Agus Maladi Irianto: “ Biar Kita Miskin, Asal Tetap Sombong”


Sekitar
pukul 20.00 WIB (13/06/11) Jalan Lemper Tegah tampak ramai oleh kendaraan yang
berlalu lalang, tetapi suasana lenggang kami (reporter
Hayamwuruk) rasakan saat membelok ke kanan memasuki gapura
bertuliskan Lamper Tengah XXII. Kami menyusuri jalan kecil yang kanan kiri
jalannya dipadati rumah-rumah. Karena kami belum tahu persis letak rumah
bernomer 12 yang akan kami kunjungi, sehingga beberapa kali kami membelok ke
gang yang salah. Tidak lama kemudian kami mendapatkan informasi dari warga yang
berlangsung mengenal tokoh yang ingin kami temui, “
O, masuk ke gang ini saja mas, di ujung belok kiri sekitar serratus
meter
  sebelah kiri, nah itu rumah Pak
Agus,” katanya.

Kami berutung, sebab gang yang
ditunjuk tidak jauh dari posisi kami saat bertanya. Namun, kebingungan belum
berakhir karena setelah mengikuti petunjuk pria itu kami belum meemukan rumah
bernomer 12. Karena itu kami memutuskan untuk bertanya lagi, kali ini pada
seorang wanita paruh baya. Wanita itu menunuk persis ke sebrang jalan depan
rumahnya. Kami agak bigung karena yang ditunjuk terlihat seperti gang, tetapi
wanita itu memastikan bahwa ‘gang’ tersebut adalah rumah yang kami cari. Kami
terkejut ketika memasuki ‘gang’ yang ternyata merupakan jalan masuk menuju rumah
berhalaman luas dengan bangunan unik 
yang berornamen ukiran kayu. Setelah memarkir motor, kami langsung
disambut seorang pria yang mengenakan kaos hitam. Lalu ia mempersilahkan kami
duduk di kursi ruang tengah yang bercat putih dengan banyak ukiran kayu
menghiasi sisi-sisi ruangan. Tak lama menunggu, pintu di depan kami, perlahan
terbuka, seorang pria yang sudah sangat kami kenal muncul dengan senyum ramah
“Di sini saja!” ucapnya. Kami diajak ke ruang depan yang lebih kecil, namun
penuh dengan ukiran kayu, bahkan dindingnya. Setelah bersalaman, kami pun
langsung ngobrol dengan dekat
dekan  FIB yang baru dilantik pada bulan
Maret 2011.

Agus Maladi Irianto lahir di
Wonosobo, 4 Agustus 1962 dan dibesarkan di tengah-tengah keluarga yang status
ekonominya menengah ke bawah, ayahnya seorang PNS biasa. Sosok yang mendirikan
Laboratorium Seni dan kebudayaan Lengkong Cilik ini menamatkan pendidikan
dasarnya di SD Kanisius, sekolah dengan penerapan disiplin ketat ala Belanda.
Selanjutnya ia meneruskan pendidikan di SMPN 1 Wonosobo.

Di
SMA, Agus Maladi memilih peminatan  IPS
dengan alasan tidak menyukai pelajaran IPA. “Gak sukanya bukan gak
pinter, tetapi karena tetangga saya itu guru kimia, saya jengkel  banget  sama guru kimia ini, makanya sewaktu
pelajarannya saya gak masuk, supaya
saya gak dimasukkan ke IPA,” tuturnya lancar membongkar ingatan masa kecil.
Agus Maladi dituduh
mencuri mangga oleh guru kimianya, jelas saja ia jengkel karena merasa
tuduhan itu tidak benar adanya. Selepas kejadian itu, mata pelajaran kimia yang
diajarkan oleh guru itu jarang ia ikuti, ia bahkan memilih basket untuk
menghabiskan waktu pelajaran. Sejak saat itulah ia tidak menyukai pelajaran IPA.

Geliat menulisnya sudah mulai
nampak sejak ia duduk di bangku SMA kelas 2, karya-karya sudah dimuat di
majalah Midi (sekarang majalah Hai) dan majalah Semangat di Yogyakarta.
Tulisannya ketika itu masih bertemakan kehidupan remaja.

