Mengupas Demonstrasi di Iran dan Pemerintahan Iran yang Kontroversial

Ilustrasi/Chelsya

Awal bulan Januari, melalui media sosial yang saya gunakan, saya mengetahui gelombang protes yang dilancarkan oleh masyarakat Iran kepada rezim Ayatollah Ali Khamenei. Video-video yang beredar di media sosial Indonesia memperlihatkan salah satu menara masjid di Iran dibakar selama demonstrasi berlangsung. Banyak dari Masyarakat Indonesia cepat membuat prasangka terhadap para demonstran dan meninggalkan komentar-komentar yang memihak pemerintahan Iran tanpa menelusuri akar permasalahan dari demonstrasi tersebut.

Dikutip dari CNN.com, demonstrasi pertama dilakukan pada 29 Desember 2025 oleh pemilik ruko-ruko di Bazaar Teheran yang penjualannya turun drastis. Hal tersebut disebabkan oleh anjloknya  rial Iran dan tingginya inflasi terhadap harga bahan makanan pokok sehingga masyarakat Iran kesulitan untuk membeli kebutuhan mereka, termasuk di Bazaar Teheran. Demonstrasi ini cukup menarik untuk dibahas mengingat kesetiaan mereka terhadap pemerintahan Iran yang kuat selama ini dan bagaimana percikan protes tersebut turut membakar semangat revolusi di 31 provinsi Iran hanya dalam waktu dua minggu saja.

Demonstrasi ini tidak ditanggapi dengan baik oleh pemerintah Iran, seperti yang disampaikan oleh Masoud Pezeshkian, Ppresiden Iran yang mempunyai kekuasaan terbatas karena kekuasaan tertinggi terletak pada Ali Khamenei. Vandalisme terhadap properti publik yang merupakan bagian dari demonstrasi akan dianggap sebagai moharebeh, istilah yang berarti melancarkan perang melawan Tuhan. Di Iran, para pelaku mMoharebeh dapat dieksekusi mati. Penolakan terhadap demonstrasi tersebut sejalan dengan penggunaan senjata oleh polisi-polisi Iran terhadap para demonstran Iran, yang menorehkan darah di sepanjang lokasi-lokasi demonstrasi di 31 provinsi Iran, terutama di kota-kota, seperti Teheran, Isfahan, dan Masyhad. Dikutip dari aljazeera.com, Human Rights Activist News Agency (HRANA), menjelaskan bahwa sebanyak 4.519 orang telah tewas karena demonstrasi di Iran, termasuk di antaranya 4.251 demonstran, 197 polisi keamanan, 35 anak di bawah 18 tahun, dan 38 bystander yang bukan bagian dari demonstran maupun polisi. Di sisi lain, televisi nasional Iran memberikan jumlah korban tewas demonstrasi yang lebih sedikit, yaitu 3.117 orang. Terlepas dari berapa sebenarnya banyak korban tewas dari demonstrasi di Iran, pihak yang pro maupun kontra terhadap pemerintahan Iran, bahkan pemerintahan Iran sekalipun sepakat bahwa demonstrasi ini memakan banyak korban. Demonstrasi berdarah-darah tersebut terekam dalam video-video yang beredar di media sosial dan dimasukkan dalam artikel berita CNN berjudul “The night Iran went dark: Witness accounts and video reveal violence inflicted during Iran’s internet blackout”, menunjukkan bagaimana pemerintah Iran mematikan akses internet dan panggilan telepon internasional pada pukul 8 malam ketika aksi demonstrasi dimulai. Namun, rakyat Iran yang sudah banyak menderita selama rezim teokrasi Iran tetap menemukan cara untuk mengungkap kebengisan pemerintahnya yang antikritik dengan merekam video-video selama demonstrasi berlangsung dan penggunaan senjata termasuk pistol, senapan, dan pellet bomb oleh Basij, grup paramiliter Iran.

Rezim yang Antikritik

Demonstrasi pada 29 Desember hingga saat ini di Iran bukanlah kali pertama. Dilansir dari Aljazeera, sejak Revolusi Islam Iran pada 1979 yang menggulingkan pemerintahan monarki dinasti Pahlevi, sudah terjadi serangkaian demonstrasi oleh rakyat Iran yang ditanggapi dengan buruk oleh Pemerintah Iran. Salah satunya adalah Protes Pasca Revolusi Islam Iran pada 1979 hingga akhir 1990, ketika secara berkala ribuan perempuan di Teheran memprotes peraturan wajib berhijab bagi semua perempuan Iran tanpa terkecuali. Kewajiban memakai hijab ini memakan korban belasan tahun kemudian. Salah satu korbannya adalah Mahsa Amini, perempuan berusia 22 tahun yang meninggal di tangan polisi moral Iran karena ia dianggap tidak mengenakan hijabnya dengan benar. Dilansir dari BBC.com, Ahli Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa berpendapat bahwa bukti-bukti yang ditemukan menunjukkan bahwa Mahsa Amini tewas karena kekerasan fisik. Sangat ironis mengingat pelakunya merupakan polisi moral, menunjukkan bahwa para polisi tersebut tidak sepenuhnya memahami definisi moral. Tewasnya Mahsa Amini pada 2022 ini memicu protes besar-besaran di Iran dan mendapatkan perhatian internasional karena berita dan informasi yang beredar di internet. Protes ini berlangsung selama berbulan-bulan dan membuat ratusan demonstran terbunuh dan sekitar 20.000 orang demonstran dipenjara.

