Merawat Ingatan Rentetan Kasus Pelanggaran HAM, BEM Undip Gelar Acara Memoar Festival 2026

Dok/Syipolo

Penulis: Ilma

Reporter: Ilma, Syipolo, Erinna, Alim, Lia

Editor: Syipolo

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Diponegoro (Undip) menggelar Memoar Festival pada Sabtu (26/09/2026) di Gedung Student Center (SC) Undip. Acara ini digelar sebagai ruang ingatan kolektif atas serangkaian peristiwa pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi di Indonesia.

Mengangkat tema “Merawat Suara yang Dibungkam, Mewarnai Ingatan yang Enggan Padam”, rangkaian acara Memoar Festival diisi dengan berbagai kegiatan, seperti bazar buku, art gallery, bedah film, panggung bebas, diskusi publik dan gigs. Diskusi politik tersebut menghadirkan Maria Caterina Sumarsih dan M. Safali dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang.

Memoar Festival 2026 juga dimaksudkan sebagai ruang bagi mahasiswa untuk dapat terus mengingat berbagai peristiwa pelanggaran HAM di Indonesia. Ketua pelaksana Memoar Festival, Wafda Khoiril Wafa, mengatakan bahwasanya terselenggaranya acara ini diharapkan dapat membuat mahasiswa berpikir kritis terkait adanya pelanggaran HAM di Indonesia. 

“Harapan saya diadakannya acara ini tentu agar mahasiswa lebih bisa terbuka dan dengan adanya pelanggaran-pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia. Kan kita ketahui bahwa di bulan September ini kan banyak terjadi pelanggaran HAM, seperti pada penembakan Semanggi I, Semanggi II, Jambo Keupok, dan juga peristiwa lainnya yang menyangkut HAM. Harapan aku dengan adanya acara ini untuk menjadikan mahasiswa umumnya lebih terbuka dan juga lebih menerima tentang adanya pelanggaran-pelanggaran HAM yang ada di Indonesia,” ujar Wafda.

Beberapa isu HAM yang diangkat di Memoar Festival 2026 mulai dari tragedi Semanggi I, Semanggi II, Tanjung Priok, Penembakan Pendeta Yeremia, hingga penyiraman air keras di Jakarta Pusat yang terhadap Andrie Yunus, Wakil Koordinator KontraS. Panitia menilai rentetan tragedi pelanggaran HAM yang terus terjadi hingga sekarang perlu diketahui dan selalu diingat oleh mahasiswa sebagai bentuk sikap kolektif perjuangan terhadap kasus pelanggaran HAM yang belum mendapatkan keadilan sampai sekarang. 

Sumarsih sendiri dikenal sebagai salah satu keluarga korban tragedi Semanggi I yang sampai saat ini masih memperjuangkan keadilan untuk putranya, yakni Wawan. Sumarsih juga dikenal sebagai salah satu penggagas Aksi Kamisan yang rutin dilaksanakan tiap Kamis di depan Istana Negara yang hingga saat ini sudah dilaksanakan juga di berbagai wilayah Indonesia.

“Ya, karena saya mempunyai harapan sekali lagi, untuk melanjutkan perjuangan Wawan dan kawan-kawannya tahun 1998 itu tidak mudah,” ucap Sumarsih.

Antusiasme juga terlihat dari para peserta yang datang. Karisma Zainabilah, Mahasiswa baru Fakultas Hukum 2026, mengaku dengan mengikuti Memoar Festival 2026 kali ini dapat menjadi pemantik pemikiran tentang bagaimana realita pelanggaran HAM yang terjadi.

“Sebenarnya kita datang ke sini itu supaya menjadi pemantik pemikiran kita terhadap apa sih yang terjadi, terhadap realitanya gimana. Jadi tentu saja aku akan melakukan aksi-aksi selanjutnya ke depan, bahwa ini akan menjadi inspirasi bagi aku,” ungkap Karisma.

Memoar Festival 2026 ditutup dengan panggung bebas yang diisi oleh penampilan gigs dari berbagai kelompok mahasiswa. Penampilan ini menjadi penutup sekaligus bentuk ekspresi seni untuk mengenang rentetan peristiwa pelanggaran HAM yang terjadi dan telah dibahas di diskusi publik sebelumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top