A Good Child: Ketika Penerimaan Dihadapkan dengan Stigma

Sumber: IMDb

Penulis: Arya

Editor: Lia

 

Nama: A Good Child

Sutradara: Ong-Kuo-Sin (Wang Guoshen)

Penulis: Ong-Kuo-Sin (Wang Guoshen)

Studio: Clover Films, Byleft Productions, One Tree Holdings

Genre: Drama, 

Durasi: 105 Menit

Negara: Singapura

Tanggal Rilis: 09 Oktober 2025

Jika mendengar kata drag queen, maka yang terpikirkan oleh kita mungkin adalah seorang pria yang berpenampilan layaknya wanita dengan tujuan menghibur audiens. Namun, pernahkah kalian bertanya-tanya seperti apa kehidupan mereka? Apakah mereka berbeda dengan kita dan apakah stigma negatif yang selama ini melekat benar?

Diadaptasi dari kisah nyata drag queen Singapura, Sammi Zhen, film A Good Child (2025) akan membawa kita menilik realitas kehidupan seorang drag queen. Berlatar di Singapura, Jia Hao (Richie Koh) adalah seorang drag queen yang tumbuh di keluarga yang menjunjung standar norma sosial yaitu pria dan wanita harus berpakaian sesuai gendernya, sehingga hubungannya dengan keluarga menjadi renggang. Ia kemudian tiba-tiba dihadapkan dengan situasi yang tak terduga, sang ayah meninggal. Sepeninggal ayahnya, ia dan sang kakak kini harus merawat ibunya yang mengalami demensia. 

Jia Hao kemudian merawat ibunya dengan perhatian dan kasih sayang. Meski begitu, sang ibu tetap menolak Jia Hao ketika berpenampilan sebagai perempuan. Jia Hao yang harus membagi waktunya untuk merawat sang ibu dan bekerja sebagai drag queen menjadi kewalahan. Hingga suatu hari, ia berhasil membuat sang ibu menerima identitasnya dan membuatnya perlahan-lahan sembuh dari demensia. 

Stigma Masyarakat terhadap Drag Queen

Selama ini, stigma masyarakat terhadap drag queen masih negatif. Mereka dianggap melanggar norma sosial karena penampilannya dan dicap memberikan pengaruh buruk. Padahal, faktanya tidak ada yang membedakan mereka dengan manusia lainnya karena sebenarnya drag queen adalah bentuk dari seni pertunjukkan. Meski sebuah seni pertunjukkan, drag queen masih memiliki hubungan erat dengan budaya dan sejarah komunitas Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Queer, Intersex, Asexual+ (LGBTQIA+) walau menjadi drag queen tidak secara otomatis menunjukkan identitas gender atau orientasi seksual tertentu.

Penerimaan terhadap LGBTQIA+ memang masih terbilang minim. Penyebab utamanya adalah karena stigma yang sudah lama mengakar di masyarakat. LGBTQIA+ dipandang sebagai hal buruk yang harus dihindari, padahal pada kenyataannya, baik heterosexual maupun LGBTQIA+ memiliki kehidupan dan hak yang sama sebagai manusia. 

Sumber: Cinema Escapist

Isu LGBTQIA+ masih menjadi hal yang tabu di Singapura meski generasi muda perlahan mulai sadar dan mulai menerimanya. Tak hanya itu, Ong-Kuo-Sin juga memasukkan realitas kehidupan di Singapura yang begitu keras, seperti biaya hidup yang serba mahal. Konflik keluarga juga hadir sebagai elemen penting dalam cerita.

Dengan mengulik kehidupan drag queen di Singapura, A Good Child menawarkan kisah melankolis yang dibalut dengan komedi dan alur yang santai, sehingga membuat penonton dapat memperhatikan setiap detail adegannya. 

Penerimaan Diri dan Keluarga

Penolakan terhadap identitas LGBTQIA+ tidak hanya melukai mereka, tetapi juga kaum hetero itu sendiri. Ju Hua (Hong Huifan), ibu dari Jia Hao adalah contohnya. Ia dibayang-bayangi rasa takut akan suaminya pada saat melihat Jia Hao berpenampilan seperti perempuan. Rasa trauma atas kekerasan yang dilakukan suaminya membuatnya menjadi membenci Jia Hao saat berpenampilan seperti perempuan. Namun, pada pertengahan film, rasa trauma yang dialami Ju Hua mulai menghilang. Hal ini menunjukkan bahwa perlahan ia mulai terbiasa dengan identitas anaknya itu

Bagian menarik dalam film ini adalah saat Jia Hao membawa ibunya ke dalam lingkungan komunitasnya. Komunitas LGBTQIA+ yang sering dicap buruk justru menyambut dengan baik kehadiran Ju Hua. Dari sanalah hadir dukungan dan cinta dari teman-teman Jia Hao dalam menemani Ju Hua melawan demensia yang dialaminya. Perlahan, Ju Hua mulai memperlakukan mereka sebagai manusia biasa, tidak berbeda dari yang lain.

Tak hanya itu, dedikasi Jia Hao dalam menemani ibunya melawan demensia juga menjadi bumbu melankolis bagi penonton. Meski terjadi konflik yang berulang antara ibu dan anak, tetapi sikap pantang menyerah Jia Hao menunjukkan bahwa stigma yang selama ini melekat itu tidak benar karena bagaimanapun juga ia masih menyayangi keluarganya.

Sumber: Cinema Escapist

Bagian yang paling mengguncang emosi adalah bagaimana proses penerimaan identitas Jia Hao yang dilakukan oleh dirinya dan keluarganya. Setiap karakter terlihat memiliki masalah mereka tersendiri dalam menerima identitas tersebut, tetapi pada akhirnya mereka menemukan jalan untuk menerima Jia Hao apa adanya. Karakter Jia Hao sendiri pada awalnya juga terlihat tidak menghargai dirinya sendiri. Akan tetapi, berkat dukungan hangat dari keluarga dan lingkungannya, Jia Hao kini menghargai dan mencintai identitasnya sebagai drag queen. 

Pada akhirnya, tanpa memandang ras, agama, gender, suku maupun orientasi seksual, setiap orang memiliki hak yang sama sebagai manusia. Tidak ada yang membedakan seseorang hanya karena perbedaan orientasi atau gaya berpakaian. Tidak ada kriteria yang harus dipenuhi untuk mencapai standar normal yang selama ini berkembang di masyarakat. Standar tersebut hanya terlahir dari mereka yang menolak adanya perbedaan dalam masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top