Kawal Gugatan Soal Proyek Bendungan Bener, Wadon Wadas Gelar Aksi di PTUN Semarang

Perempuan Desa Wadas yang mengatasnamakan diri sebagai Wadon Wadas menggelar aksi simbolis anyam besek di halaman PTUN Semarang, Senin (9/8/2021). sumber: wadas melawan

Sejumlah perempuan dari Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten. Purworejo yang menamakan diri mereka sebagai Wadon Wadas menggelar aksi berupa menganyam besek, kantong tradisional dari bambu, di halaman Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang, pada Senin (9/8/2021).

Aksi tersebut merupakan buntut penolakan penambangan kuari di Desa Wadas sebagai penyuplai material bagi pembangunan Bendungan Bener sekaligus pengawalan proses persidangan gugatan masyarakat Wadas kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo di PTUN Semarang.

Sebelumnya, 15 Juli lalu warga Wadas menggugat Gubernur Ganjar Pranowo perihal Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 590/20 Tahun 2021 tentang Pembaruan Atas Penetapan Lokasi Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Bendungan Bener di Kabupaten Purworejo dan Kabupaten Wonosobo.

Alasan warga Wadas menggugat karena tidak ingin lingkungan dan ruang hidupnya rusak akibat penambangan kuari. 

“Agenda persidangan hari ini, adalah mendengarkan keterangan saksi dari para penggugat. Enam warga Wadas akan hadir memberi kesaksian,” kata Era Hareva Pasarua, selaku bagian Koalisi Advokat untuk Keadilan Gerakan Masyarakat Peduli Alam Wadas (Gempadewa) dalam rilis pers yang diterima Hayamwuruk, Senin (9/8/2021).

Besek atau kantong tradisional dari bambu bermakna sebagai simbol menyatunya perempuan Wadas dengan alam Wadas yang subur. 

Menurut rilis yang dikeluarkan Gempadewa, warga Wadas juga membagikan 234 piti (besek kecil) yang berisi makanan kepada para pedagang kecil dan pekerja informal lain yang berada di sekitar PTUN Semarang. 

Ada maksud tersendiri mengapa angka 234 yang dipilih, yaitu untuk memperingati perbuatan represif aparat kepada masyarakat Wadas pada tanggal 23 April 2021 lalu.

Julian Duwi Prasetia, dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta, sebagai kuasa hukum masyarakat Wadas mengaku ada 30-45 orang yang mengikuti aksi ini.

“Tadi hanya perwakilan. Mengingat kondisi masih kayak gini, kita nggak bisa buat maksimal. Sebenarnya banyak selain warga yang ingin ikut,” ujar Julian kepada Hayamwuruk melalui whatsapp, Senin (9/8/2021).

Julian juga menambahkan, massa aksi sempat ditanyai oleh aparat kepolisian yang bertugas mengamankan jalannya aksi perihal banyaknya peserta aksi yang berasal bukan dari Desa Wadas atau Kabupaten Purworejo.

“Lagi-lagi ini logika polisi membatasi. Seolah-olah orang yang berjuang di aspek lingkungan itu orang Wadas saja. Sedangkan orang lain yang punya keprihatinan atau perhatian yang sama seolah-olah nggak boleh,” kata Julian.

Dalam aksi ini, sejumlah organisasi turut memberikan dukungan terhadap masyarakat Wadas. Misalnya, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (BEM UNNES) yang menampilkan pentas musik akustik sebagai wujud solidaritas perjuangan warga Wadas.

Tak hanya itu, BEM UNNES juga mengirimkan amicus curiae yang dapat menjadi pertimbangan majelis hakim dalam mengeluarkan putusan terkait gugatan masyarakat Wadas tersebut.

Penulis: Andriv

Reporter: Andriv

Editor: Airell

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top