Kegiatan berkesenian sudah ia
lakukan sejak remaja dengan mengikuti kesenian rakyat keliling, Kuda Kepang.
Ketertarikannya pada kesenian ini berawal dari rasa penasaran ingin membuktikan
kebenaran bila dicambuk dan makan kaca di kesenian tersebut tidak sakit. Tokoh
yang paling berpengaruh dalam pembentukan karakternya adalah sang ibu yang
termasuk dalam golongan priyayi, ibunya secara langsung mendapatkan pendidikan
Belanda. Kedisiplinan dan harga diri sangat kokoh dibangun dalam setiap
pengajaran yang diberikan sang ibu.

“Seperti saya ngomong kepada
mahasiswa, biar kamu miskin asal sombong, itu artinya ada kepercayaan diri,
biar kamu di FIB kamu percaya diri, jangan kalah dengan fakultas lain, dulu ibu
saya menanamkan seperti itu. Jadi, sekarang ini kita ngumpul dengan dekan-dekan yang lain gak pernah minder karena kalau kita minder kita diledek terus, udah miskin kok fakultas kita, masa kita terus diledekin. Kita harus semangat,
itu yang ingin saya tanamkan kepada mahasiswa, cobalah lakukan yang mampu kita
lakukan,” terangnya agak menerawang ke langit-langit rumah.

Sebelum akhirnya berlabuh di
Fakultas Sastra (FS)–sekarang Fakultas Ilmu Budaya–Undip, Agus Maladi
sebenarnya sudah sempat diterima di STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) yang
terletak di Jalan Dharmawangsa Kebayoran Baru. Ia berhasil mengalahkan ribuan
pesaing dalam seleksi masuk di IStora Senayan. Bahkan, ukuran tubuhnya sudah
diukur oleh Ikatan Dinas supaya dibuatkan baju untuk acara verifikasi.

Secara mengejutkan Agus Maladi
memilih untuk tidak hadir di hari verifikasi yang membuatnya secara otomatis
membuang kesempatan untuk menimba ilmu di sana. Alasannya lagi-lagi karena
tetangga. “Gara-gara tetangga saya juga yang bekerja di Bea Cukai, kalo di
kotak kecil itu kan orang kaya pasti kelihatan, mobilnya banyak!” Ternyata Agus
Maladi merasa aneh dengan kekayaan berlimpah yang menurutnya terlalu
‘berlebihan’ untuk seorang yang bekerja di Bea Cukai. Bukannya malah
berkeinginan memiliki banyak mobil seperti tetangganya itu, ia malah memilih
mengikuti kata hatinya untuk tidak terjebak pada kemewahan yang ‘aneh’. Kegiatan
setelah itu adalah menulis di sana-sini sebagai freelancer. Hasil dari menulisnya sudah lumayan untuk menghidupi
kehidupannya di Jakarta. Walau begitu, penghasilannya tidak tetap, saat
tulisannya tidak dimuat ia harus rela untuk tidak makan selama dua hari.
Sampailah ia pada titik jenuh dengan kegiatannya dan berkeinginan untuk
melanjutkan pendidikan ke Universitas.

Akhirnya ia memutuskan untuk
mengikuti Perintis (sekarang SNMPTN) regional yang di dalamnya diisi oleh
universitas-universitas di wilayah Jawa; UI, Undip, ITB, UGM, dll. Dari ketiga
pilihan yang diberikan, Agus Maladi langsung memilih Sastra Indonesia, FS,
Undip sebagai pilihan tunggal. Hal tersebut dikarenakan ia berkeinginan menjadi
seorang sastrawan dan ingin mencoba kehidupan di Semarang.

Ironis, Agus Maladi merasa
keinginannya untuk menjadi sastrawan tidak ia dapatkan dari Fakulas Sastra yang
malah mengajarkan tentang teori-teori linguistik dan sastra, bukan cara untuk
menulis. Di awal proses kuliah, ia sudah protes dengan kondisi tersebut. Apalagi,
teori yang dipelajari rata-rata sudah didapatkannya dari buku yang ia baca
ketika SMA. “Saya sudah bela-belain ingin jadi sastrawan, tapi kok saya gak jadi sastrawan, hampir buku-buku yang diutarakan sudah saya
baca. Saya sudah tahu Albert Camus, Kafka, tulisan-tulisan luar sudah saya baca
waktu SMA, saya jadi agak frustasi. Akhirnya saya tinggal kerja di Pos Kota,
saya jadi wartawan aja.”

