
Identitas Buku
Judul : Di Kaki Bukit Cibalak
Penulis : Ahmad Tohari
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Halaman : 176
Tahun Terbit : 1994
ISBN : 978-602-03-0513-4
Di Kaki Bukit Cibalak karya Ahmad Tohari merupakan sebuah novel yang mengangkat isu kebobrokan pemerintah terutama di desa kecil yang jauh dari pusat kota, sehingga jarang diperhatikan oleh pemerintah pusat. Tokoh utama disini memiliki sifat yang sangat jarang ditemukan di era sekarang ini, yaitu menjunjung tinggi kejujuran dan berpegang teguh pada kebenaran, meski sebuah kejujuran itu terkadang menyulitkan dirinya.
Cerita ini diawali dengan momen ketika Desa Tanggir yang terus mengalami perubahan setiap tahunnya menjadi lebih modern, contohnya seperti yang dulunya jalanan dipenuhi oleh jejak kaki kerbau untuk membajak sawah kini berganti dengan kendaraan bermotor ataupun traktor. Para warga rela menjual asetnya untuk mengganti barang-barang lama menjadi barang yang modern.
Saat itu akan ada pemilihan kepala desa atau lurah baru karena lurah sebelumnya sudah habis masa jabatan. Para warga berharap mendapatkan lurah yang lebih baik daripada sebelumnya, termasuk tokoh utamanya yaitu Pambudi. Pambudi adalah seorang pekerja di lumbung koperasi desa, ia berharap lurah baru dapat membuat badan sosial itu sungguhan menjadi koperasi yang akan memberikan banyak manfaat bagi penduduk Desa Tanggir.
Namun sayangnya lurah terpilih yaitu Pak Dirga, sama seperti lurah sebelumnya yang suka menggelapkan dana koperasi untuk kepentingan sendiri. Bahkan dana yang digunakan untuk pelantikan pun menggunakan dana koperasi, yang mana dana itu seharusnya digunakan untuk kepentingan masyarakat bukan untuk lurah itu sendiri.
Pada suatu hari ada seorang janda bernama Mbok Ralem yang memiliki dua anak hendak mengajukan pinjaman ke koperasi untuk melakukan pengobatan ke Yogya, tetapi pinjaman tersebut ditolak oleh Pak Dirga karena sebelumnya Mbok Ralem sudah pernah meminjam padi di koperasi dan belum dikembalikan.
Pambudi yang mendengar itu mencoba membujuk Pak Dirga untuk setuju Mbok Ralem diberi pinjaman, tetapi Pak Dirga tetap menolak dan malah memberitahukan rahasianya jika rekan kerja Pambudi, yaitu Puyo yang sudah menggelapkan dana koperasi. Pambudi juga diajak untuk melakukan kecurangan. Dengan banyak pertimbangan akhirnya Pambudi mengundurkan diri dari pekerjaannya karena bertentangan dengan hati nuraninya. Setelah itu, Pambudi secara sukarela membawa dan membiayai Mbok Ralem untuk berobat ke Yogya.
Saat sudah sampai di rumah sakit dan sudah diperiksa ternyata Mbok Ralem mengidap penyakit kanker sehingga harus di operasi dengan biaya yang sangat mahal. Mereka berdua kaget, tetapi Pambudi memiliki ide dengan cara mengirim foto benjolan yang ada pada leher Mbok Ralem dan membawanya ke Kantor Redaksi Kalawarta, sebuah kantor redaksi harian lokal di Yogya, untuk dimuat dalam koran agar dapat mencari dana bantuan. Hal tersebut diterima dengan baik oleh pemimpin redaksi. Hingga terkumpulah semua uang itu dan Mbok Ralem bisa di operasi.
Setelah menginap beberapa hari di Yogya, keduanya pulang ke desa. Namun, kepulangan Pambudi malah dihadapkan dengan masalah. Ia dibenci Pak Dirga karena berita yang dimuat di koran membuat Pak Dirga kena tegur akibat melalaikan tugasnya tidak membantu warga yang kesusahan. Masalah tersebut membuat Pambudi harus meninggalkan desa dan gadis yang dicintainya.
Pambudi memilih kembali ke Yogya, ia mengunjungi sahabat semasa SMA nya untuk dimintai pertolongan. Pambudi juga kembali berkuliah atas saran Topo, sahabatnya. Untuk membantu biaya kehidupan sehari-hari, selain dari hasil peternakan ayam di desa, ia juga bekerja di toko arloji yang dulu menjadi tempat kerja Topo. Disana ia bertemu dengan Mulyani anak dari pemilik toko arloji tersebut, dan ternyata Mulyani menyimpan perasaan terhadap Pambudi.
Setelah membaca novel ini, saya menyadari bahwa kecurangan atau korupsi dari pejabat sudah mendarah daging di Indonesia, bahkan dari tingkat pemerintahan di desa kecil pun ada saja kecurangan yang terjadi. Novel ini terbit tahun 1994 yang mana membuktikan bahwa Indonesia belum bisa mengatasi masalah korupsi ini hingga sekarang.
Jumlah halaman yang sedikit memang bisa menjadi kelebihan sekaligus kekurangan dalam novel ini. Di satu sisi, jumlah halaman yang ringkas membuat pembaca tertarik karena bisa menyelesaikan novel ”Di Kaki Bukit Cibalak” ini dalam sekali duduk saja. Namun, di sisi lain, hal ini bisa menjadi kelemahan, karena kesannya seperti sedang kejar tayang. Banyak adegan atau detail yang seharusnya dijelaskan dengan rinci justru terpotong atau di-skip begitu saja, sehingga alur cerita terasa kurang mendalam dan terkesan terburu-buru. Akibatnya, pembaca mungkin merasa kehilangan momen-momen penting yang seharusnya bisa memberikan kesan yang lebih kuat.
Penulis: Dila
Editor: Fajri