Aksi May Day 2026 di Semarang, Tuntut Upah Layak hingga Satgas PHK

Dok.Hayamwuruk/Titin

Reporter: Joy, Aisyah, Titin, Lia, Syipolo, Indira, Febby, Zuhrial, Fariel, Haya

Penulis: Titin

Editor: Lia

 

Ratusan massa aksi yang tergabung dalam aliansi buruh dan mahasiswa melakukan aksi damai memperingati Hari Buruh Internasional (May Day) di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah pada Rabu (1/5/2026). Aksi ini menyoroti berbagai isu krusial mulai dari eksploitasi pekerja, upah murah, hingga tuntutan pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Koordinator Departemen Pendidikan dan Propaganda Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) Jawa Tengah (Jateng), Giyanto, menyatakan bahwa massa aksi yang hadir mencapai 500–700 orang, mencakup wilayah Semarang, Brebes, Tegal, Solo, hingga Magelang. Ia menegaskan bahwa aksi May Day tetap mengusung watak perlawanan terhadap sistem yang menindas.

“Kemudian, hari ini dia (buruh -red) rasakan bahwa upah buruh perhitungannya seperti zaman perbudakan. Hanya cukup untuk makan (bagi -red) 1 orang. Nah, di situlah kami selalu menegaskan kalau 1 Mei adalah hari perjuangan merawat dan menjaga api perlawanan May Day,” ujar Giyanto.

Nur Laila dari perwakilan buruh turut menyuarakan kerasahannya terhadap fenomena relokasi industri besar-besaran ke Jawa Tengah. Ia menilai kehadiran pabrik-pabrik baru ini sebagai bagian dari politik upah murah.

“Hapuskan upah murah. Hapuskan outsourcing. Berikan pendidikan yang layak untuk kami, anak-anak buruh Indonesia,” serunya.

Di sisi lain, persoalan buruh di Jawa Tengah tidak berhenti pada masalah upah. Lukmanul Hakim selaku Koordinator Lapangan (Korlap) aksi dari Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), menyoroti ancaman efisiensi dan PHK yang mulai melanda sektor industri di Jawa Tengah, khususnya industri plastik. Ia mendesak pemerintah untuk segera merealisasikan janji perlindungan bagi pekerja yang terancam kehilangan mata pencaharian.

“Kami menagih janji kepada Presiden Prabowo untuk membentuk Satgas PHK. Tadi disampaikan juga bahwa Satgas PHK ini akan segera dibentuk (dengan -red) Satgas PHK ini akan menanggulangi agar tidak terjadi PHK. Artinya, mengidentifikasi, mitigasi di awal sampai tidak terjadi PHK,” tegas Lukmanul.

Selain isu ketenagakerjaan, massa juga menyuarakan kekecewaan terhadap sektor pendidikan. Perwakilan Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM) Jawa Tengah menyebutkan bahwa audiensi dengan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, tidak membuahkan hasil yang substantif terkait isu pendidikan.

“Namun, sayang, jawaban yang dilontarkan oleh Ahmad Luthfi tidak membuahkan hasil sama sekali. Alih-alih menjawab pertanyaan secara substantif, dia justru menjawab pertanyaan secara normatif,” ungkap perwakilan Aliansi GERAM dalam orasinya.

Aksi yang berlangsung hingga sore hari ini terpantau kondusif dengan adanya balutan kegiatan seni, seperti pertunjukkan musik, pembacaan puisi, hingga kehadiran simbolis ogoh-ogoh berbentuk babi. Glenda, salah satu peserta aksi, menilai ogoh-ogoh tersebut adalah simbol visual untuk menggambarkan kerakusan kekuasaan.

“Bentuknya babi, perutnya terbuka, kayak bentuk kerakusan. Kayak tali yang mengikat di lehernya. Jadi, aku melihatnya ini bentuk kesenian yang menyuarakan dan merepresentasikan tokoh tersebut,” ucap Glenda.

Back To Top