Orenji Kembali Digelar Secara Offline, Dipenuhi Euforia Komunitas Jejepangan

 

Sumber Gambar: Dok. Hayamwuruk/Juno

Sabtu (25/11/2023), Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) terlihat dihiasi dengan ornamen-ornamen jejepangan. Kondisi itu menandai digelarnya acara Original Event of Japan in Indonesia (Orenji) oleh Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang (BKJ) FIB Undip.

Orenji tahun ini kembali digelar secara offline, setelah sebelumnya pada masa pandemi hanya digelar secara online. Acara dimeriahkan dengan berbagai lomba, seperti lomba cosplay, coswalk, dan penampilan dari beberapa guest star.

Muhammad Ramadhan Wakil Ketua Panitia Orenji mengatakan, memang ada tantangan tersendiri bagi panitia karena selama 3 tahun belakangan Orenji dilaksanakan secara online.

“Dengan 3 tahun dilanda Covid, kita (panitia) gak punya persiapan apapun soal offline. Itu karena kita angkatan Covid, dikasih ekspektasi yang cukup besar dan ini ulang tahun ke-10 Orenji,” ujar pria yang akrab dipanggil Rama tersebut.

Rama menambahkan, walaupun persiapan bisa dikatakan mepet, semua berjalan cukup baik hingga hari penyelenggaraan Orenji.

“Persiapannya di beberapa bulan cukup berjalan lancar, namun di bulan November karena musim hujan juga jadi agak sulit. Tapi alhamdulillah, Puji Tuhan juga acara berjalan dengan lancar selancar-lancarnya,” ucapnya.

Salah satu pengunjung Orenji yang namanya tidak ingin disebutkan mengatakan, ia senang dengan adanya Orenji yang digelar kembali secara offline.

“Kalo aku seneng banget pastinya karena saat online banyak yang menyayangkan. Kita mau merasakan nge-event Orenji waktu offline, karena memang rame banget kalo offline. Aku seneng banget offline lagi, apalagi antusiasme dari pengunjung itu ngeri banget kalo liat di media sosial,” ucapnya.

Ia juga menambahkan, menurutnya Orenji tahun ini lebih ramai dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya, banyak orang sudah menunggu event Orenji digelar kembali secara offline.

“Setelah sekian lama Orenji gak offline, pengunjungnya cukup overload. Bisa dilihat dari penjualan tiket presale, hanya 30 menit sudah ditutup. Banyak juga cosplayer yang daftar lomba atau pengunjung event saja, itu lebih banyak dari sebelumnya. Memang pasca Covid semua orang merindukan event besar di kampus seperti Orenji,” jelasnya

Namun, pengunjung tersebut juga menyayangkan beberapa hal, seperti antrian tiket dan beberapa peraturan yang ada di event Orenji tahun ini.

“Penyakit Orenji dari tahun ke tahun selalu ada di ticketing. Memang wajar kalo membludak, sehingga antriannya panjang. Nah, yang tahun sekarang kan kemarin antriannya sampai Widya Puraya tuh. Ada juga beberapa temanku yang mengeluhkan tidak boleh merokok. Padahal, event sebelumnya disediakan tempat khusus buat merokok,” ujarnya.

Pengunjung tersebut berharap Orenji kedepannya tetap berjalan baik dan memperbaiki beberapa hal yang terjadi pada event kali ini.

“Semoga bisa memperbaiki di ticketing, terus mungkin ganti vendor sound dan paling nambah guest star sih. Di tahun sebelumnya, pasti guest star banyak walaupun lokal tapi tetap ramai,” tambahnya

Rama menyampaikan, ia berharap dengan adanya Orenji bisa memantik berbagai pihak untuk membuat acara meriah lainnya.

“Mungkin di FIB teman-teman prodi lain bisa mengembangkan lagi program kerja yang unggulan agar lebih besar, kita pasti mendukung. Sementara dalam lingkungan komunitas Jejepangan, harapannya sih kita bertiga (Universitas Negeri Semarang, Universitas Dian Nuswantoro, dan Undip) bisa kolaborasi membuat event Jejepangan lebih besar lagi, khususnya untuk Semarang ataupun di Jawa Tengah,” tegas Rama.

Reporter: Juno
Penulis: Juno
Editor: Farijihan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top