[ULASAN FILM] Nobody Knows: Kisah Penelantaran Anak

Sumber gambar: gubuksinema.blogspot.com

Informasi Film

Judul Film       : Nobody Knows (誰も知らない;Dare mo Shiranai)

Sutradara         : Hirokazu Koreeda

Produser          : Hirokazu Koreeda

Penulis             : Hirokazu Koreeda

Tanggal Rilis   : 7 Agustus 2004

Durasi              : 141 menit

Nobody Knows menceritakan tentang empat anak, masing-masing dengan ayah yang berbeda, yang ditelantarkan oleh ibunya selama berbulan-bulan dengan sejumlah uang yang tidak banyak. Mereka harus bertahan di tengah kehidupan kota yang modern tanpa ada yang mengerti keadaan mereka, seperti judul film ini, Nobody Knows. Film ini terinspirasi dari peristiwa nyata tahun 1988 yang disebut dengan “Peristiwa Empat Anak-anak Terlantar Nishi-Sugamo”.

Film dimulai dengan Fukushima Keiko (YOU), seorang single-mother, pindah ke apartemen barunya bersama anak sulungnya yang berusia 12 tahun, Fukushima Akira (Yagira Yuya). Mereka kemudian menyapa pemilik apartemen dan Keiko memperkenalkan Akira sebagai anak semata wayangnya. Keiko berusaha menyembunyikan fakta bahwa ia mempunyai anak selain Akira. Namun, saat memindahkan barang-barang mereka, ternyata ada dua anak lagi yang disembunyikan di dalam dua koper besar. Mereka adalah Shigeru (Kimura Hihei) dan Yuki (Shimizu Momoko). Anak yang satunya lagi, Kyoko (Kitaura Ayu), dijemput oleh Akira di stasiun pada malam hari. Mereka kemudian menyelinap masuk ke apartemen.

Setelah akhirnya semua anggota keluarga berkumpul, Keiko menjelaskan beberapa peraturan yang harus ditaati oleh anak-anaknya: Tidak boleh ada yang pergi keluar selain Akira dan tidak boleh berbicara lantang atau berteriak. Karena ia tidak ingin hal serupa terjadi seperti di apartemennya yang dulu, bahwa mereka diusir. Dan untuk urusan mencuci baju, Kyoko hanya boleh ke balkon saat dirasa tidak ada orang lain yang dapat melihatnya. Sang ibu selalu bekerja tiap pagi dan tidak jarang pulang larut. Akira bertugas untuk mengurusi kebutuhan mereka dan mengurus adik-adiknya.

Awalnya, mereka terlihat seperti keluarga bahagia. Suatu hari, sang ibu bercerita kepada Akira bahwa ia mempunyai kekasih baru dan mengatakan bahwa kekasihnya adalah orang yang baik dan dapat mengerti dirinya. Oleh karena itu, ia menjelaskan pada Akira apabila ibunya berhasil dengan kekasihnya itu, ia akan menjelaskan kondisi mereka dan anak-anaknya dapat pergi ke sekolah. Tetapi kemudian, suatu hari ibunya pergi dan meninggalkan catatan serta sejumlah uang untuk Akira dan memintanya menjaga adik-adiknya karena ibunya akan pergi untuk sementara waktu.Akira yang dimintai tolong itu kemudian menjelaskan kepada adik-adiknya bahwa ibunya pergi untuk sementara waktu karena ada urusan pekerjaan. Ketika uang yang dipegang Akira mulai menipis, ia mendatangi ayah dari masing-masing anak dan berharap mendapatkan sedikit uang.

Singkat cerita, sang ibu pun kembali sambil membawa banyak hadiah untuk anak-anaknya. Namun, itu tidak bertahan lama. Akira mengantar ibunya ke stasiun. Di perjalanan, ia menanyakan kepada ibunya, kapan ia akan menjelaskan keadaan mereka ke kekasih barunya itu. Akira juga menanyakan kapan ia akan pergi ke sekolah, dan ibunya menjawab bahwa orang bisa sukses tanpa pergi ke sekolah. Setelah itu, sang ibu pun kembali pergi meninggalkan anaknya dan menjanjikan akan mengirim sejumlah uang. Setelah kepergiannya kali ini, ia tidak pernah sekalipun kembali untuk menengok anaknya. Ia hanya mengirim sejumlah uang tahun baru. Akira harus berjuang untuk mengurus semuanya. Sampai akhirnya, tagihan listrik, tagihan gas, dan tagihan air dicabut dari apartemen mereka. Pemilik apartemen juga menagih uang sewa. Dalam keaadan seperti itu, mereka memenuhi kebutuhan air dengan mengambil air di taman. Dan mereka hidup dengan keterbatasan itu serta kekurangan makanan.

