Semarak Gebyuran Bustaman Sambut Ramadan

Dok.Hayamwuruk/Nara

 

Sore itu, orang-orang mulai memasuki gang sempit Kampung Bustaman pada Minggu (15/02/2026). Di tengah gang, warga sudah bersiap menyambut orang-orang yang datang untuk mengikuti Gebyuran Bustaman. Tangan-tangan mereka mengoleskan cat air warna-warni ke wajah para pendatang. Warna merah, biru, kuning, hingga hijau meninggalkan jejak untuk menunjukkan kesiapan perang air. 

Ratusan plastik berisi air berwarna juga telah disiapkan untuk memeriahkan Gebyuran Bustaman. Meskipun beduk belum dipukul, tetapi riuh sudah pecah lebih dulu. Warga Kampung Bustaman berlarian saling mengoleskan cat air. Begitu beduk dibunyikan, air mulai dilempar dari segala arah. Seketika, gang padat penduduk itu penuh tawa dan langkah kaki yang berlarian melemparkan plastik air. Tak ada tubuh yang bisa tetap kering.

Di tengah-tengah peserta yang basah kuyup, dua pengunjung yang baru pertama kali datang tak berhenti tersenyum. Ferdiana dan Ayupita, mahasiswa Universitas Diponegoro, menceritakan pengalaman pertama mereka mengikuti Gebyuran Bustaman.

“Seru banget sih karena di kampungku juga gak ada kayak gini. Pertama kalinya (ikut -red), ternyata warga di sini antusias banget,” ungkap Ferdiana.

Bagi Lukmanul Hakim, panitia sekaligus sekretaris RT setempat, tradisi ini menyimpan makna yang mendalam.

“Berangkat dari kebiasaan memandikan cucunya yang terinspirasi dari Mbah Bustam, seorang sesepuh bernama Ayah Hari mencetuskan ide mengadakan tradisi Gebyuran Bustaman dengan modernisasi perang air. Tradisi ini diciptakan dengan niat membersihkan diri menyambut bulan suci ramadhan tanpa ada perasaan marah kalau terkena air,” ujarnya.

Lukmanul mengatakan bahwa Gebyuran Bustaman memiliki aturan yang sederhana dalam perang air ini.

“Aturannya satu sih, tidak boleh marah dengan catatan air (yang digunakan -red) betul-betul air yang bersih dan sesuai,” tambahnya.

Meski tahun ini pelaksanaan Gebyuran Bustaman sempat molor karena menunggu tamu undangan, antusiasme peserta tetap tinggi.

“Alhamdulillah, tambah tahun tambah greget. Baru kali ini durasi Gebyuran Bustaman agak lama,” ungkapnya.

Harapan juga datang dari Lukmanul untuk regenerasi panitia. “Harapan saya karena sudah lelah jadi panitia. Saya berharap remaja lain ada sebagai penerusnya, tetap semangat,” ujar Lukmanul.

Menjelang magrib, gang Bustaman mulai lenggang dan warga bergotong royong membersihkan plastik yang berserakan. Ember-ember kosong tergeletak, pakaian basah menempel di badan, dan warna-warna di wajah perlahan memudar. Namun, terdapat senyum yang melekat di wajah warga Kampung Bustaman.

 

Reporter: Deajeng, Syipolo, Lidia, Titin, Lia, Zuhrial, Sania, Arolla, Tri, Nara

Penulis: Titin

Editor: Syipolo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top