Hysteria Hidupkan Kampung Kota Lewat Mini Muralfest

Kolektif Hysteria menggelar acara Artist Talk: Mural DITAMPART “Aturen Awuren” pada Senin (30/3/2026) di Kampung Petemesan, Kota Semarang. Acara ini digelar sebagai salah satu rangkaian dari kegiatan “Untuk Perhatian #8: Overlap & Overlay” yang dilaksanakan pada 27 Maret hingga 12 April dengan berkolaborasi bersama Ikatan Remaja Petemesan. Acara ini bertujuan untuk bertukar pengetahuan mengenai praktik mural di ruang publik dengan mengadakan diskusi bersama para seniman yang terlibat dalam pengerjaan mural.

Winatra Wicaksana, kurator sekaligus penanggung jawab acara mengatakan Untuk Perhatian merupakan salah satu program dari Hysteria Artlab yang berfokus pada pameran seni rupa.

“Untuk Perhatian sendiri adalah program yang diinisiasi oleh Hyteria Artlab yang fokusnya ke pameran-pameran kesenirupaan dan kali ini kita bikin yang ke-8 di Petemesan, salah satu jaringan kampung,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa Hysteria seringkali berkolaborasi untuk melakukan aktivasi dengan jaringan kampung-kampung kota yang potensial di Semarang.

Sementara itu, tema yang diusung pada Untuk Perhatian #8 adalah “Aturen Awuren, sebuah konsep yang mengedepankan adaptasi dan penyesuaian di lapangan.

“Sebetulnya fokusnya DITAMPART, cuma karena (temanya, -red) “Aturen Awuren”, adaptasinya lumayan, bisa digedein (lingkupnya, -red),” tambah Winatra.

DITAMPART sendiri merupakan singkatan dari Dinas Cipta Tempat dan Ruang Terpadu, yaitu sebuah metode inisiasi dari Hysteria berupa motor roda tiga yang dimodifikasi menjadi panggung sebagai ruang pameran.

Iyung Sunyoto, salah satu muralis yang terlibat dalam pengerjaan mural DITAMPART turut menjelaskan terkait latar belakang Mumu, karakter yang ia ciptakan.

“Aku membuat karakterku Mumu itu dia selalu tersenyum. Aku gambar di tubuhnya dia memiliki tangan kiri berupa tangan lobster atau tangan kepiting, itu sebenarnya karena background-ku orang pesisir, untuk mewakili ketidaksempurnaan,” jelas Iyung.

Tidak hanya dihadiri oleh warga setempat, acara ini juga dihadiri masyarakat umum. Adetya Pramandira, yang kerap disapa Dera, menyampaikan wawasan baru yang ia dapat setelah menghadiri acara ini.

“Bagaimana menerjemahkan sesuatu menjadi sebuah karya itu berangkat dari imajinasi kita, imajinasi bagaimana itu diperlihatkan,” kata Dera.

Selain Dera, Azarine Kalyana, seorang mahasiswi program studi Desain Komunikasi Visual (DKV) dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) juga mengutarakan hal baru yang menarik baginya.Event mural ini bikin kampungnya jadi kelihatan lebih hidup dan punya ciri khasnya sendiri, itu cara branding yang kreatif, sih. Dengan mengajak anak-anak buat merasakan coret-coret itu juga menurutku bagus banget, anak-anak dapat experience baru dan bisa eksplor kreativitasnya lebih jauh lagi,” ungkapnya.

Reporter: Syipolo, Alim, Lia

Penulis: Lia

Editor: Titin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top