Usulan Kota Lama Semarang Hidupkan Jalur Rempah Terkesan Dipaksakan

Sumber gambar: halosemarang.id

Sejarawan Universitas Diponegoro (Undip), Dewi Yuliati, menyebut usulan Pemerintah Kota Semarang untuk menetapkan Kota Lama Semarang sebagai situs warisan Dunia UNESCO melalui Jalur Rempah terkesan dipaksakan.

Lha, mbok (kalau) dicari sumber di mana pun itu, masa VOC itu, produk ekspor impor itu bukan rempah,” ungkapnya dalam seminar daring yang digelar oleh Himpunan MahasiswaSejarah Undip bertajuk “Semarang, Port of Java”, Sabtu (21/11/2020).

Menurut Dewi,produk ekspor yang dominan dan dimonopoli oleh VOC  di Semarang saat itu ialah beras, disusul garam, papan (kayu yang sudah digergaji). Hal tersebut  didukung dengan catatan penjelajah Belanda, FransoisValentijn, yang sempat mengunjungi Semarang pada awal abad ke-18.

Begitupula selepas VOC bubar dan beralih di bawah pemerintah kolonial Hindia Belanda, produk perdagangan Semarang saat itu bukanlah rempah, akan tetapi didominasi gula, disusul kopi, tembakau, kopra, dan nila.

Sependapat, Sejarawan Universitas Negeri Semarang (Unnes),Wasino, mengatakan bahwa usulan Kota Semarang sebagai jalur rempah itu harus dipilah apakah sebagai produsen, atau sebagai konsumen, atau sebagai distributor.

“Kalau dipahami dari produsen, Semarang itu jelas bukan produsen rempah, produk utamanya sebelum kedatangan VOC yakni beras dan batik,” ujar Wasino, yang juga menjabat sebagai Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) cabang Jawa Tengah.

Kendati begitu, kata Wasino, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan adanya praduga perdagangan rempah dari Maluku ke Malaka, secara tidak langsung berkaitan para pedagang Jawa asal Semarang.  Apakah para pedagang Jawa asal Semarang itu berdagang dengan menukar beras dengan rempah di Maluku, dan selanjutnya rempah tersebut dijual di Malaka dengan harga yang lebih mahal.

Di samping itu, menurut Wasino, diperlukan juga penelitian secara mendalam, apakah VOC yang saat itu memonopoli rempah dari Maluku sempat berlabuh dan berdagang di pelabuhan Semarang, kemudian berlanjut ke Batavia, dan diteruskan ke Malaka.

“Jalur gula (untuk Kota Semarang) itu justru menarik karena (perdagangannya) sampai Singapura, Belanda, Banda Neira. Di samping itu jalur cengkeh juga menarik (jika diusulkan),” ujarnya.

Kontributor: Ulil AlbabAlshidqi

Editor: Airell Luthfan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top