
Identitas Karya
Judul : Broken Strings (Idn ver)
Penulis : Aurélie Moeremans
Tahun Terbit : 2025
Halaman : 220 halaman
Media sosial diramaikan dengan perbincangan child grooming pada awal tahun 2026, menyusul terbitnya memoar dari salah seorang aktris Indonesia, Aurélie Moeremans . Situasi semakin memanas setelah muncul klarifikasi dari mantan kekasih aktris tersebut yang merasa dirugikan oleh karya yang sedang menjadi buah bibir di mana-mana. Awalnya, saya tidak menaruh rasa penasaran dan tidak berniat mengikuti isu ini karena menganggapnya hanya permasalahan dunia hiburan biasa. Namun, setelah saya memutuskan untuk membaca memoarnya, banyak kegilaan di luar akal sehat yang dilakukan tokoh antagonis dalam cerita dengan segala cara yang menjijikan.
Luka yang Dipaksa untuk Tidak Dirasa Sakitnya
Memoar ini bersifat nyata, menghadirkan berbagai rasa takut yang tersaji secara kronologis dari si pemilik peristiwa itu sendiri, Aurélie Moeremans. Bagian awal dibuka dengan cerita tentang keluarganya yang berjuang untuk keberlangsungan hidup mereka di salah satu kota di Eropa. Bukan tentang masa kecil yang sepenuhnya berwarna, Aurélie hanya bisa menangkap arti kasih sayang dan kehangatan di dalam keluarga. Selebihnya, dunia luar terasa asing baginya. Meskipun begitu, ia tetap menyukai sisi tenang kota di kala sepi. Aurélie bukan tipe penuntut, ia penurut. Keadaan orang tuanya membuatnya prihatin dengan kondisi keluarga. Uang tabungan yang tidak pernah kembali setelah dipinjam ayahnya, ulang tahun tanpa kado, dan kesenangan-kesenangan kecil untuk anak seusianya, tidak dipermasalahkan sama sekali oleh Aurélie. Baginya, yang terpenting adalah bersama keluarga, meski ia merasa terjebak untuk memahami bagaimana lingkungan di sekitarnya bekerja.
Terkurung, begitulah Aurélie menjalani hidup bersama orang tuanya yang penuh aturan. Setiap kali ia pergi ke pesta teman, ia selalu ditelepon agar tidak macam-macam. Pengawasan itu membuatnya merasa berbeda karena tidak sebebas teman-temannya. Namun, keadaan ini bisa dikatakan lebih baik jika dibandingkan dengan hidupnya setelah mengenal dunia entertain di Indonesia. Karier Aurélie sebagai aktris bermula ketika ia mengikuti kompetisi bakat anak-anak dan keluar sebagai pemenang. Sejak saat itu, tawaran akting berdatangan dan mengubah kehidupannya menjadi jauh lebih berkecukupan. Banjir uang dan pekerjaan. Namun, di titik inilah kengerian datang, awal pertemuan dengan Bobby, seorang aktor yang berusia hampir dua kali usia Aurélie.
Makna cinta masih terlalu sulit ditafsirkan oleh Aurélie remaja, cinta yang ia kenal semasa kecil tidak jauh dari ciuman dengan lawan jenis. Kedatangan Bobby sebagai laki-laki dewasa membawa banyak kasih sayang yang belum pernah Aurélie rasakan. Bobby membuat Aurélie menemukan definisi baru dari cinta, merasa dibutuhkan bukan karena keinginan, tetapi karena dirinya sendiri, karena ia adalah Aurélie. Perasaan mereka semakin merekah. Bagi Aurélie yang masih anak-anak dan Bobby yang sudah dewasa, perbedaan usia bukan hal yang berarti asal hubungan mereka berjalan damai tanpa drama. Namun, kejanggalan mulai terasa ketika Bobby berhasil menyetir Aurélie. Aurélie yang penurut membuat Bobby semakin memanfaatkan dirinya. Kehidupan Aurélie sepenuhnya milik Bobby pada masa itu hingga orang tuanya sulit untuk menasihati Aurélie dan mengambil kembali peran mereka.
