
Reporter: Dea, Rafi, Silvy
Penulis: Silvy
Editor: Arya
Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro menggelar diskusi “Puisi dan Politik” pada Senin (11/05/2026) di Gedung Serba Guna (GSG) FIB Undip. Diskusi ini membahas relevansi puisi sebagai media kritik politik di era digital, khususnya dalam menyampaikan kritik politik secara lebih halus namun tetap kritis.
Diskusi tersebut menghadirkan seniman dan penyair, yakni Basa Basuki dan Adhitia Armitrianto, serta dihadiri mahasiswa yang antusias mengikuti pembahasan hubungan puisi dengan kondisi sosial-politik saat ini.
Laura Andri Retno Martini, S.S., M.A., selaku dosen Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro, mengatakan bahwa puisi sejak dulu tidak pernah lepas dari persoalan politik karena puisi dapat menjadi alat untuk menyampaikan keresahan dan kritik terhadap kondisi sosial maupun pemerintah.
Ia menjelaskan bahwa di era digital sekarang, fungsi puisi memang mulai bergeser. Jika dahulu puisi dikenal tajam sebagai media kritik, kini banyak anak muda memanfaatkannya dalam bentuk yang lebih beragam sebagai media ekspresi diri. Meski begitu, puisi tetap memiliki kekuatan untuk menyampaikan kritik politik dengan cara yang lebih halus namun tajam.
“Ketika kita tidak mampu melawan menggunakan suara kita secara langsung, puisi bisa menjadi alat untuk mengkritik pemerintah maupun masyarakat,” jelasnya.
Seniman sekaligus penulis, Eko Tunas, turut menyampaikan bahwa puisi masih memiliki pengaruh besar terhadap kesadaran politik di masyarakat. Menurutnya, puisi tidak hanya hadir dalam karya sastra tertulis, tetapi juga dapat melalui lirik lagu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Puisi itu sangat berpengaruh. Kalau diperluas, syair lagu juga termasuk puisi,” ujarnya.
Ia mencontohkan karya-karya musisi seperti Iwan Fals hingga Ebiet G. Ade yang dinilai mampu menyampaikan kritik sosial kepada masyarakat. Eko juga menilai tantangan terbesar generasi muda saat ini ialah rendahnya minat membaca. Padahal, kemampuan menulis karya sastra berawal dari kebiasaan membaca.
Sementara itu, salah satu peserta diskusi dari Sastra Indonesia angkatan 2024, Aulia, mengaku diskusi tersebut membuatnya lebih tertarik untuk menulis puisi kritik. Menurutnya, kondisi politik saat ini membuat generasi muda perlu menyuarakan pendapatnya, salah satunya melalui puisi.
“Tadi pematerinya bilang, selagi kita masih bisa menulis, menulislah. Aku jadi sadar kalau melihat kondisi politik sekarang, aku juga harus bersuara. Bisa lewat puisi atau apa pun,” ujar Aulia.
Melalui diskusi ini, mahasiswa diajak memahami bahwa puisi bukan hanya sekadar rangkaian kata indah, tetapi juga media untuk menyuarakan kritik sosial dan politik. Di tengah perkembangan era digital, puisi dinilai masih memiliki ruang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menyuarakan keresahan dengan cara yang lebih halus dan kritis.