Mencoba Memahami Bahwa Tidak Semua Hal Selamanya Manis Melalui Amor Fati dan Alkemis

Sumber Gambar: Maradhika Pustaka

Identitas Buku

Judul buku: Sang Alkemis
Penulis: Paulo Coelho
Alih bahasa: Tanti Lesmana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Publikasi: 12 November 2015
Halaman: 216 hlm; 20 cm
ISBN: 978-602-03-2305-3

***

Pertama kali saya membaca buku ini kurang lebih dua tahun lalu. Saat itu saya masih menjadi maba (mahasiswa baru) yang datang ke perpustakaan karena iseng mengisi waktu luang, sebab saya tidak bisa pulang seenaknya. Motivasi saya membaca buku ini pun tidak lebih dari ketertarikan akan kisah fantasi tentang sihir dan keajaiban.

Namun, ini sama sekali tidak seperti bayangan saya. Kisah ini justru mengisahkan kehidupan seorang gembala Andalusia, Santiago dan mimpi yang akhirnya membawanya ke Mesir untuk menemukan harta karun yang ia yakini sebagai takdirnya. Tetap saja, saya melanjutkan membacanya karena memang sudah telanjur, toh tujuan awalnya juga cuma mengisi waktu luang.

Semakin jauh saya membacanya, saya cukup dikejutkan dengan hal-hal yang menggelitik, tetapi beberapa juga membuat saya tidak nyaman dengan berbagai pertanyaan. Saat memikirkan ini, saya tahu bahwa saya perlu untuk tetap membacanya. Buku ini hampir selalu memberikan hal baru setiap kali saya membalik halamannya. Barangkali karena saat itu saya masih asing dengan kisah ala Mediterania-Afrika, dan sejujurnya itu menambah ketertarikan saya untuk tetap membacanya.

Saya biasanya adalah orang yang cukup skeptis dan pesimis, sangat bertolak belakang dengan optimisme yang menjadi dasar dari buku ini. Namun, saya merasa bahwa buku ini memberikan semacam pesan yang setidaknya masuk akal untuk beberapa hal. Apa yang disampaikan Paulo juga tidak memaksa saya untuk meninggalkan diri saya saat ini, pun tidak menghakimi bahwa itu salah. Sebaliknya, itu memberitahu saya bahwa setiap orang memiliki cara mereka sendiri untuk melangkah dalam hidupnya.

Jujur saja, sampai saat ini pun saya belum pernah menamatkannya. Entahlah, sepertinya saya hanya tidak mau atau mungkin juga boleh dibilang belum siap untuk itu. Apapun alasannya, yang jelas, buku ini sempat mengajarkan beberapa hal yang berarti bagi hidup saya.

Setiap Orang Memiliki Takdirnya (Impian)

Raja Salem itu mengatakan pada Santiago bahwa setiap orang, ketika muda, tahu takdir mereka. Semuanya jelas, segalanya mungkin, mereka merasa bisa mewujudkan segalanya. Namun, seiring berjalannya waktu, ada daya misterius yang menghentikan mereka untuk melakukannya. Daya ini sering dinilai negatif, tetapi sebenarnya itulah yang membantu mewujudkan takdirmu. Itu mempersiapkan roh dan kehendakmu.

 Terdengar sangat optimis bukan? Ya, buku ini adalah apa yang orang-orang sebut sebagai self-help book, tetapi saya tidak terlalu peduli. Saya tidak ingin membahas perdebatan pandangan orang-orang, saya juga tidak ingin menghakimi mengenai baik dan buruk, itu adalah penilaian bagi setiap pribadi. Bagi saya, selama ada hal yang berguna itu sudah cukup dan jika itu mungkin berguna bagi orang lain, maka itu adalah kebaikan yang mereka temukan sendiri.

Kita selalu memiliki impian, tetapi itu seringkali berubah seiring berjalannya waktu dan perubahan itu barangkali akibat dari keputusan yang kita ambil sendiri. Pada satu titik dalam hidup, kita mulai menyadari bahwa impian itu terlalu muluk, terlalu indah, atau mungkin terlalu bertentangan dengan realitas hidup kita saat ini.

Namun, apa yang terjadi kalau kita kembali pada impian awal kita sekarang? apakah akan ada yang berbeda? saya selalu bertanya-tanya tentang ini. Meski begitu, akan tetap ada hal yang tidak akan pernah terwujud karena itu hanyalah bagian dari fantasi anak-anak atau buah dari pemikiran yang naif. Pada akhirnya, saya menyadari bahwa apa yang penting bukanlah bagaimana kita bisa menjadi seperti itu, tetapi bagaimana kita bisa melakukannya. Kita yang pernah ingin menjadi Power Ranger atau Ultraman sejatinya tetap bisa mewarisi impian heroik tersebut bahkan setelah kita menjadi dewasa.

