Koleksi Museum Cerminkan Identitas dan Kemajuan Budaya Bangsa

Dok. LPM Hayamwuruk

Museum Ranggawarsita adakan Seminar Kajian Koleksi Peninggalan Budaya Berbahan Logam. Bukan hanya sebagai tempat penyimpanan artefak, museum miliki peran strategis dalam merawat ingatan kolektif bangsa. Melalui artefak, sebuah makna dapat disampaikan kepada masyarakat guna menumbuhkan kesadaran sejarah.

Seminar kajian koleksi yang diadakan pada Rabu, 18 November ini mengangkat tema soal peninggalan logam pada masa klasik. Kepala Seksi Pelestarian Museum Ranggawarsita, Laela Nurhayati Dewi, mengatakan, salah satu cara untuk memberikan pemahaman kepada pengunjung akan identitas dan kemajuan budaya suatu bangsa adalah dengan rekonstruksi memori kolektif seperti kajian koleksi museum.“kajian koleksi sebagai bentuk nyata tugas museum sebagai institusi pendidikan, pelestarian, dan pemajuan budaya dalam membentuk identitas dan jati diri bangsa,” katanya.

Koleksi yang dibahas dalam seminar ini adalah benda-benda peninggalan berbahan logam sejak masa pra sejarah hingga masa klasik, salah satunya adalah yantra. Sebagai salah satu pembicara, Siti Maziyah, sejarawan Universitas Diponegoro (Undip), menjelaskan, yantra adalah alat untuk sarana beribadah yang terbuat dari bahan logam.

Peninggalan budayaseperti yantra menunjukkan bahwa masyarakat Jawa pada saat itu telah memiliki pengetahuan dan menguasai teknologi peleburan logam yang tinggi. Hal ini didukung oleh alat pelebur logam yang ditemukan di Jawa.

“Ini adalah salah satu bukti buatan kita, nenek moyang kita. Jadi tidak semuanya (budaya) kita ini dari India. Karena memang salah satu benda perdagangan dari India itu adalah alat-alat untuk upacara keagamaan,” katanya.

Maziyah juga menyebut penguasaan pembuatan logam sudah dikuasai masyarakat Nusantara sejak masa pra sejarah. Ia bilang, ada dua teknik peleburan logam di Nusantara pada waktu itu yaitu bivalve dan a cireperdue.

“Melalui yantra, diketahui bahwa masyarakat Jawa Kuna pada abad ke-8 hingga ke-10 telah menganut agama Hindu dan Buddha. Dilihat dari alat-alat yang digunakan sebagai pelengkap upacara keagamaan, serta menguasai teknologi peleburan logam,” jelas Maziyah.

Senada, pembicara kedua, Ufi Saraswati, sejarawan Universitas Negeri Semarang (Unnes), mengatakan tradisi dari India tidak datang pada masyarakat yang hampa ilmu. “Karena masyarakat masa pra sejarah telah memberikan penelitian ide-ide, gagasan, perilaku sampai pada hasil kebudayaannya,” kata Ufi.

Ufi mengatakan bahwa hasil kebudayaan berbahan logam pada masa klasik merupakan kontinuitas dari masa pra sejarah. Contohnya adalah kapak corong yang tidak dibuat dengan batu, tapi dari perunggu. “Karena masa prasejarah sendiri, selain mengenal budaya dari batu, itu juga mengenal budaya dari logam. Dan ini muncul pada masa yang disebut masa perundagian,” katanya.

Menurut Ufi, adanya peninggalan masa pra sejarah di masa klasik menunjukkan adanya proses akulturasi antara local genius dengan tradisi India. “Tradisi Hindu Buddha yang datang ke Indonesia itu ternyata tidak sama persis. kalau di India, satu candi itu satu dewa satu dewi. Tapi kalau di Indonesia, itu satu candi ada kumpulan banyak dewa,” ujarnya.

Namun, Ahmad Kamaludin mahasiswa Unnes menilai, meski menarik, kekurangan seminar yang dihadiri mahasiswa dan kelompok pamong budaya ini tidak menghadirkan pembicara yang memiliki konsen di bidang seni kerajinan logam.

“Karena untuk menjelaskan (proses pembuatan) relief-reliefnya, cara pembuatan logam, perlu adanya ahli-ahli di bidang tersebut, agar audiens bisa lebih memahami bagaimana, sih, pembuatan logam dan teknik-tekniknya apa saja,” ujarnya.

Dalam keadaan pandemi COVID-19, Laela mengatakan, kegiatan ini tetap menjalankan protokol kesehatan dengan membatasi pengunjung, pemberian jarak, dan pemakaian masker. “Kita batasi tidak sampai 30 peserta,” ujarnya.

Reporter: Airell

Penulis: Airell

Editor: Zanu Triyono

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top