Ada juga Protes Mahasiswa dan Reformis yang berlangsung sejak 1999 hingga 2003, ketika para mahasiswa Iran di Kota Teheran melakukan demonstrasi besar-besaran karena pembungkaman pers yang berujung pada penutupan surat kabar reformis. Protes Mahasiswa dan Reformis tersebut ditanggapi pemerintah Iran dengan menyerang asrama para mahasiswa pada malam hari ketika mereka tidur. Penyerangan ini membuat mahasiswa dan rakyat sipil lainnya bahu-membahu dalam aksi demonstrasi di kampus-kampus kota lain, seperti Tabriz, Masyhad, dan Isfahan. Protes ini berakhir karena dipadamkan oleh kepolisian Iran dengan korban tewas, luka-luka, dan ratusan mahasiswa ditahan di penjara. Pada pelanggaran HAM yang dilakukan polisi dan Basij tersebut, pengadilan Iran memutuskan untuk menutup mata dan hanya menjatuhkan hukuman denda pada seorang polisi yang merampas alat cukur elektrik ketika tempo hari menyerang asrama mahasiswa.

Tokoh di Balik Rezim Antikritik Iran

Tokoh sentral di balik rezim pemerintah Iran yang antrikritik dan memerintah dengan tangan besi adalah Ayatollah Ali Khamenei, politisi Iran yang telah menjabat sebagai pemimpin tertinggi Iran ke-2 sejak 1989. Jabatannya berada di atas presiden yang dipilih setiap 4 tahun sekali dengan sistem voting. Namanya sarat akan kontroversi, sebagian figur politik dan kelompok masyarakat memberi dukungan padanya terutama karena dukungannya terhadap pemerintahan Bashar Al-Assad di Suriah, partai politik paramiliter Hezbollah di Lebanon, dan dukungannya terhadap Palestina. Namun, banyak juga yang bertentangan dengannya karena kecenderungan pemerintahannya yang anti-Barat, terlihat dalam perannya yang besar dalam Revolusi Islam Iran yang menggulingkan pemerintahan monarki dinasti Pahlavi Iran yang berideologi sekuler. Selain anti-Barat, Ali Khamenei juga sudah lama bermusuhan dengan petinggi-petinggi Arab Saudi.

Karena ia merupakan tokoh yang kontroversial dan dapat diklasifikasikan sebagai tokoh yang morally grey atau tidak sepenuhnya buruk dan tidak sepenuhnya baik, menurut saya memihaknya dalam demonstrasi yang berlangsung di Iran bukan hal yang bijaksana, terutama karena perilakunya yang bengis terhadap rakyat Iran selama 37 tahun terakhir. Hal yang bijaksana untuk dilakukan dalam mencermati suatu peristiwa politik adalah dengan memperbanyak literasi media dan mencari tahu latar belakang masalahnya. Pada akhirnya, yang mengetahui watak penguasa adalah rakyat yang ia pimpin. Ketika sang pemimpin tidak memenuhi kebutuhan dan mengecewakan rakyatnya, rakyatnya berhak untuk meminta agar haknya dipenuhi.

Pasal 5 Universal Declaration of Human Rights menyatakan bahwa, “Tidak ada satu pun orang yang layak menjadi subjek penyiksaan atau diperlakukan secara bengis dan tidak manusiawi.” Sementara itu, Pasal 18 menyatakan, “Semua orang mempunyai hak untuk bebas berpikir dan beragama, termasuk kebebasan untuk mengubah agama atau kepercayaan.” Pasal 19 juga menegaskan, semua orang berhak untuk bebas berpendapat dan berkekspresi, termasuk kebebasan untuk berpendapat tanpa intervensi.” Namun, rezim Iran saat ini telah melanggar ketiga artikel HAM tersebut.

 

Referensi

Aljazeera. (2026, January 21). At least 3,117 people killed during Iran protests, state media reports. Retrieved January 21, 2026, from Aljazeera website: https://www.aljazeera.com/news/2026/1/21/at-least-3117-people-killed-during-iran-protests-state-media-reports

Luc, CNBC Indonesia. (2025, Juni 16). Mengenal Ayatollah Ali Khamenei, Sang Penjaga Api Revolusi Islam Iran. Retrieved January 21, 2026, from CNBC Indonesia website: https://www.cnbcindonesia.com/news/20250616121042-4-641332/mengenal-ayatollah-ali-khamenei-sang-penjaga-api-revolusi-islam-iran

Motamedi, M. (2026, January 5). Timeline of protests in Iran after the 1979 Islamic revolution. Retrieved January 22, 2026, from  Aljazeera website: https://www.aljazeera.com/news/2026/1/5/a-timeline-of-protests-in-iran-after-the-1979-islamic-revolution

Pelham, L. (2024, March 8). Mahsa Amini: Iran responsible for ‘physical violence’ leading to death, UN says. Retrieved January 22, 2026 from BBC News website: https://www.bbc.com/news/world-middle-east-68511112

Salem, M. (2026, January 14). Why are there mass protests in Iran, and could the US get involved? Retrieved January 22, 2026, from CNN World website:  https://edition.cnn.com/2026/01/12/middleeast/iran-mass-protests-explained-intl

Salem, M. & Karadsheh, J. (2026, January 23). The night Iran went dark: Witness accounts and video reveal violence inflicted during Iran’s internet blackout. Retrieved January 23, 2026, from CNN World website:  https://edition.cnn.com/2026/01/23/middleeast/iran-internet-blackout-violent-crackdown-intl-cmd

 

Penulis: Aisyah Zuhra Elhamdy

Editor: Lia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top