Meski begitu, Paulo tidak berniat menghakimi jalan yang ditempuh orang lain. Ada orang yang memilih untuk mewujudkan impiannya dan ada orang yang memilih untuk hidup tanpa perlu mewujudkan impiannya, sebab orang-orang tidak selalu bahagia bila impiannya terwujud. Bagi sebagian orang, impian mereka adalah alasan untuk mereka hidup, mereka pun takut bila impian itu tercapai, maka mereka akan kehilangan alasan untuk hidup. Saya pikir itu ada benarnya, bagi mereka yang memiliki mimpi, semua kejadian dalam hidup mereka menjadi bermakna, mereka bahkan meyakinkan diri mereka sendiri untuk itu dan saya mengetahui ini sama seperti orang lain juga mengetahuinya.

Kenalilah Pertanda

Paulo dalam bukunya selalu menyebutkan apa yang ia sebut sebagai jiwa dunia, bahwa ada bahasa yang menyatukan seluruh jagat raya. Itu adalah bahasa universal, bahasa yang bisa dipahami semua orang bahkan pada mereka yang tidak berbicara. Oleh sebab itu, segala sesuatu dalam hidup adalah pertanda yang lahir dari jiwa dunia dan disampaikan melalui bahasa universal itu. Orang-orang mungkin cukup beruntung untuk menafsirkannya, tetapi tidak selalu untuk yang lainnya.

Apa yang mungkin bisa saya ambil adalah bahwa saya seharusnya lebih peka terhadap apa yang ada di sekitar saya. Saya mengakuinya bahwa itu banyak membantu dalam mengambil keputusan, meskipun saya pun ragu apakah saya pernah menafsirkannya dengan benar. Namun, itu tidak terlalu penting. Apa yang saya sadari dari sini adalah bahwa pertanda itu semacam peluang dan tantangan, saya tahu ketika sesuatu datang, maka saya perlu menyambutnya, bahkan jika yang saya lakukan hanyalah perlakuan sederhana.

Sebenarnya masih banyak hal yang saya pelajari dari buku ini, seperti bagaimana saya harus menempatkan prioritas atas sesuatu dan belajar untuk tidak terburu-buru dalam mencapai hasrat yang telanjur menggebu-gebu, tetapi akan terlalu menjemukan bila membahas semuanya.

Amor fati dan Alkemis, Pertemuan yang Telah Digaris

Saya menyadari bahwa buku ini bersama dengan gagasan amor fati Nietzsche sempat menyelamatkan kewarasan saya pada titik tertentu dalam hidup. Barangkali itulah yang membuatnya memiliki tempat spesial bagi saya sendiri. Pandangan Nietzsche untuk mencintai takdir sebagai bagian dari hidup dan apa yang dilakukan Santiago selama perjalanannya memiliki semacam benang merah yang membuat saya menyadari jawaban penting dari banyak kekhawatiran saya.

Barangkali inilah yang disebut dengan maktub (telah tertulis) itu. Dulu, ketika pertama kali membacanya, barangkali saya hanya menganggapnya sebagai kata yang memaniskan rasa pasrah akan keadaan. Saya tidak pernah mengira untuk kembali memahaminya dengan cara yang berbeda. Seperti apa yang dikatakan Santiago, kita selalu memiliki cara berbeda untuk mempelajari sesuatu dan agaknya saya baru bisa menyadarinya saat semua ini terjadi pada saya.

Saya yakin, tangan yang membawa saya pada pandangan hidup indah Nietzsche dan apa yang membuat saya kembali membuka lembaran awal perjalanan Santiago adalah tangan yang sama, boleh jadi ini adalah pertanda untuk memudahkan hidup saya selanjutnya. Sinergi dari kedua konsep ini pada akhirnya menjadi semacam pemenuhan saya dalam menemukan jawaban atas pengampunan yang layak bagi hidup saya yang sudah terlanjur salah kaprah—atau mungkin lebih parah.

Kalau diingat-ingat, saya pun tidak mungkin bisa menghitung berapa banyak “pengandaian” yang telah saya lakukan. Miris memang ketika harus kembali mengingat kebodohan dan kesalahan di masa lalu yang kini hanya bisa mengendap menjadi penyesalan.

Saya akui, sampai detik ini pun itu tidak pernah habis. Banyak orang bilang, “Waktu akan menyembuhkan luka,” tetapi bagi saya luka yang membekas tidak mungkin hilang—atau lebih tepatnya tidak seharusnya hilang—karena suka atau tidak, itu tetaplah salah satu kenangan yang paling mengesankan.

Ya, kebodohan, kesalahan, bahkan dosa sekalipun adalah kenangan. Tidakkah itu aneh? memang. Awalnya saya hanya akan mengeluh dan menyesali semuanya,  berpikir seandainya saya bisa mengulang waktu kembali, maka saya akan memperbaikinya, tetapi mungkin tidak lagi.

Nietzsche dan Paulo membuat saya sadar bahwa semua itu juga bagian dari hidup. Santiago—gembala itu—mungkin tidak akan memperoleh kebijaksanaan jika tidak memahami arti kegagalan. Maktub, begitulah adanya.

