Kastrat HMPS Mendorong Diskusi mengenai Kaitan antara Karhutla dengan Kepentingan Ekonomi dan Bisnis

Dok.Hayamwuruk/Susan

Reporter: Susan, Nisrina, Afis
Penulis: Susan
Editor: Arya

Divisi Kajian dan Aksi Strategis (Kastrat) Himpunan Mahasiswa Program Studi Sejarah (HMPS Sejarah) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) menyelenggarakan diskusi Darah HM pada Kamis, (01/10/2026) terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dengan tajuk “Karhutla: Bencana Keuntungan Bisnis”, diskusi ini ditujukan untuk membuat mahasiswa lebih tersadar akan kaitan karhutla dengan kepentingan ambisius pemerintah dan pengusaha.

“Kita kan mengambil tema karhutla, jadi tujuan saya itu untuk membuka mata masyarakat, mata mahasiswa, dan juga untuk membuka Universitas Diponegoro agar mampu membantu teman-teman kita yang mengalami bencana ini,” ujar Maulana, ketua pelaksana diskusi tersebut.

“Selain membuka mata masyarakat, itu juga sebagai peringatan kepada orang-orang yang tidak bertanggung jawab atas sumber daya alamnya Indonesia.“

Pembicara dalam diskusi kali itu, yakni Ahmad Fauzan Baihaqi, S. Hum., M. Hum., menjelaskan lebih lanjut kaitan antara karhutla dengan kepentingan ekonomi dan bisnis.

“Ada dua bisnis yang bisa membuat Anda bisa sangat kaya di negara ini (red- Indonesia). Satu adalah batu bara, kedua adalah sawit,” ujar Fauzan. Namun, seringkali pengelolaan lahan gambut untuk sawit tersebut tidak memikirkan dampak panjangnya.

“Pengetahuan di kalangan pebisnis kebun sawit itu kalau lahannya terbakar itu bakal lebih subur. Mereka tidak menggunakan tebang pilih karena berpikir itu capek, butuh waktu, butuh biaya. Mereka tidak mau selesaikan dampak kekeringan dan kebakarannya, terutama setelah fenomena El Nino,” terang pembicara yang merupakan dosen Sejarah Undip tersebut.

Selain pola pikir pengusaha, Fauzan juga menyoroti kelambanan pemerintah dalam memitigasi bencana karhutla tersebut.

“Pemerintah memang cukup lambat dengan penanggulangan ini karena sejak awal tidak dimitigasi dengan baik. Namun kita harus menghargai pemerintah yang berusaha memadamkan beberapa titik api di Kalimantan maupun Sumatera.”

Salah satu peserta dari Sejarah 2024 yakni Hanafi, mengaku heran dengan pemerintah yang lamban dalam menanggapi informasi mengenai potensi El Nino.

“Harusnya ketika tahu informasi ini dari 2025, pemerintah sudah menyiapkan mitigasi-mitigasi atau pencegahan untuk kiranya mengurangi dampak dari kebakaran hutan dan lahan, khususnya di Kalimantan dan juga di Sumatera.”

Hanafi juga menambahkan bahwa permasalahan ini adalah sesuatu yang semestinya ditanggapi oleh mahasiswa.

“Teman-teman mahasiswa bisa melakukan diskusi, penyebaran informasi, dan melakukan gerakan-gerakan yang berkolaborasi dengan institusi-institusi lain seperti advokasi, dan lainnya. Ketika ada karhutla mereka (red- Kastrat HMPS) langsung bikin diskusi, itu menurutku udah bagus. Cuma memang penyebaran informasinya harus lebih dimasifkan lagi.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top