Peringatan Hari Marsinah: Perjuangan Buruh Wanita dalam Memperjuangkan Haknya

Sumber Gambar: Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM)

28 tahun lalu, Marsinah –seorang buruh wanita sekaligus aktivis –ditemukan tak bernyawa di sebuah gubuk. Ia diperkosa dan disiksa hingga meninggal dunia. Hal tersebut hanya karena dirinya begitu keras memperjuangkan hak-hak buruh. Kasus tersebut tidak pernah diusut tuntas oleh pemerintah dan dalang dibalik pembunuhannya sampai detik ini pun belum terungkap.

 

Dalam rangka memperingati kepergian Marsinah, Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM) Jawa Tengah mengadakan diskusi daring bertajuk “Marsinah Masa Kini Melawan Omnibus Law dan Pembungkaman Demokrasi” pada Sabtu (08/05/2021). Diskusi yang diselenggarakan melalui aplikasi Zoom ini menghadirkan tiga orang narasumber, yakni Nining Elitos, ketua KASBI Pusat; Sri Rahmawati, perwakilan dari Departemen Perempuan dan Kesetaraan FSBPI; dan Rima Astuti, staf Yasanti. 

 

Menurut Nining Elitos, Marsinah merupakan seorang pejuang yang patut dan layak dijadikan pahlawan. “Ia seharusnya mendapatkan reward karena memiliki peran yang cukup besar ketika memperjuangkan (hak-hak) kemanusiaan dan kesejahteraan,” ungkapnya. 

 

Perjuangan yang dilakukan Marsinah serupa dengan perjuangan para buruh wanita kini yang terus memperjuangkan hak-haknya yang terampas. Hal ini terjadi lantaran terciptanya regulasi-regulasi baru yang tidak berpihak pada kaum buruh, terutama buruh wanita. Salah satunya yaitu dengan ditetapkannya Omnibus Law atau UU Cipta Kerja. 

 

Selain masalah jam kerja dan lembur yang diperpanjang, pemangkasan waktu libur, serta perubahan pada sistem perhitungan upah yang menyengsarakan para buruh, Rima Astuti juga menjelaskan bahwa dalam UU Ciptaker, perhitungan upah per jam secara otomatis akan menghilangkan esensi dari upah cuti haid dan upah cuti melahirkan.

 

Kondisi buruh perempuan saat ini, tambah Rima, berada di sebuah kondisi yang sangat tidak baik-baik saja. “Saat ini banyak juga – baik diakui maupun tidak diakui – kawan-kawan buruh perempuan yang terjerat hutang rentenir […] di tempat kerja, buruh perempuan kerap mengalami berbagai ketidakadilan, banyak buruh perempuan yang menerima upah yang sangat tidak layak,” katanya. 

 

Dalam realitanya, perjuangan buruh wanita dalam memperjuangkan hak-haknya tidak selalu berjalan mulus. “Yang dialami marsinah dulu dalam rezim otoriter tidak jauh berbeda dengan yang dialami buruh masa kini –dalam artian masih adanya intimidasi, pengurangan hak, dan perlakuan buruk para kapitalis,” ujar Sri Rahmawati. Ia juga berharap agar UU PKS dapat secepatnya di sahkan oleh negara mengingat masih banyaknya buruh wanita yang mengalami kekerasan dan pelecehan di tempat kerjanya.  



Reporter: Mei, Falih

Penulis: Della R.P

Editor: Restutama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top