studi S1 Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro sekaligus pemain ketoprak, Sukarjo Waluyo, menilai antusiasme penonton menunjukkan bahwa kesenian tradisional masih diminati dan dirindukan khususnya oleh warga FIB Undip. Hal ini terlihat dari gedung pertunjukan yang dipenuhi penonton hingga sebagian tidak mendapat tempat duduk.
Menurutnya, ketoprak tidak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan moral yang relevan dengan kehidupan masyarakat.
“Ketoprak itu kan tidak sekadar hiburan, tetapi juga memberikan nilai-nilai yang sesuai dengan zamannya,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu penonton dari mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2024, Faiza, mengaku awalnya menonton ketoprak karena tugas dosen. Namun, setelah menyaksikan pagelaran tahun sebelumnya, ia merasa ketoprak sangat menarik dan menilai kesenian tradisional perlu mendapat lebih banyak ruang di lingkungan kampus. Ia juga menyoroti pentingnya penyebaran informasi agar ketoprak lebih dikenal mahasiswa, termasuk di luar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro.
“Masih menjadi tanda tanya, apakah mahasiswa benar-benar datang karena ingin menonton atau karena tugas dari dosen. Harapannya, mereka tidak hanya datang untuk memenuhi tugas, tetapi juga karena tertarik menonton dan mengenal ketoprak,” ungkap Faiza.
Laura menyadari bahwa pementasan ketoprak setiap tahun berpotensi menimbulkan kejenuhan. Oleh karena itu, ia membuka kemungkinan menghadirkan kesenian tradisional lain agar pelestarian budaya tetap berlanjut. Ia berharap kegiatan ini dapat mengenalkan tradisi dan nilai-nilai di dalamnya kepada mahasiswa, serta menjangkau lebih banyak orang melalui publikasi di berbagai media.