Cinta yang bahagia berubah menjadi horor setiap detik untuk Aurélie. Bobby semakin menggila dengan memaksakan kehendak pernikahan katolik yang menyimpang dan memanipulasi Aurélie secara ekstrem. Aurélie perlahan kehilangan dirinya hingga tidak bisa meminta bantuan keluarga dan orang terdekat, karena ancaman Bobby yang membungkam Aurélie. Bertahun-tahun Aurélie memilih diam dengan keyakinan bahwa diam berarti bertahan. Namun, ketika usianya menginjak 19 tahun, Aurélie perlahan membuka trauma yang selama ini ia pendam. Ia mulai memberanikan berbagi kesedihan dengan rekan-rekan kerjanya, mengadukan perlakuan Bobby yang semena-mena dengan menunjukkan luka-luka di tubuhnya. Hingga pada suatu hari, saat Aurélie sedang syuting titik kesabarannya mendidih juga. Dengan berani ia mengadukan kekerasan fisik oleh Bobby ke ibu mertuanya. Ibu Bobby murka dan Bobby mendapat ganjarannya. Didukung dorongan oleh rekan yang sangat Aurélie percaya, ia kemudian menghubungi orang tuanya, mengungkap segala derita dan ketakutan yang selama ini tertahan.
Bahaya Child Grooming dalam Balutan Cinta
Merefleksi dari Broken Strings, child grooming ada karena manipulasi orang dewasa terhadap anak di bawah umur. Diksi dalam Broken Strings sederhana, tetapi memiliki keindahan yang mengalun dan menggairahkan berbagai emosi. Saya rasa Aurélie cermat memilih setiap kata yang ia pakai karena memoar ini banyak memuat hal sensitif. Amarah kalian akan terusik ketika membaca, sumpah serapah akan keluar tanpa memikirkan kelayakan kata. Namun, memoar Aurélie dengan bahasa yang sopan masih mempertimbangkan agar tidak menghardik pelaku dengan cacian.
Mengingat ini adalah sebuah memoar, kisah nyata dari seseorang, pembaca akan mudah terbawa dan menaruh empati untuk setiap kejadian. Terlebih, pada penggambaran Aurélie yang mendetail untuk setiap penyiksaan, pelecehan, dan pemaksaan yang ia terima. Pembaca dengan trauma tertentu memang tidak disarankan untuk membaca cerita ini, seperti yang sudah diperingatkan Aurélie dalam kutipan berikut.
“Keselamatan dan ketenanganmu jauh lebih penting daripada menuntaskan satu bab.” (Moeremans, 2025)
Alur cerita Broken Strings tidak rumit, memoar ini menggunakan alur maju dan sekilas flashback yang tetap jelas menggambarkan hubungan kausalitas setiap potongan kisah Aurélie. Jalan cerita yang bisa terbilang runtut, memberikan ilustrasi pola kejahatan pelaku child grooming. Sebuah benefit yang dapat digunakan untuk memutus rantai kejahatan child grooming. Broken Strings adalah alarm nyaring untuk pengingat bahwa manipulasi asmara orang dewasa itu nyata. Terlepas dari cantiknya memoar ini, setiap karya pasti akan memiliki hal yang perlu diperbaiki. Menurut saya, trigger emosi membentuk perasaan yang kompleks dan secara tidak sadar akan membuka kisah lain yang seharusnya tidak turut masuk ke dalam memoar.
Nama-nama lain, meskipun samaran sebaiknya dihilangkan karena memunculkan banyak spekulasi yang menduga-duga entertainer lain turut terlibat dalam kasus Aurélie. Tentu ini akan menimbulkan ketidaknyamanan tersendiri bagi mereka yang diserang karena skenario lain oleh warganet yang menyangkut pautkan mereka tanpa bukti valid dengan peristiwa yang terjadi. Lalu, kejadian ini bisa saja mendatangkan permasalahan lain bagi Aurélie. Hal lain yang perlu diperhatikan lagi, meskipun sudah ada trigger warning, peringatan tersebut akan lengkap jika turut mencantumkan batasan usia. Mengingat beberapa ungkapan yang menurut saya vulgar jika harus dibaca oleh usia di bawah legal.
Broken Strings bukan hanya tentang sekumpulan luka, Aurélie menyajikan untuk memecah sunyi yang dari dulu kurang terdengar oleh banyak orang. Pada akhirnya, Broken Strings muncul sebagai sebuah keberanian untuk mengulurkan tangan kepada Aurélie-Aurélie lain yang belum memiliki keberanian untuk bersuara. Untuk Aurélie kecil, terima kasih telah membiarkan rasa takutmu pergi untuk selamanya. Selamat berbahagia dengan sukacita untuk sepanjang masa dengan cinta yang sebenar-benarnya.
Penulis: Nara
Editor: Titin