
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Peduli Sosial Universitas Diponegoro (Undip) menyelenggarakan Social on Symphonesia (SOS) 2026 di Politeknik Pekerjaan Umum, Tembalang, Semarang pada Sabtu (10/10/2026). Dalam acara tersebut, Diftong Art Company mementaskan “Pertanyaan-pertanyaan untuk Mnemosyne” yang mengangkat ingatan sebagai gagasan untuk mendorong penonton mempertanyakan kembali hal-hal yang selama ini dianggap telah dipahami.
Selain mengangkat gagasan tentang ingatan, pementasan ini menggunakan topeng sebagai salah satu unsur artistik. Pemilihan topeng berkaitan dengan pencarian simbol yang dapat dihadirkan melalui kesenian tradisional Indonesia.
Caca, Project Officer SOS 2026, menjelaskan bahwa acara tersebut bertujuan untuk memperkenalkan kesenian topeng kepada masyarakat, termasuk filosofi yang terkandung di dalamnya.
“Terus berikutnya untuk teater juga kita pengen nunjukin, kalau misalnya dibalik topeng itu ada makna dan cerita yang lebih dalam lagi.”
Sutradara pementasan, Fisut, mengatakan naskah berangkat dari konsep ingatan yang akrab dalam kehidupan sehari-hari. Melalui naskah ini, ia ingin mendorong penonton melihat konsep tersebut secara lebih kritis.
“Nah, lebih jauhnya, naskah ini punya misi untuk membuat masyarakat membiasakan cara pikir yang lebih mendalam. Cara pikir filsafat gitu, untuk mempertanyakan sedalam-dalamnya, berani berandai-andai,” ujar Fisut.
Fisut menambahkan bahwa penggunaan topeng tradisional juga menjadi cara untuk menghadirkan simbol dalam pertunjukan.
“Kita kan biasanya cuma terfokus sama hal-hal yang umum gitu, kayak badut atau hantu untuk merepresentasikan sesuatu. Padahal kita punya suatu aset yang sangat berharga dari kesenian tradisional, contohnya topeng.”
Salah satu pengunjung, Rani, menyampaikan penafsiran tersendiri terhadap adegan yang menampilkan tokoh bertopeng dan tidak bertopeng.
“Jadi tadi ketika ada dua orang, terus juga ada yang pake topeng juga, itu aku memaknainya mungkin kalau dua orang itu ada di dunia nyata, sedangkan yang pakai topeng itu mungkin ada di khayalan atau cuma di alam pikiran,” tutur Rani.
Rani mengaku memperoleh perspektif baru dalam menikmati teater. Baginya, pertunjukan tidak hanya menyajikan rangkaian adegan, tetapi juga membuka ruang bagi penonton untuk menafsirkan maknanya sendiri.
Reporter: Dea, Syipolo
Penulis: Dea
Editor: Titin