Keadaan yang sulit itu bukanlah akhir, suatu hari setelah Akira kembali ke apartemennya, ia menemukan bahwa Yuki tidak sadarkan diri setelah terjatuh dari kursi. Adiknya yang lain, Kyoko dan Shigeru, hanya bisa menatapi tubuh Yuki. Kemudian Akira pergi untuk menelepon ke tempat ibunya berada, tetapi tidak ada jawaban. Akira pun frustrasi dan pergi ke apotek, ia mengutil beberapa barang untuk mengobati Yuki. Tetapi pada akhirnya, nyawa Yuki tetap tidak tertolong. Lalu Akira meminta tolong kepada Saki (Kan Hanae) untuk meminjamkannya uang dan mereka pergi bersama ke Bandara Internasional Haneda untuk menguburkan jasad Yuki.

Pertemuan Akira dengan orang di sekitarnya

Akira sering pergi keluar untuk berbelanja atau hanya untuk sekadar jalan-jalan. Suatu hari, ia sedang berbelanja di toserba, lalu ada anak-anak yang memasukkan barang-barang toko ke tas belanja Akira. Sesaat setelah Akira keluar dari toko, sang manajer toko menyeret Akira dan menanyakannya apakah ia mencuri. Akira yang memang tidak melakukan pencurian pun mengatakan bahwa ia tidak mencuri, dan tidak pernah mencuri. Sang manajer toko ini tidak percaya. Kemudian salah satu pekerja toko tersebut, Miyajima Sanae (Tate Takako), datang dan mengatakan bahwa Akira tidak mencuri, melainkan ada anak-anak yang memasukkan barang-barang tersebut ke tasnya. Setelah pertemuan ini, Sanae terlihat beberapa kali membantu Akira, seperti ketika ia membantu menuliskan nama Akira dan adik-adiknya di amplop berisi uang untuk mereka. Sanae ini juga mengerti keadaan Akira, bahwa ia dan adik-adiknya ditinggal oleh ibunya.

Akira juga sempat mempunyai teman sebayanya. Mereka bertemu saat Akira pergi ke game center dan mengamati anak yang sedang bermain game disitu. Sampai akhirnya ia berteman dengan dua anak yang ia temui di game center. Akan tetapi, kedua anak tersebut membawa pengaruh buruk kepada Akira. Ia lebih sering bermain dan menghabiskan uangnya untuk membeli game dan makanan untuk teman-temannya tersebut. Teman-temannya itu pun sering datang ke apartemen Akira untuk bermain game. Suatu waktu, salah satu temannya itu ada yang mendorong Shigeru, Kyoko serta Yuki yang melihatnya menjadi resah. Oleh karena uang yang semakin menipis akibat digunakan Akira untuk bersenang-senang, Kyoko menyerahkan uang tabungannya ke Akira dan mereka pun membeli makanan-makanan yang mereka inginkan. Kedua teman Akira tersebut juga pernah mengajak Akira untuk mencuri mainan di toserba yang biasa mereka datangi. Akira tidak mau, dan dia ditinggal oleh teman-temannya itu. Suatu hari, Akira mendatangi sekolah teman-temannya dan menanyakannya kenapa mereka tidak datang lagi padahal Akira sudah membeli game baru. Tetapi terlihat bahwa mereka menghindari Akira, dan mereka berkata buruk di belakang Akira. Sampai situlah hubungan mereka.

Yang terakhir yaitu ada Saki.Akira sudah beberapa kali bertemu Saki yang merupakan seorang siswi SMP. Saki selalu terlihat sendirian dan ia merupakan korban perundungan. Sampai ketika Akira dan adik-adiknya bermain di taman, Shigeru mendatangi Saki yang sedang duduk sendirian dan menanyakannya apakah ia tidak pergi ke sekolah. Setelah pertemuan itu, Saki kemudian terlibat dengan Akira dan adik-adiknya. Dia sering berkunjung ke apartemen Akira dan bermain bersama mereka. Konflik muncul ketika Akira sudah tidak punya uang lagi dan Saki berniat untuk membantunya. Saki memperoleh uang dari hasil ia menemani lelaki dewasa di karaoke. Akira yang mengetahui ini merasa tidak terima dan marah, ia mengatakan bahwa ia tidak perlu uangnya. Sejak itu, Saki tidak pernah datang ke apartemen Akira. Namun di akhir film, ketika Yuki sudah meninggal, Akira meminta bantuan ke Saki untuk meminjamkannya uang. Mereka kemudian membeli banyak sekali Apollo Choco, jajanan kesukaan Yuki, dan menaruhnya di koper bersama jasad Yuki. Lalu mereka berdua pergi ke Bandara Internasional Haneda untuk menguburkan jasad Yuki sambil memandangi pesawat-pesawat yang terbang di langit.

