CANCEL CULTURE : SEBUAH BUDAYA YANG MASIH PENUH TANDA TANYA

Sumber gambar : The Portola Pilot

Cancel culture, sebuah tren yang semakin marak kita lihat di media sosial Twitter. Budaya untuk memboikot seseorang, yang biasanya seorang public figure, dengan tujuan mematikan seluruh kariernya ketika orang tersebut dianggap salah atau ‘menyimpang’ dengan norma-norma sosial di masyarakat, problematik, istilahnya. Cancel culture dapat dijadikan media edukasi dengan menajamkan pemahaman masyarakat mengenai suatu isu agar masyarakat lebih aware dengan permasalahan yang ada. Menciptakan ruang diskusi, menyuarakan opini, dan secara tidak langsung menerapkan nilai demokratis menjadi nilai tambah dalam sisi positif. Namun, di lain sisi, cancel culture juga terlihat ‘menyeramkan.’ Menyediakan ruang penghakiman, mengintimidasi objek yang di-cancel secara massal, dan menciptakan kemungkinan cyberbullying. Ya, seperti yang sudah kita ketahui, #ThePowerOfNetizen memang sungguh tidak diragukan lagi.

Cancel culture juga biasanya diikuti perilaku membawa masalah idol di masa lalu dan demanding apologize dari netizen kepada idol yang bersangkutan. Ketika sudah dipenuhi, apakah amarah netizen akan meredam? Tidak. Mereka haus. Meminta lebih dan lebih. Sumpah serapah akan terus mengalir, memboikot karier dan pencapaiannya, hingga lebih parahnya mengingkan sang idola untuk bunuh diri saja. Sungguh kompleks. Sehingga muncul pertanyaan dalam penggunaan cancel culture ini. Sebenarnya, apa tujuan dari cancel culture? Output apa yang diharapkan? Batasan apa yang membedakan cancel culture dengan cyberbullying? Dan sederet pertanyaan lain sebagainya.

Memisahkan pandangan pun sangat sulit antara personal idol dengan karyanya, karena karya itu sendiri merupakan hasil dari buah pemikiran para idol tersebut. Selain itu, karya merupakan hal yang melekat dalam sosok idol. Sekiranya salah, kritisi secukupnya, edukasi seperlunya, dan diskusikan secara sehat. Jangan jadikan cancel culture sebagai ruang untuk penghakiman dan alat intimidasi massal, apalagi untuk ajang kompetisi saling benar satu sama lain. Hingga sampailah kita pada situasi jika idola kita bersikap ‘anomali.’ Lalu, siapa sebenarnya target utama kita? Karyanya? Idol-nya? Atau keduanya? Masih menjadi tanda tanya.

Penulis: A. Sava

Editor : Restutama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top