MENGAPA CINA?


Oleh: Novia Rochmawati J

Tembalang—Semarang (29/10/2012),
pukul 09.00 WIB puluhan mahasiswa memadati Ruang A.3.10 Gedung A Fakultas Ilmu
Budaya Universitas Diponegoro (FIB Undip). Mereka sedang serius mendengarkan
pemaparan dari salah satu pembicara di acara Bedah dan Diskusi Majalah
Hayamwuruk bertajuk “Mengapa Cina?”. Sebuah acara yang digarap oleh peserta
magang lanjut LPM Hayamwuruk (Hawe) 2012 tiap tahunnya. 

Acara Bedah dan Diskusi tersebut memang agak
berbeda dengan acara pada tahun sebelumnya yang berupa workshop. Tetapi tidak
mengurangi esensi dikarenakan tujuan dari acara tersebut selain melaunchingkan
majalah edisi terbaru Hawe yang mengangkat tema besar Komunisme Cina; Hidup
Segan Mati Tak Mau, adalah melatih peserta magang untuk mampu mengorganisir
suatu kegiatan. Hal itu merupakan salah satu syarat untuk lulus program magang
dasar yang dirangkai dengan program magang lanjut setelahnya. 

Tionghoa dijadikan sebagai topik pada
acara tersebut dikarenakan falsafah dan kebudayaannya. “Cina (Tionghoa) sendiri
menyimpan banyak misteri untuk dikaji lebih lanjut dan didiskusikan”, ungkap
Faishal selaku ketua panitia. Dalam acara tersebut, dihadirkan dua narasumber
yang ahli dalam bidangnya, yaitu Drs. Hendarto Supatra, SU dan Prof. Dr. Drs.
Fx Sugiyanto, MS. Sebagai salah satu pengampu mata kuliah Sastra Melayu
Tionghoa di FIB Undip, Hendarto diminta untuk “bercerita” seputar falsafah dan
budaya Tionghoa, sedangkan Fx Sugiyanto yang notabene merupakan Guru Besar FEB
Undip ini berbicara mengenai perkembangan perekonomian di Cina. 

Sebagai salah satu negara besar, Cina memang
memunyai falsafah dan budaya yang sangat berpengaruh di setiap segi kehidupan
yang mereka jalani. Hendarto memaparkan bahwa ajaran agama Tionghoa (konghucu)
berorientasi pada kesuksesan duniawi. Hal ini rupanya senada dengan yang
diungkapkan oleh Heru Subagiyo ketika diwawancarai oleh tim Hayamwuruk beberapa
waktu lalu di dekanant FEB Undip. “Soalnya saya pernah bertanya sama pimpinan
saya dan dijawab kalo kamu kaya di dunia maka nanti di akhirat juga akan kaya.
Di sini kamu jadi juragan di sana juga jadi juragan” (Hawe,red.)

Sedangkan saat salah seorang peserta
bertanya kemana arah kebijakan ekonomi Cina, apakah berlandaskan kapitalisme,
komunisme atau berada ditengah keduanya (neokapitalisme), Fx. Sugiyanto
menerangkan bahwa kekuatan ideologi sebuah Negara tergantung pada kekuatan
kepemimpinannya. 

Acara diskusi dan bedah majalah tersebut berakhir
sekitar pukul 12.15 WIB. Ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan dari pihak
panitia kepada para pembicara yang telah mengisi acara yang dimulai sekitar
pukul 08.00 WIB itu. Ditanya mengenai apa yang diperoleh dalam acara tersebut,
Habib, Mahasiswa Sastra Indonesia (sasindo) angkatan 2012 itu menjawab “Ya,
intinya acara tersebut menambah wawasan saya. Sebenarnya saya memunyai misi
tersendiri kenapa saya ikut Hawe atau acara-acara sejenis bedah majalah.”
Jawaban senada pun diberikan oleh Ima yang juga merupakan mahasiswa sasindo.
Namun, mahasiswa berkacamata itu mengaku agak kurang paham dengan konsep acara
dikarenakan belum pernah mengikuti acara semacam ini. 


Acara yang telah dilaksanakan oleh
peserta magang lanjut tersebut diharapkan dapat memperkaya pengetahuan dan
kemampuan manajemen kegiatan mereka yang nantinya akan meneruskan estafet
kepengelolaan LPM Hayamwuruk. Agar kedepannya Hayamwuruk dapat menghasilkan
jurnalis-jurnalis yang dapat merefleksikan budaya dan intelektualitas
mahasiswa, sebagaimana slogan Hawe

One thought on “MENGAPA CINA?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top