Anak adalah beban?

Kyoko merupakan wanita yang selalu berganti-ganti pasangan, dan ia selalu melahirkan anak dari pasangan-pasangannya tersebut. Tetapi pada akhirnya ia juga hanya ditinggalkan pasangannya dan harus menampung anak-anaknya. Tanpa suami, mempunyai anak yang banyak, dan harus tetap bekerja, merupakan hal yang tidak mudah. Oleh karena keadaannya itu, ia tidak bisa menyekolahkan anak-anaknya. Menjadi orang tua, khususnya seorang ibu, tidak hanya melahirkan anak. Tetapi juga merawat, melindungi, dan memenuhi hak-hak anak. Kewajiban sebagai orang tua memanglah berat. Kyoko dengan keadaan keluarganya yang seperti itu, kembali mendapatkan kekasih baru. Meninggalkan anak-anaknya, tentunya merupakan keinginannya untuk bebas dari kewajibannya sebagai orang tua. Akira bahkan menyebutnya egois, tetapi dibalasnya dengan mengatakan bahwa ia juga ingin bahagia. Tetapi apakah dengan menelantarkan anak-anaknya itu hal yang benar? dan apakah dengan begitu ia menjadi bahagia?

Kasus penelantaran anak bahkan masih seringterjadi di zaman sekarang. Tidak sedikit anak-anak yang tidak mendapatkan kasih sayang orang tuanya.Awalnya, orang tua pergi bekerja dengan alasan “demi anak”. Tetapi semakin lama, anaknya sendirilah yang justru ia abaikan. Mendidik anak dan merawat anak bukanlah hal yang mudah. Membesarkan anak dalam hal ini membiayai, merawat, melindunginya, menyekolahkannya, dan hal-hal lainnya, tentu saja perlu pengorbanan. Tapi bukankah memang itu kewajiban orang tua? Kalau pada akhirnya anak yang menjadi korban, apakah anak adalah beban?

Semakin besarnya tanggung jawab dan tekanan yang dihadapi oleh generasi muda di zaman sekarang, menjadikan mereka lebih khawatir mengenai masa depannya. Banyak ditemukan anak-anak muda, khusunya perempuan-perempuan zaman sekarang yang merasa takut tidak bisa menjadi orang tua yang baik. Orang tua yang baik tentu saja berbeda-beda bagi setiap orang. Tetapi apabila melihat kasus-kasus penelantaran anak, pembuangan anak, kekerasan terhadap anak, dan sebagainya, tentu saja kita akan berpikir bahwa jangan berpikiran untuk mempunyai anak apabila memang belum siap. Kesiapan ini yaitu berupa kesiapan mental dan kesiapan finansial.

Dari kasus-kasus seperti inilah banyak anak muda zaman sekarang menunda pernikahan, atau bahkan tidak ingin menikah, bahkan tidak ingin mempunyai anak. Ketakutan-ketakutan ini disebabkan oleh karena ketidaksiapan mereka untuk mengurus dan mendidik anak. Takut apabila pada akhirnya mereka tidak bisa merawat dan mendidik anak mereka dengan baik.Oleh karena itu, para calon orang tua harus memikirkan baik-baik ketika ingin mempunyai anak dan kemudian harus siap memenuhi hak-hak anaknya. Jangan sampai nantinya anak diperlakukan yang tidak semestinya. Kalau ngomong kasarnya sih, jangan cuma mau enaknya aja dong!

Dalam film ini, tidak banyak adegan-adegan drama yang berlebihan. Justru Koreeda mampu membuat penonton menikmati interaksi tokoh-tokohnya yang terlihat natural. Selain itu, tidak banyak penjelasan dalam film ini, penonton dibiarkan berimajinasi dan memahami apa yang sedang terjadi. Meskipun durasinya lumayan panjang, film ini tidak membosankan sama sekali dan pesan dari film ini dapat tersampaikan dengan baik.

Penulis: Yulita

Editor: Della

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top