
Informasi Film
Judul : Senyap / The Look of Silence
Sutradara : Joshua Oppenheimer
Produksi : Final Cut for Real
Tanggal Rilis : 10 November 2014 (Indonesia)
Bahasa : Indonesia & Jawa
Durasi : 98 Menit
TW: Pembunuhan/Pembantaian
Bagi semua keluarga yang ditinggalkan dengan cara yang kejam.
Potongan memori kelam yang sudah berhasil dikubur dalam-dalam nyatanya tetap berhasil menggali rongga untuk dikenang. Anggota keluarga yang ditarik paksa dari rumah nyaman dan aman, tak jarang kembali dengan memar atau bahkan tinggal kenangan. Setiap jejak langkah para korban pembunuhan selalu menyisakan sebelanga luka, air mata, dan sesak di dada.
Adi Rukun, seorang optometrist, kehilangan kakaknya, Ramli, pada tahun 1965 dalam pembantaian orang-orang komunis (serta mereka yang tertuduh komunis). Dalam film dokumenter karya Sutradara Joshua Oppenheimer ini, Adi diajak menelusuri jejak para pembunuh Ramli dengan setitik harapan akan penyesalan mereka. Film ini bisa ditemukan pada kanal YouTube “Jagal Senyap”.
Adi, beserta Mamak dan Ayah, telah menjalani hari-hari dengan sukar hati sebab Ramli tewas terbunuh dengan naas. Perutnya dikoyak hingga ususnya terburai keluar, punggungnya bolong, serta kelaminnya terpotong, sebelum akhirnya diceburkan ke dalam Sungai Ular, Deli Serdang, Sumatera Utara.
Setelah diculik dan dianiaya, Ramli sempat pulang ke rumah Mamak dan beristirahat sejenak. Lalu, ia dijemput paksa oleh Amir Hasan dan dibunuh oleh Pasukan Pembunuh Tingkat Desa, Amir Hasan dan Inong, pemimpinnya, yang sebelum akhirnya ditenggelamkan di Sungai Ular.

Adi menonton potongan wawancara antara Joshua, Amir Hasan, dan Inong dengan serius. Dari matanya, Adi menunjukkan luka hati mendalam yang tak terdefinisikan sakit dan sesaknya. Ia tak berkomentar apa pun, hanya diam dan memperhatikan bagaimana Amir Hasan dan Inong dengan bangga melakukan pembunuhan keji terhadap Ramli.
Adi berhasil mendatangi Inong, namun tidak dengan Amir Hasan karena ia telah meninggal dunia dimakan usia. Ketika bercakap-cakap dengan Inong, suasana memanas sebab Inong merasa Adi terlalu banyak ingin tahu dan terlalu banyak menggali masa lalu. Inong mengatakan bahwa tak baik bicara politik terlalu dalam.
Di samping itu, hal mengejutkan muncul dari pernyataan Inong. Inong mengaku meminum darah korban pembunuhan agar tetap waras. Menurutnya, meminum darah korban akan membuatnya berhenti meratapi dan menyesali pembunuhan yang terjadi. Darah korban menghapuskan beban moral yang tumpang tindih di dalam hatinya.
Hal berbeda disampaikan oleh Pemimpin Pasukan Pembunuh Deli Serdang. Ia berdalih bahwa pembunuhan yang terjadi bukanlah perintahnya, melainkan perintah atasan lain. Ia seolah tak mau disalahkan dan tak mau dimintai pertanggungjawaban. Mereka berdebat beberapa detik soal siapa yang memerintahkan pembunuhan terhadap Ramli, namun pada akhirnya tetap tak ada ucapan maaf yang terlontar dari mulut sang pemimpin.

Menonton film ini membuat saya tak berhenti bergidik ngeri. Ada perasaan kesal karena para pembunuh tak menunjukkan penyesalan. Alih-alih meminta maaf akan perilakunya di masa lalu yang menorehkan trauma mendalam kepada keluarga Adi, mereka justru dengan bangga menceritakan kembali aksi brutal pembunuhan yang dilakukan.
Film berdurasi 98 menit ini saya tonton dalam dua kali putar. Setelah 40 menit pertama, saya memutuskan untuk mencari udara segar sebelum menamatkannya di keesokan hari. Saya terbawa suasana, terbawa amarah. Sepercik api menyala dalam hati saya. Saya tak berhenti menyumpahi para pembunuh agar dibakar api neraka sebab tak merasa berdosa.
Tentu, film ini membosankan bukan kepalang. Sepanjang isi film kita akan disuguhi orang-orang bercengkrama dan menonton Adi dengan raut wajah yang tak bisa dijelaskan. Kisah pembunuhan Ramli tak berhenti jadi pusat perhatian. Setiap pembunuh yang masih hidup berkelit, kekeuh pada rasa tak bersalah.
Film berbahasa Indonesia bercampur Jawa ini mudah sekali dipahami karena Joshua menyuguhkan potongan-potongan cerita apa adanya. Meski memberatkan hati Adi, respons para pembunuh disajikan sejujur-jujurnya, tak ada yang dipotong sedemikian rupa untuk menghilangkan esensi percakapan.
Melalui film ini, kita diajak menelusuri kisah kelam tersembunyi yang terjadi pada tahun 1965. Kita diajak bersimpati akan trauma dan luka keluarga yang ditinggalkan. Pembunuhan keji yang melekat di hati keluarga ikut diukir di hati penonton.
Senyap menghadirkan sekelumit ilmu baru yang tak pernah diajarkan di sekolah. Tentang siapa sebenarnya dalang dibalik pembantaian dan pembunuhan keji, tentang apa yang sebenarnya dilakukan Partai Komunis Indonesia (PKI), serta bagaimana keluarga korban pembunuhan bertahan hidup dengan luka dan trauma yang mendalam.
Melalui pengalaman menonton yang mengesankan, saya turut berbelasungkawa kepada setiap keluarga yang ditinggalkan dengan cara yang kejam.
Penulis : Marricy
Editor : Cattleya