Protes terhadap Pencemaran Lingkungan, Dua Warga Desa Watusalam Ditetapkan sebagai Tersangka

Sumber Gambar : Pers Rilis LBH Semarang

Sejak 2006, warga Desa Watusalam, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, mengeluhkan aktivitas mesin boiler (ketel uap) berbahan bakar batu bara dan cerobong milik PT Panggung Jaya Indah Textile (Pajitex) yang hanya berjarak sekitar tiga meter dari permukiman warga. Aktivitas pabrik perusahaan produsen Sarung Mangga tersebut menghasilkan suara bising dan asap pekat serta kerikil halus yang mengotori rumah warga sekitar.

Berkali-kali warga sempat mendatangi pabrik untuk melayangkan protes. Berkali-kali pula, pihak manajemen pabrik mengatakan bahwa mesin boiler dan cerobong tersebut bersifat sementara dan akan direlokasi ke tempat yang lebih jauh. Bertahun-tahun berlalu hingga 2021,

“Nah, di cerobong besar itulah yang terakhir lantas menjadi puncak dari kekesalan warga karena penambahan tersebut tidak melalui proses perizinan dan sosialisasi kepada warga sekitar. Padahal, dampaknya sangat jelas: suara seperti helikopter, debu yang sangat tebal, dan asap yang sangat pekat,” ujar Iqbal, aktivis Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jateng, pendamping warga.

Lalu pada Jumat, (3/6/21) warga berkumpul di depan pabrik dan berencana menemui pihak manajemen pabrik untuk bermediasi. Namun, diskusi berakhir buntu. “Bahkan, responsnya sangat buruk. Ada juga beberapa kalimat bernada tantangan atau mungkin, ya, penyepelean seperti ketika warga meminta untuk menghentikan [aktivitas] cerobong, salah satu pihak manajemen itu langsung mengatakan dengan keras sambil menunjuk warga, ‘Tidak akan saya matikan!’” lanjut Iqbal.

Akibat suasana yang kian memanas, warga keluar menuju ruang operator mesin boiler. Salah satu warga meminta pihak operator untuk mematikan mesin boiler. Namun, tindakan tersebut harus memiliki izin pihak manajemen pabrik sehingga warga harus menunggu keputusan diskusi operator bersama pihak manajemen.

“Setelah setengah sampai satu jam ditunggu, pihak operator tidak keluar-keluar sehingga warga menunggu dengan kondisi panas dan cape. [Salah satu] warga lantas melihat ada bongkahan batu bara, mereka melempar batu bara tersebut ke kaca pintu operator mesin boiler tersebut. Dan pasca itu, warga bubar,” jelasnya.

Akibat tindakan tersebut, pihak pabrik melaporkan tiga warga ke pihak kepolisian. Dua warga bernama Muhammad Abdul Afif dan Kurohman diperiksa sebagai tersangka, sedangkan Roma sebagai saksi. Panggilan pertama dilakukan pada Jumat, (9/7)di Polres Pekalongan Kota untuk melakukan proses Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Lalu pada Selasa, (13/7) pukul 20.00 WIB warga mendapatkan surat dari pihak kepolisian yang berisi dimulainya proses penyidikan dan penetapan tersangka terhadap Muhammad Abdul Afif dan Kurohman.

Proses penyidikan dilakukan pada Kamis, (12/8). Namun, sehari sebelum itu, Rabu (11/8)pihak Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang bersama Walhi Jateng dan beberapa warga Watusalam mendatangi kantor Polres Pekalongan Kota untuk menyerahkan surat yang berisi permintaan penghentian penyidikan.

Menanggapi kasus tersebut, Nico pihak LBH Semarang selaku pendamping hukum kedua tersangka mengatakan bahwa hal tersebut merupakan upaya kriminalisasi terhadap pejuang lingkungan. “Seharusnya, polisi bisa melakukan pendekatan restorative justice atau keadilan untuk semua pihak dengan langkah memediasi kedua belah pihak, berapa nilai kerugian kaca tersebut, pelaku pemecahan akan mengganti kaca itu,” tegas Nico.

Menurutnya, kriminalisasi terhadap kedua tersangka bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan (UU PPLH). “Di dalam UU itu terdapat pasal bahwa setiap orang yang sedang memperjuangkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, tidak dapat dituntut secara pidana ataupun perdata. Hal ini karena mereka didasari sedang memperjuangkan lingkungan tersebut,” kata Nico.

Namun, karena PT Pajitex tetap tidak mencabut laporannya, proses penyidikan pun belum diberhentikan. “Ketika sudah [berstatus] tersangka, berarti nanti kalau dilanjutkan akan ada pelimpahan ke kejaksaan, akan disidangkan di pengadilan. Nah, itu yang ke depan akan kita dampingi atau perjuangkan,” pungkas Nico.

 

Reporter: Rilanda

Penulis: Rilanda

Editor: Aa

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top