Banjir di Rowosari Tak Teratasi, Warga Pindah Rumah Ramai-Ramai

Penanda gang Cluster Dinar Indah Blok 7 di Rowosari, Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, pada Rabu, 20 Mei 2026 pukul 16.17 WIB — Dok. Hayamwuruk/Amalia.

Kompleks Perumahan Dinar Indah yang berlokasi di Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, tidak pernah benar-benar lepas dari bencana banjir. Terhitung sejak tahun 2017, banjir masih menjadi momok yang menghantui warga setempat.

Tanah di Cluster Dinar Indah Blok 7 cenderung lebih rendah dibanding rumah-rumah di bagian lain, sehingga digolongkan menjadi Dinar Indah Atas dan Dinar Indah Bawah. Sekitar lima meter setelah Masjid Ar-Rohmah, akses jalan menuju Dinar Indah Bawah sedikit menurun. Turunannya tidak begitu curam, tetapi pengendara bermotor ketika melintasi jalan ini perlu berhati-hati karena retakan tanah dan sisa-sisa lumpur akibat banjir.

Berada tepat di bantaran Sungai Pengkol, luapan air sungai seringkali menembus rumah warga ketika hujan deras mengguyur. 

Tanggul Sungai Pengkol yang ditinggikan di pemukiman warga Cluster Dinar Indah Blok 7 pada Rabu, 20 Mei 2026 pukul 16.35 WIB – Dok. Hayamwuruk/Amalia.

Dampak dari banjir bandang di pemukiman ini tidak hanya berbekas dalam sisa-sisa lumpur. Beberapa tembok rumah terlihat mengelupas. Banyak perabotan rumah yang tampak rusak, tergeletak begitu saja di pekarangan.

Banjir yang melanda kompleks Perumahan Dinar Indah Blok 7 disebabkan oleh aliran air yang dibawa dari daerah Ungaran akibat curah hujan tinggi. Banjir terparah terjadi pada awal tahun 2023 dengan ketinggian air hampir mencapai atap rumah dan memakan satu korban jiwa. Oleh sebab itu, banyak warga yang memutuskan untuk pindah dan mencari hunian baru yang lebih aman.

“Separuhnya (jumlah yang pindah rumah, -red) ini, Mbak. Sebelumnya ada 50 (kepala keluarga, -red). Sekarang sisa 28,” ujar Fitri (51), salah satu warga yang masih bertahan di Perumahan Dinar Indah.

Terhitung sudah lima tahun sejak Fitri tinggal di perumahan ini pada tahun 2021. Fitri mengaku, ia pertama kali merasakan banjir besar saat peristiwa banjir di Dinar Indah pada tahun 2023 lalu.

“Terus 2023 itu banjir seatap. Saya pertama merasakan (banjir, -red) segitu di sini,” terangnya di sela menyapu halaman rumahnya.

Aktivitasnya menyapu halaman sejenak terhenti saat mengingat kembali banjir terbesar yang dialami warga Dinar Indah. Matanya mulai tampak memerah. Fitri masih ingat betul banjir terjadi pada hari Jumat saat bapak-bapak sedang pergi bekerja. Kata dia, gang di belakang rumahnya paling mengerikan karena banyak anak-anak menjerit.

“Aku saat itu berpikir, ini kalau air naik terus, apa enggak tenggelam. Aku sampai (merasa, -red) mengerikan. Suara anak-anak pada menjerit. Oh, paling mengerikan. Mengerikan itu, Mbak. Ya Allah, mengerikan,” ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar.

Banjir yang melanda Cluster Dinar Indah Blok 7 pada 6 Januari 2023 dengan ketinggian air mencapai atap rumah, dipotret dari atas atap rumah warga – Dok. Narasumber/Fitri.

Pasca banjir 2023, kini warga sudah lebih siap siaga dengan melakukan evakuasi saat air sungai mulai naik. Mereka bahkan bersiap untuk memindahkan barang-barang dan mengungsi sebelum sirine berbunyi.

Supadi (53), warga yang tinggal di Blok 7B mengungkapkan, warga memasang sirine peringatan dini sebagai solusi untuk keamanan warga sendiri.

“Pemasangan sirine peringatan, dari warga sendiri,” kata Supadi.

Penulis: Lia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top