Ia lalu nyambi bekerja sebagai wartawan Pos Kota di Jakarta, bentuk
pelampiasan dari ketidaksampaian keinginannya di FS. Ia ditugaskan di RSCM
(Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo) untuk mencatat mayat-mayat korban tabrakan di
Jakarta guna mengisi daftar korban kecelakaan di bagian depan koran tersebut.
Alhasil, ia kembali merasa jenuh menghadapi rutinitas seperti itu, ia
memutuskan untuk kembali menulis artikel dan fiksi, lalu mengirimkannya ke
media-media di Semarang dan Yogyakarta.

Semangat kuliahnya tumbuh kembali
saat semester 2, apalagi setelah ia mendapat beasiswa Pengembangan Akademik.
Hasil dari beasiswa tersebut cukup untuk membiayai kehidupan sehari-harinya,
ditambah lagi kegiatan menulis membuatnya jadi mahasiswa yang terbilang tajir.
“Dosen tahun ’85 masih naik becak, vespa, saya sudah bawa mobil, itu dari hasil
nulis,” ungkapnya bersemangat. Suami Anna Lisnawati ini juga berperan penting
atas lahirnya LPM Hayamwuruk dan Teater Emka. Waktu itu belum ada dukungan dana
dari dakultas untuk kegiatan kemahasiswaan. Mahasiswa harus rela merogoh
kantong untuk tetap menjalankan kegiatan, termasuk Agus Maladi yang terhitung
sudah bekerja.

Ketika itu, LPM Hayamwuruk sanggup
menerbitkan majalah dalam satu tahun dengan pengerjaan yang masih sangat
manual. “Dulu itu saya masih ingat kalau ngelay-out pakai cara manual, 2 hari gak tidur karena nempelin
tulisan-tulisan itu,” terangnya sambil tersenyum.

Di Teater Emka, kegiatan Malam
Gairah Bulan Purnama (MGBP) dapat ia selenggarakan setiap bulannya. Itulah yang
menjasi salah satu kekuatan mahasiswa ketika itu, militansi dan berani
melakukan sesuatu di tengah keadaan yang sulit.

Namun, ia tidak mau membandingkan
terlalu jauh antara mahasiswa pada zamannya dengan mahasiswa sekarang, karena
tantangan dan ruang akses informasinya pun sudah berbeda. “Jadi kemiskinan itu
membuat kami jadi militan. Sekarang akses sudah sangat mudah, orang bisa
mengakses apa pun sekarang, kompetitornya sudah banyak, tidak seperti dulu
kompetitornya masih sedikit,” tukasnya sambil membenarkan posisi duduk.

Banyak cerita yang diungkapkan Agus
Maladi termasuk posisi FS di mata mahasiswa saat itu. FS dinomerduakan diantara
fakultas lain, bahkan oleh mahasiswanya sendiri. Bagi yang laki-laki, masuk ke
FS lebih dikarenakan tidak diterima di fakultas lain. Sedangkan bagi wanitanya
masuk FS hanya untuk mencari jodoh. Mereka beranggapan rata-rata mahasiswa FS
cantik-cantik sehingga banyak mahasiswa dari fakultas lain yang mencari pacar
di sana. Agus Maladi termasuk mahasiswa yang berprestasi dalam hal akademik. Ia
lulus di tahun ’86 dengan presikat cumlaude,
menjadi mahasiswa dengan IPK tertinggi di Undip. Ketika itu ia pun diberi
kesempatan  untuk berpidato dihadapan
lulusan lain di Auditorium Kampus Bawah.

Untuk
S2 dan S3 ia memilih Antropologi di Universitas Indonesia. Prestasi akademisnya
berlanjut, di antara lulusan S3 waktu itu, ia menjadi lulusan terbaik dengan
predikat summa cumlaude dengan nilai
akhir 3,94 dan menyelesaikannya  hanya
dalam waktu, 2,5 tahun, ini mejadi kejutan bagi UI, sebab bisasanya nilai
tertinggi diraih oleh mahasiswa eksakta. “itu dirayain oleh rektornya malah di Undip gak, ngasih selamat aja gak
gak.
Jiwa berkesenianya sangat kental. Sehingga profesinya dosen tidak
menyurutkan produktifitas karyanya, mulai dari membuat naskah lakon hingga
hasil-hasil penelitiannya di bidang kesenian dan kebudayaan.

