Lewat Panggung, Diftong Art Company Bahas Komitmen yang Hadir Tanpa Kesiapan

Dok. Hayamwuruk/Fiska

Reporter: Fiska

Penulis: Fiska

Editor: Syipolo

Diftong Art Company menggelar pentas seni bertajuk “Sepiring yang Bertarung di Ladang Sunyi, Antara Kau dan Kau; Edisi Sakit dan Durjana” di Gedung Serba Guna (GSG) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) pada Jumat (5/6/2026).

Acara dibuka dengan penampilan monolog oleh Gwyneth Mandala yang membawakan rangkaian refleksi mengenai kerasnya realitas kehidupan yang tidak selalu berjalan baik. Dalam monolog tersebut, ia juga menyinggung bagaimana gelar akademik kerap kehilangan maknanya ketika berhadapan dengan situasi sosial dan ekonomi yang sulit seperti saat ini.

Pertunjukan kemudian berlanjut ke pementasan utama yang diawali oleh penampilan Daniel sebagai Penyiar. Drama tersebut mengangkat kisah tentang bagaimana ketidaksiapan dua individu dalam menjalani sebuah komitmen dapat memberikan dampak yang meluas, tidak hanya bagi lingkungan sekitar, tetapi juga hingga lintas generasi.

Meski demikian, Yaser selaku sutradara menjelaskan bahwa pertunjukan ini tidak dimaksudkan untuk memiliki satu makna tunggal. Menurutnya, seluruh elemen pementasan, mulai dari Daniel sebagai Penyiar, Haidar sebagai Bayi Tua, Maya sebagai Sarah Alternatif, hingga aspek make-up dan kostum yang digarap oleh Tri, dihadirkan sebagai ruang yang terbuka bagi interpretasi masing-masing penonton.

“Aku mau mengutip perkataan satu ilmuwan sastra. Ia bilang kalau pesan itu bukan didapat dari apa yang ingin disampaikan, tapi apa yang diterima oleh orang yang melihat. Jadi pesan apa yang aku sebagai tokoh di atas tadi sampaikan ya kembali ke teman-teman mau menginterpretasikan seperti kayak gitu,” kata Daniel.

Yaser mengakui bahwa pertunjukan ini terinspirasi oleh berbagai media dan karya seni. Referensi yang digunakan berasal dari film, pementasan teater, serta hasil eksplorasi imajinasinya sendiri. Beberapa referensi yang digunakan antara lain film Pulp Fiction, Eyes Wide Shut, serta sejumlah karya dari Teater Garasi.

Sepanjang pementasan, penonton disuguhkan berbagai luapan emosi, mulai dari amarah, kesedihan, hingga penyesalan. Intensitas emosi yang dihadirkan berhasil menarik perhatian audiens dan dinilai mampu memenuhi, bahkan melampaui, ekspektasi sejumlah penonton, termasuk Roje dan Joz.

“Gak muluk-muluk, sih. Selama terhibur, gak merasa bosan di dalam, selama bisa memberi dampak baik, entah dampak isu cerita, atau ada hasrat untuk berkarya. Itu yang aku harapkan, sih. Jadi, Diftong udah berusaha menggaet teman-teman yang mau berkarya, tapi gak di UKM,  sebenernya bisa loh. Bisa dengan bikin modal sendiri,” ujar Yaser.

Selaku sutradara, Yaser, dan seluruh kru menyampaikan bahwa pesan yang ingin disampaikan melalui pertunjukan ini diserahkan sepenuhnya kepada interpretasi masing-masing penonton. Menurut mereka, tidak hanya ada satu makna yang harus ditangkap. Selama pertunjukan mampu menghibur, tidak membosankan, dan memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi para penonton.

“Intinya kalau belum siap sama diri sendiri, jangan memaksa untuk siap dengan orang lain,” ucap Yaser.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top