Merayakan Dies Natalis Sastra Indonesia dan FIB Undip ke-59, Pagelaran Ketoprak Kembali Digelar dengan Tajuk “Dalang Soponyono”

Dok.Hayamwuruk/Khansa

Pagelaran Ketoprak “Dalang Soponyono” telah diadakan di Gedung Serba Guna (GSG), Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Diponegoro (Undip) pada Jumat (4/10/24). Acara ini digelar dalam rangka perayaan Dies Natalis Sastra Indonesia dan FIB Undip yang ke-59.

Sama seperti tahun lalu, pagelaran ketoprak kali ini juga merupakan kolaborasi dengan Sanggar Sri Mulyo Jurang Belimbing, tetapi tema yang diambil berbeda dari tahun sebelumnya.

Laura Andri Retno Martini selaku pimpinan produksi pagelaran ketoprak ini mengemukakan bahwa tema “Dalang Soponyono” sengaja diangkat agar pagelaran ketoprak ini tidak melulu mengambil tema yang berat.

“Dua ketoprak di tahun lalu itu kan sudah dengan tema yang berat. Darpo Kayun itu ada unsur politiknya, kemudian Diponegoro itu lebih ke mode sejarah. Nah kalau ini, kami mencoba mencari tema yang ringan, yang santai, yang bisa dinikmati semuanya tanpa unsur politik. Tapi sisi sastranya, sisi seninya itu jelas kelihatan,” jelas Laura.

Selanjutnya, Laura berharap pagelaran ketoprak ini menjadi sebuah kegiatan tahunan sehingga menjadi ciri khas dari FIB.

“Harapannya ini menjadi sebuah kegiatan tahunan sehingga branding FIB itu ketoprak ini. Kita lihat potensi-potensi dari dosen-dosen, mahasiswa-mahasiswa itu kan keren-keren. Nah, itu bisa dikembangkan,” ujar Laura.

Sementara itu, salah satu Dosen Sastra Indonesia, Mulyo Hadi Purnomo yang berperan sebagai Wedana Soponyono menyampaikan tantangan yang dihadapi selama proses persiapan acara.

 “Yang paling susah itu soal menghafal karena bahasa Jawanya bukan bahasa Jawa sehari-hari. Membangun karakter juga tentu saja nggak mudah, ya,” tuturnya.

Mulyo juga menyampaikan bahwa proses latihan relatif pendek karena beberapa aktor ketoprak sudah beberapa kali tampil.

“Jadi, sudah terbiasa menghafal dan rileks. Hari ini juga banyak improvisasi yang muncul,” ujar Mulyo.

Mulyo menambahkan harapannya agar para aktor dalam pagelaran ketoprak ini dapat menghibur audiens.

“Kami ingin menghibur dan mudah-mudahan bisa lebih cair sehingga audiens yang mungkin bukan penonton setia ketoprak juga bisa menikmati guyonan-guyonan itu,” tutur Mulyo.

Hadirnya dosen-dosen FIB sebagai aktor ternyata cukup menarik minat penonton untuk menghadiri pagelaran ini. Hal itu diungkapkan oleh Erina Nur Hikmah, mahasiswi Sejarah angkatan 2021.

“Hal pertama yang menarik adalah pemainnya sih, kebanyakan dari dosen Sejarah juga Sastra Indonesia. Seru banget, dosen-dosen bisa memainkan peran dan menjadi branding bagi FIB,” ungkap Erina. 

 

Reporter: Alena, Sindah, Ayunda
Penulis: Alena
Editor: Amel

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top