Akun @undipcantik Disebut Langgengkan Standar Kecantikan dan Mengobjektifikasi Perempuan

Dok. Hayamwuruk

Menanggapi fenomena akun Instagram @undipcantik, Bidang Sosial Politik Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro (Sospol BEM FISIP Undip) bersama Bidang Kajian dan Aksi Strategis Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (Kastrat BEM FIB Undip) menggelar diskusi virtual lewat kanal Zoom, Sabtu (25/09/21). Diskusi bertajuk “Undip Cantik dalam Pusaran Sexism dan Standard Beauty” dengan Zeni Lestari (Mahasiswa FISIP UI 2019) dan Ira Larasati (Alumni FISIP UNDIP 2015) sebagai pemantik.

Diskusi diawali oleh Zeni yang melempar pertanyaan kepada forum tentang definisi cantik. Peserta mendefinisikan cantik dengan pengertian yang beragam. “Cantik itu pintar dalam bertutur-kata, dapat memahami situasi, atau pintar secara akademis,” tutur Khairunnisa salah satu peserta diskusi. Sedangkan menurut Farida Aufa, ia mengaku terpengaruh beauty standard Indonesia yang menempatkan cantik itu putih, kurus, dan tidak gendut. “Beauty standard itu wagu (aneh). Kayak ketika kamu jalan lalu kamu melihat seseorang tapi kamu akan terus berjumpa dengannya,” kata Farida.

Zeni kemudian memaparkan, kecantikan biasanya dinilai dari tiga hal yaitu warna kulit, sensualitas, dan ukuran bagian tubuh tertentu sehingga memunculkan praktik objektifikasi terhadap perempuan. “Objektifikasi ada karena cara pandang terhadap manusia berdasarkan satu bagian [tubuh] tertentu. Misalnya, perempuan dilihat dari bentuk payudaranya saja,” ujarnya.

Ia juga menyatakan, dua hal yang melanggengkan objektifikasi adalah media dan industri kecantikan. Media, lanjutnya, membawa narasi dan membentuk opini publik yang menunjukkan satu nilai masyarakat. Ia mencontohkan, ketika sebuah media mengiklankan ketiak putih sebagai suatu hal yang harus dicapai, akhirnya masyarakat mengamini bahwa idealnya ketiak adalah putih. “Coba lihat akun @undipcantik. Kita bisa melihat pola [serupa] yang terbentuk dari feed Instagram[nya],” imbuhnya.

Saat sesi diskusi, Intan Sahara, salah satu peserta bertanya, “Ketika mereka (akun @undipcantik) sudah tidak melakukan praktik standar kecantikan, misalkan menjadi akun lebih inklusif, apakah akun itu menjadi tidak bermasalah? Karena menurut aku permasalahan akun-akun kek gitu ada pada keberadaannya seolah kita objek kek lukisan atau barang antik yang dipajang. Bagaimana pendapat kakak-kakak?” tanya Intan Sahara.

Zeni menjawab, poin masalahnya bukan tentang ketika @undipcantik berbenah menjadi lebih inklusif. Melainkan soal objektifikasi yang menjerumuskan perempuan dalam jeruji sosial dan standarisasi kecantikan yang dibentuk. Menurutnya jika masih menilai manusia dari bagian tertentu saja, misalnya cantik, itu termasuk objektifikasi. “Kalau @undipcantik udah gak mengobjektifikasi perempuan, ya, gak ada yang namanya @undipcantik. Mungkin jadi @manusiaundip,” pungkasnya.

Reporter: Andriv, Farijihan Putri
Penulis: Farijihan Putri
Editor: Rilanda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top