Ada cerita menarik saat ia menjual
tiket pentas teaternya. Penonton teater di Semarang ketika itu masih sedikit,
sehingga ia harus mengeluarkan strategi-strategi  agar tiket itu bisa terjual. Mulai dari
menyuruh kru teater untuk berakting di traffic  light
– memakai kostum dan make up  persis dengan apa yang mau dipentaskan,
sampai mengadakan arisan penonton dengan cara menagih dari rumah ke rumah. Dari
penarikan arisa tersebut terkumpul 5 ribu yang ditukarka dengan selembaran
tiket, stategi paling uniknya adalah menjadikan kru sebagai calo yang menjual
tiket. “ Di tiket box saya tulis ‘tiket habis’ padahal saya kerahkan anak –
anak buah saya yang gak main  untuk seolah-olah menjadi makelar, luar
biasanya itu malah dibeli sama calo beneran, “tuturnya sambil melepas tawa.
Strategi itu yang membuatnya dekat dengan banyak tokoh besar sekarang ini, Putu
Wijaya, Remy Silando, seringnya nginep di sini, karena romantisme masa lalu itu
masih ingat, bagaimana  saya mencoba agar
tiket bisa laku,” tambahnya.

Tidak
perlu bahan signifikan dalam hidupnya setelah menjadi dekan, hanya rutinitas
pekerjannya yang lebih banyak. Tetapi, sejak melanjutkan studi S3 Antropologi
UI, kegiatan kesenian Lengkong Cilik sudah jarang terlaksana. Penyebabnya
adalah padatnya aktivitas di luar rumah dan permasalahan dana dalam
penyelenggaraan.

Memang
tidak mudah untuk secara berkelanjutan 
memelihara rutinitas kebudayaan yang ditopeng oleh dana pribadi. Apalagi
setiap kegiatan yang diadakan selalu dipenuhi oleh masyarakat sekitar—semuanya
diberikan jatah makan. “ Beberapa tahun ini vakum karena kegiatan saya dan budget. Sekecil apapun kita tetap
menyediakan makan, konsumsi, mau ditarik dari Undip juga berat.”

Pernah
suatu ketika, waktu saat pengadaan acara kesenian Lengkong Cilik, Penampilan
yang datang sebanyak 2 truk, padahal sewaktu ditelpon mengatakan hanya akan
datang 17 personil. Hal itu sering dialami Agus Maladi sehingga ia harus
mengeluarkan dana ekstra untuk konsumsi.

Ia
sangat berharap UKM dan HMJ yang ada di FIB memiliki gairah dalam berkegiatan.
Sebeb, pihak luar akan melihat geliatyang dilakukan mahasiswa ketimbang
akademis, secara khusus ia mumuji kinerja dari PD III, Mujid Farihul Amin, yang
bisa bekerja dengan baik dan selalu dekat dengan mahasiswa. “Dia akrab dengan
mahasiswa, itu penting, karena kalau beranjak dengan mahasiswa pasti gak bisa
kepilih dua kali, itu aset memang sekarang ini kami ingin memngkas jarak
anatara mahasiswa dengan dosen. Harus tetap akrab, saling menghormati.”
Imbuhnya.

Program yang ia gagas adalah
‘Gedung Tumbuh’,  memaksimalkan peran
alumni yang sudah berhasil delam karir. Misalnya, alumni Hayamwurruk yang sudah
sukses menyumbangkan dana untuk membangun ruangan khusu untuk LPM Hayamwuruk,
begitu pun dengan alumni dari Prodi atau UKM yang lain. “Umpanya alumni HW
siapa sih yang berhasil? Sudahlah, kamu bikin ruangan untuk HW, alumni tetater siapa
yang berhasil, bikin ruangan. Jadi HMJ UKM ada yang biayai, master plan kita seperti itu, karena
kalau kita bangun sendiri berat, karena miliyaran.” Ucapnya sambil menyandarkan
pundak di kursi, ia tampak lelah sekali. Banyak sekali dampak postif yang ia
dapatkan dengan masuk dalam dunia kepenulisan, baik sewaktu menjadi wartawan
maupun penulis lepas dari berbagai media. Dari segi finansial, menulis
membrinya banyak penghasilan yang bisa membiayai kegiatan dan proses
kuliahannya. Pengalaman, militans, dan kemahiran menembus narasumber banyak membantunya
dalam proses penelitian yang ia lakukan.       
Selamat Jalan Prof. Dr. Agus Maladi Irianto, M.A.
“Jasamu akan terus dikenang dan dilanjutkan”
(Oleh: Qur’aul Hidayat Idris.
Reporter: Achmad Dwi A, Umi Kholidah, Syaiful Romadhon.

(Tulisan sebelumnya dimuat di Majalah Hayamwuruk Edisi XXI 2011 )

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top