Talkshow HTTS BEM FKM Undip Soroti Rokok yang Merajalela di Kalangan Generasi Muda

Dok.Hayamwuruk/Pricil

Reporter: Nara,Tri, Pricil

Penulis: Nara 

Editor: Syipolo

 

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Diponegoro (Undip) menyelenggarakan talkshow untuk memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) di Gedung Auditorium Prof. Soedarto, S.H., Undip pada Selasa (26/05/2026). Acara tersebut merupakan program tahunan rutin yang diselenggarakan setiap bulan Mei dengan format yang berbeda-beda. 

Pada tahun ini, acara diselenggarakan dengan format talkshow dan mengangkat tema “Exposing the Deception: Empowering Youth to Fight Nicotine and Tobacco Addiction”. Ketua Pelaksana Talkshow HTTS, Gigih Prakarsa, mengungkapkan keprihatinannya terhadap tingginya konsumsi rokok di kalangan generasi muda. 

“Di generasi muda ini banyaknya konsumsi rokok menjadi sebuah keprihatinan kita semua. Jadi, saya ingin mengembangkan bagaimana Hari Tanpa Tembakau Sedunia ini bisa menyebarkan dampak dan edukasi bagi para generasi muda,” jelasnya. 

Dalam sesi pemaparan materi oleh narasumber, dr.Ikhsanudin Qothi, ditampilkan data tingkat konsumsi rokok berdasarkan kalangan usia. Data menunjukkan perokok aktif pada anak usia sekolah mencapai 18,4 persen untuk rentang usia 10–14 tahun dan 56,5 persen untuk rentang usia 15–19 tahun, sebagai persentase terbanyak. Sementara itu, pada rentang usia 20–24 tahun persentase mencapai sebanyak 25,99 persen.  

Sebagai generasi yang mendominasi tingkat perokok aktif di Indonesia, merokok pada kalangan generasi muda dipicu oleh berbagai faktor. Ikhsanudin menyinggung salah satu faktornya berasal lingkungan pertemanan. Perkumpulan relasi atau teman sebaya menjadi faktor yang dapat mengkatalisis tren merokok dengan mudah. Adiksi rokok ini juga didukung oleh konstruksi sosial yang beranggapan bahwa merokok adalah hal yang keren. 

Faktor lainnya datang dari kecenderungan stres yang dialami generasi muda. Sebetulnya, rasa nyaman pada saat merokok bukan didapat dari rokok itu sendiri. Ikhsanudin mengungkapkan yang membantu melepaskan stres adalah proses merokoknya. Sebagai alternatif pengelolaan stres, Ikhsanudin memberikan beberapa pilihan lain yang dapat dijadikan sebagai penghilang stres di antaranya adalah olahraga, seperti meditasi. 

Salah satu peserta talkshow Hafsa Hamida, Mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Undip berpendapat bahwa kesadaran terhadap bahaya rokok di kalangan generasi muda sudah cukup tinggi hanya saja tidak diimbangi dengan praktik nyata. 

“Untuk kesadaran bahaya rokok itu menurut aku udah cukup tinggi di kalangan mahasiswa dan masyarakat. Cuma, emang kurangnya itu di cara mereka menerapkan ilmu yang mereka tahu gitu sih, Kak. Jadi, kayak dia (perokok generasi muda –red) sudah tahu bahayanya nih, cuma dia (perokok generasi muda –red) tuh masih gak bisa buat ninggalin rokok,” ujar Hafsa. 

Hafsa juga menambahkan agar generasi muda yang masih aktif sebagai perokok untuk meningkatkan kesadaran diri dengan memperbanyak literasi mengenai bahaya rokok. 

“Pesannya, khususnya untuk ini ya, untuk para perokok atau yang masih menggunakan vape, lebih banyak literasi lagi tentang bahaya rokok itu apa. Jadi, kayak semakin sadar lah akan bahayanya gitu,” tambahnya. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top