
Acara puncak Gebyuran Bustaman 2025 sukses dilaksanakan pada Minggu (23/2/2025) dengan perang air sebagai acara utama. Perang air yang diadakan di dalam Kampung Bustaman tersebut dibuka dengan sambutan dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, R. Wing Wiyarso Poespojoedho.
Setiap tahun, Kampung Bustaman mengadakan tradisi perang air. Kegiatan ini berawal dari Kyai Bustam yang menyirami cucu-cucunya dengan air dari sumur menggunakan gayung. Ipung, Ketua Panitia Gebyuran Bustaman 2025, menyampaikan bahwa kegiatan perang air ini telah dimodifikasi dengan cara yang lebih modern.
“Kami mengemasnya dalam bentuk modern. Sebelumnya, hanya disirami menggunakan gayung dengan air dari sumur Kyai Bustam. Seiring perkembangan zaman, kami bungkus dengan cara modern yaitu perang air,” tutur Ipung.
Bagi Sugiyono, salah seorang warga Kampung Bustaman, perang air bermakna penyucian diri sebelum melaksanakan ibadah puasa di bulan suci Ramadan. Coretan-coretan di wajah merupakan simbolisasi dari dosa-dosa yang nantinya akan dihapus melalui perang air.
“Makna gebyuran bagi kami itu menyucikan diri, kayak tadi dicoreng-coreng lalu digebyur. Dengan gebyuran, kita bisa menjadi rukun kembali,” ujar Sugiyono.
Anita, Project Officer dari Kolektif Hysteria, berharap agar Gebyuran Bustaman berhasil masuk ke dalam ajang Intangible Heritage ketika didaftarkan nanti dan setiap kendala yang ada dapat dihadapi bersama.
“Di tahun depan, aku berharap tidak ada kendala yang berarti, kalaupun ada ya bisa ditanggulangi secara mandiri. Aku juga mau (Gebyuran Bustaman -Red) tetap meriah. Gebyuran Bustaman ini akan didaftarkan ke salah satu Intangible Heritage, aku harap semoga bisa masuk aja sih,” ungkap Anita pada Sabtu (22/2/2025).
Reporter : Diaz, Wildan, Arolla, Lia, Sania, Titin, Marricy
Penulis : Marricy
Editor : Mahes