Menilik Perlawanan Perempuan Adat Melalui Film “Tanah Ibu Kami”

Sumber Gambar : bersatoe.com

The Gecko Project mengadakan diskusi film Tanah Ibu Kami melalui Zoom dan Youtube pada Jumat (15/01/2021). Film dokumenter ini mengangkat kisah perlawanan perempuan adat dalam upaya mempertahankan wilayahnya terhadap ancaman eksploitasi sumber daya alam akibat pembangunan pabrik semen, sebagaimana fokus dari The Gecko Project dalam mengekspos tindak korupsi yang mendorong pencaplokan lahan dan kehancuran hutan-hutan tropis.

Tom Johnson, editor The Gecko Project, mengatakan bahwa alasan pemilihan film ini sebagai bahan diskusi adalah karena film ini memiliki cerita yang dalam dan menarik dari para wanita (atau sekelompok wanita), serta mengangkat berbagai macam isu dan subjek. Diskusi yang bertajuk, Yang Melawan di Garda Depan: Kisah Para Perempuan Pejuang Lingkungan dan Hak Masyarakat Adat ini dimoderatori oleh Nurdiyansah Dalidjo, dan dihadiri oleh tiga pembicara, yakni Devi Anggraini, Ketua PEREMPUAN AMAN; Sukinah, perwakilan Kartini Kendeng; dan seorang aktivis perempuan pejuang agraria, Eva Bande.

Ancaman kerusakan lingkungan telah mendorong para perempuan adat melakukan perlawanan demi melindungi wilayahnya. Menurut Devi, kisah perlawanan tersebut bukan hanya soal wilayah saja, tapi juga menyangkut identitas perempuan adat. “Wilayah kelola perempuan adat bukan hanya sekadar luasan tanah yang dikelola, tapi ada hubungan-hubungan spiritualitas di dalamnya,” katanya. Tanah yang ada di bumi ini, tambah Devi, merupakan raga yang menghidupi jiwa para perempuan adat, sehingga mereka tak segan untuk melawan jika tanah yang mereka tempati terancam rusak.

Dalam film Tanah Ibu Kami, diperlihatkan posisi perempuan yang selalu berada di garda terdepan untuk memimpin perlawanan. Selain karena hubungan yang erat antara alam dengan identitas perempuan adat, hal tersebut juga merupakan salah satu cara mengantisipasi adanya korban jiwa. “Karena kalau bapak-bapak yang ada di depan itu pasti adu kekuatan, pasti adu jotos,” ujar Sukinah.

Eva Bande mengatakan bahwa dalam setiap pergerakan yang dilakukan, perempuan adat kerap menemui tantangan berupa stigma dari pemberitaan media lokal yang mengaitkannya dengan kerja komunis atau Gerwani. “Mereka adalah media lokal yang dipesan oleh perusahaan untuk menjatuhkan semangat sehingga demoralisasinya bisa terjadi,” ujarnya. Untuk itu, lanjut Eva, peran kolektif sangat dibutuhkan untuk saling menguatkan satu sama lain. “Caranya dengan kembali ke komunitas, karena komunitas adalah tempat kita menjadi kuat, kalau kita memang bersama-sama berjuang, maka saya yakin pasti dapat menghilangkan segala macam kesedihan dan stigma-stigma tersebut,” tutupnya.

Reporter : Della R, Putri, Pandu

Penulis : Della R

Editor : Zanu

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top