
Reporter: Hana, Nara, Febby, Syipolo
Penulis: Febby
Editor: Syipolo
Bidang Sosial Politik (Sospol) dan Pemberdayaan Perempuan (PP) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) berkolaborasi mengadakan Diskusi Liar (DUAR) dengan agenda Bedah Buku Ronggeng Dukuh Paruk pada Selasa (21/4/2026). Kegiatan ini berlokasi di area bawah masjid, dengan menghadirkan dua pemantik yaitu Ervina Eka mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2023 dan Yudistira Brigas mahasiswa Sejarah angkatan 2023.
Balqis, Project Officer I DUAR menyampaikan, diskusi bedah buku ini mengangkat isu feminisme yang relevan dengan kondisi FIB saat ini. “Srintil sebagai tokoh utama benar-benar merefleksikan kehidupan perempuan maupun gender lain yang termarjinalkan saat ini,” ujarnya.
Tialofa Rafidazara, Project Officer II DUAR, menambahkan bahwa banyak mahasiswa FIB telah mengenal buku karya Ahmad Tohari. Ia juga mengungkapkan bahwa jumlah peserta diskusi melebihi ekspektasi.
“Ini sangat melebihi ekspektasi ya. Karena nggak nyangka aja bakal seramai ini. Karena dengan persiapan yang sesingkat itu dan dari kami pun nggak ada konten publikasi,” ujarnya.
Ervina Eka Savira, mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2023 sekaligus pemantik diskusi bedah buku menyampaikan bahwa kritik sosial dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk masih relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.
“Gimana ini nggak cuma mengkritik soal keterbelakangan masyarakat, terus mengkritik dampaknya juga, terus gimana ternyata ada sesuatu dari luar yang bisa merusak sistem itu gitu. Gimana di sini tuh sistemnya adalah politik. Gimana keterbelakangan itu membantu sistem ini, sistem yang baru ini, buat merusak sistem yang ada di dalam,” ujar Ervina.
Ervina menyampaikan pesan untuk para perempuan di luar sana yang mengalami nasib seperti Srintil untuk terus memperluas pengetahuan dan pengalaman agar mampu memahami serta memperjuangkan hak-haknya.
“Karena kalau kita enggak dapat di lingkungan ini, harusnya kita bisa dapat di lingkungan lain gitu. Supaya kita tuh bisa tahu kira-kira hak-hak kita tuh apa aja. Terus bisa memperjuangkan itu. Kita juga bisa dapat gambaran apakah yang kita alami saat ini tuh ideal dengan yang ada di luar kayak gitu.”
Sementara itu, Dzuhud Prayoga mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga, yang turut hadir dalam kegiatan bedah buku mengaku bahwa dirinya mendapat wawasan baru dan pengalaman yang luar biasa.
Dzuhud juga menambahkan “Harapannya dengan adanya seminar bertajuk keperempuanan ini, bisa menyadarkan bahwasannya perempuan itu adalah suatu makhluk yang harus juga memiliki hak dan keistimewaannya, dan tidak ada strata berbeda dari laki-laki.”