Maka, apa yang terjadi padamu hari ini adalah apa yang seharusnya terjadi, itu ada untuk kepentingan di hari selanjutnya. Lalu, apa yang membuatmu harus menghentikan langkahmu saat ini? seperti Santiago yang bisa puas untuk menerima takdirnya, maka saya pun akan mencobanya.

Saya menyadari bahwa pengandaian atas perasaan putus asa itu tidak akan pernah mengubah apa-apa dan tidak lebih dari usaha sia-sia. Saya juga mengerti bahwa itu semua pada akhirnya akan berubah menjadi rasa sakit, tetapi sejak awal kita memang tidak terlahir untuk menolak rasa sakit. Bukankah mereka bilang manusia belajar dari rasa sakit? saya kira itu ada benarnya.

Dengan semua ini, saya harus mengatakan pada diri saya untuk mencantai semuanya tanpa memintanya kembali….

Amor fati, kenapa saya selalu melihat kesenangan dan pencapaian sebagai kebanggaan dan harapan seperti halnya benih musim semi, dan kenapa kesedihan maupun kekeliruan ada pada tempat yang berbeda seakan itu duri yang menghalangi. Kenapa saya tidak menyadari bahwa itu semua sama, lahir dari jiwa yang sama dan ditulis oleh tangan yang sama.

Amor fati, tidak ada yang perlu diubah dari masa lalu. Bahkan jika saya bisa memutar kembali waktu, apakah hidup saya akan berubah? jawabannya akan tetap tidak. Semua baik dan buruk pada akhirnya membuat saya melangkah pada jalan ini, tidak ada indikasi bahwa kesalahan saya di masa lalu tidak ikut mengambil peran untuk menciptakan kebahagiaan baru saya saat ini—atau bahkan lebih banyak dari yang bisa saya sadari.

Amor fati, saya tidak ingin berandai-andai untuk menjadi lebih baik, tidak ingin juga memerangi penyesalan atas keadaan yang telah lama hilang. Tidak ingin menanyakan mengenai apa dan siapa yang tidak bisa saya selamatkan, tidak ingin menghakimi tentang apa yang seharusnya begini atau begitu, tidak perlu berusaha menarik cinta saya pada dunia maupun orang lain, tidak juga untuk terus tenggelam pada kebencian berulang.

Untuk saudara yang terkasih, mungkin kita tidak saling mengenal sebelumnya. Namun, kita tidak perlu nama untuk memahami satu sama lain. Ini bukanlah usaha untuk melarikan diri. Kita semua mengerti bahwa hidup tidak selalu manis, dan kita harus memahami bahwa semua yang terjadi baik atau buruk merupakan kesatuan konsekuensi yang membawa kita pada hari ini, hingga akhirnya, kita tidak perlu berharap pada pengandaian semu lagi maupun mengutuk hidup kita sendiri.

Saya tidak bermaksud menjadi orang yang sok bijaksana. Saya tidak mengatakan bahwa pandangan hidup saya benar, saya juga tidak mau menilai beban hidup orang lain.

Saya hanya ingin membuat hidup saya lebih sederhana sehingga nanti ketika waktunya tiba, saya bisa mengatakan dengan tenang bahwa, “Ini adalah petualangan saya. Tidak ada yang istimewa. Mungkin tidak berarti apa-apa, tetapi tetap segalanya.”

Amor fati, semua akan indah pada waktunya—hanya jika kita memang menerimanya demikian. Tidak perlu berhenti sepenuhnya. Masih banyak bagian dari dunia yang membutuhkan cinta kita selanjutnya. Perihal bagaimana kita mencintainya, saya mengetahui jawabannya sama seperti kalian yang mengetahuinya sendiri. Maktub, saudaraku.

***

Jadi begitulah, barangkali beberapa orang memang hanya butuh kata yang mampu menanamkan harapan pada impian mereka, susunan kata yang membangkitkan semangat dalam diri mereka sendiri. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, saya tidak bermaksud mendebat pandangan orang lain, tidak juga hendak menghakimi antara baik dan buruk, itu sepenuhnya adalah penilaian pribadi. Anda sendiri yang berhak memutuskan apakah perlu sesuatu dari buku ini atau tidak. Apa yang saya bagikan adalah apa yang saya dapatkan untuk diri saya, dan jika itu mungkin memberikan manfaat bagi Anda, maka itu adalah kebaikan yang Anda temukan sendiri.

Orang-orang selalu belajar dengan cara yang berbeda, tentunya akan banyak dari Anda yang menemukan nilai dari buku ini sendiri secara berbeda pula. Apapun itu, saya juga ingin mendengarkannya dan belajar darinya. Jika kesempatannya tiba, saya harap kita bisa bersua untuk sekadar memulai perbincangan kecil demi kebaikan bersama.

Penulis: Ian
Editor: Rilanda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top