
Reporter: Arolla, Arya, Agni, Iyok, Nana
Penulis: Arolla
Editor: Titin
Bidang Pemberdayaan Perempuan (PP) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) mengadakan diskusi panel Teras Muda di Crop Circle (CC) FIB, pada Selasa (12/05/2026). Kegiatan ini bertajuk “Tubuh, Kuasa, dan Perlawanan : Konstruksi Perempuan dalam Novel Entrok karya Okky Madasari” yang dibuka oleh penampilan dari Teater Emper Kampus (Emka) dan dihadiri oleh satu pembicara yaitu Acha, pegiat literasi di Semarang dan pemilik komunitas Bookclub Semarang.
Pemilihan Entrok sebagai fokus diskusi dikarenakan novel ini secara gamblang menyoroti isu-isu terkait ketidakadilan yang dialami oleh perempuan dalam kehidupan sosial, politik, dan budaya yang masih relevan dengan tema dan keadaan masyarakat saat ini. Hal ini diperjelas oleh Tialofa Ravidazara, selaku Ketua Pelaksana Teras Muda 2026.
“Ya karena di sini kami menyadari bahwasannya ternyata tubuh perempuan, apalagi kalau misal kakak ngikutin isu sosial media tentang korban pelecehan, pasti yang akan disalahkan adalah korbannya. Entah itu dibilang pakaiannya yang kurang sopan atau bagaimana. Padahal kan memang perempuan itu tubuhnya adalah miliknya sendiri gitu kan. Jadi karena itu, menurut kami masih relevan gitu dari zaman sekarang gitu,” ujar Tialofa.
Relevansi tema tersebut turut disampaikan oleh Acha selaku pembicara. Ia menilai pemilihan novel Entrok sudah sangat tepat karena isu yang diangkat jauh lebih luas dari sekadar ketimpangan gender semata.
“Isunya lebih meluas dari ketimpangan struktural, ketidakadilan gender, kemudian dari bagaimana perempuan itu berdaya di hidupnya,” ungkap Acha.
Ia juga menegaskan bahwa novel karya Okky Madasari ini beresonansi kuat dengan apa yang selama ini diperjuangkan melalui komunitas literasinya.
Antusiasme serupa turut dirasakan oleh peserta yang hadir. Fahrurozi Nasution, mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2025, mengaku mendapat banyak pandangan baru dari diskusi ini.
“Diskusi ini membuka pandangan bahwasanya perempuan itu juga dipandang sebagai sebuah objek. Jadi, permasalahan-permasalahan mengenai perempuan ini tuh kompleks,” ujarnya.
Ia pun berharap semangat bersuara tidak berhenti di ruang diskusi saja. “Kita tuh nggak boleh memandang rendah perempuan, tapi kita harus tetap bersuara dan tidak hanya diam dalam tindakan,” tambahnya.
Meski menyarankan agar kedepannya acara digelar di ruangan tertutup, ia tetap mengapresiasi keberjalanan acara secara keseluruhan.
“Untuk keseluruhan acaranya bagus banget, senang ikutnya,” pungkasnya.