Nissa Taruli Sebut Masih Terjadi Ketimpangan Pemenuhan HKSR Bagi Penyandang Disabilitas

Dok LPM Hayamwuruk
Dok. LPM Hayamwuruk

Dalam rangka memperingati Hari Aids Sedunia, Campaign.com bersama Sensitif Vivo mengadakan diskusi bertajuk “Perjalanan Panjang Pemenuhan HKSR Inklusif” pada Rabu (1/12/21) secara virtual. Acara tersebut menghadirkan Ni Putu Candra, Devi Asmarani, Nissi Taruli Felicia, dan Putri Widi Saraswati sebagai pembicara.

Nissi yang juga pendiri kelompok Feminis Themis ini mengungkapkan masih terjadi ketimpangan pemenuhan Hak-hak Seksual dan Reproduksi (HKSR) bagi orang-orang tuli karena minimnya akses informasi.

“Banyak sekali media yang mulai membicarakan ini, tetapi lupa ada teman-teman tuli yang membutuhkan akses (informasi HKSR),” ungkapnya.

Feminis Themis sendiri merupakan komunitas feminis tuli sebagai media edukasi feminisme, kesetaraan gender, dan tentang tuli yang aksesibel. Berdasarkan data penelitian mereka, pengetahuan teman-teman tuli tentang HKSR khususnya HIV/AIDS masih sangat terbatas.

“Miskonsepsi tentang HIV/AIDS masih tinggi, hanya 30% yang mengetahui,” imbuhnya.

Misalnya 57 dari 85 responden menganggap pengidap penyakit menular seksual (PMS) dapat diketahui dengan melihatnya saja. Kemudian 55 responden menganggap alat kontrasepsi untuk menghambat hormon seperti implant dapat melindungi perempuan dari PMS.

Di samping itu, Putri mengatakan HKSR adalah milik semua orang. Untuk mengetahui apakah kita sudah inklusif atau tidak dalam menangani HKSR dapat dilihat bagaimana sistem sosial bekerja yang menempatkan orang marginal. Hal ini karena adanya jarak antara pengambil kebijakan dengan mereka.

“Banyak yang menganggap orang marginal adalah kaum rentan yang lemah. Padahal kerentanan adalah produk sistem yang tidak adil karena meminggirkan segelintir orang.” jelas pakar HKSR ini.

Sejalan dengan Putri, Nissi mengungkapkan kondisi itu diperparah karena informasi yang didapat tidak seimbang.

“Seharusnya stigmasisasi terhadap penyandang disabilitas dihapus, sehingga mereka mendapatkan akses informasi yang komprehensif terkait pendidikan seksual dan reproduksi. Sedangkan selama ini informasi yang ada kurang mengakomodir orang-orang disabilitas,” pungkasnya.

Reporter: Farijihan Putri

Penulis: Farijihan Putri

Editor: Aa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top