Ngrasani[1] Film Nasional



Ngrasani[1]
Film Nasional

Ngrasani film menjadi
kegemaran anak muda akhir-akhir ini. Sampai tidak lagi takjub, melihat anak
muda bisa dengan fasih menyebut deretan judul film hanya dalam sekali duduk. Mereka-lah
generasi yang tumbuh paska-1990, yang setiap harinya dihadapkan langsung dengan
dunia multimedia. Mereka adalah anak-anak penikmat TV multikanal, sinema, youtube,
dan TV kabel. Mereka juga yang berduyun-duyun antre nonton film demi bisa
bertukar kisah dalam ruang komunal; bioskop, laptop, dan gadget-nya.
Garin Nugroho, seorang film maker menyebut mereka ini sebagai
generasi visual. Bukan lagi generasi TVRI, era saat bapak-bapak kita dulu muda.
Generasi visual adalah kita yang sekarang sedang tumbuh di periode urban dalam
momentum apresiasi yang amat luas terhadap perkembangan film dewasa ini.
Menjelang perayaan Hari Jadi ke 67 Film Nasional pada 30 Maret
besok. Boleh kah kita jujur dan mengakui bahwa di tengan upaya pemerintah
mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus melestarikan kebudayaan
nasional lewat film
. Kita generasi
visual yang memiliki kemudahan dalam mengakses informasi justru kurang tertarik
ngerasani film-film nasional yang mengambil gambaran dari manusia dan
keberagaman Indonesia.
Buktinya cukup dari film-film nasional seperti; Surga yang Tak
Dirindukan, 99 Cahaya Di Langit Eropa, LDR, Assalammu’alaikum Beijing, Jilbab
traveller, Bulan Terbelah Di Langit Amerika, London Love Story, Winter In
Tokyo, Habibie & Ainun, Rudy Habibie, Ketika Cinta Bertasbih. Hampir semua film
di atas memiliki tingakat interest yang lebih tinggi di kalangan anak
muda dibanding film bercorak kedaerahan. Apakah ini masalah mentalitas
Indonesia yang belum sepenuhnya percaya diri dalam menampilkan keindonesiaanya
ke layar lebar? Atau pemanfaatan unsur-unsur pengoda berupa imajinasi keindahan,
kemajuan peradaban luar negri yang semata demi keuntungan industri.
Bila ini bermaksud buruk dan terus terjadi tanpa ada perhatian dari
segenap komponen bangsa yang mencakup pemerintah, pemangku kepentingan
perfilman, dan masyarakat luas. Film sebagai alat penyebarluas gagasan dan
narasi keberagaman Indonesia tidak akan bisa optimal.
Bahkan bencana paling besar yang mungkin bisa terjadi adalah saat
generasi visual seperti kita menjelma apatis. Orientasinya bergeser pada pragmatism,
pendangkalan dan simplikasi. Bukan lagi tentang misi-misi perfilman nasional
tapi lebih kepada film sebagai alat pemuas.
Persaingan sinematis ini merupakan sebagian dari proses demokrasi yang
rumit. Tanggapan terhadap kecenderungan generasi visual dalam mendefinisikan
ulang fungsi film nasional membuat posisi industri film Indonesia ini sangat
mengelitik.
Bagi Embie C Noer, film menempati kedudukan yang penting di
Indonesia. Ini dibuktikan dengan tata kelola film yang saat ini oleh pemerintah
diganti oleh dua kementrian, yaitu kemendikbud dan kemenparekraf. Setidaknya
secara awam Dikbud berarti ada kaitannya dengan peningkatan pendidikan dan
kebudaya, sedangkan bagi Parekraf, film dikelola sebagian dari potensi bidang
pariwisata dan salah satu unsur dari ekonomi kreatif.
Dengan ditopang dua kementrian ini, adakah kemampuan untuk
mewujudkannya? Tentu bukan hal yang berat untuk memulai kerja besar dan
strategis ini, terlebih dibantu oleh generasi visual yang tanggap dengan segala
bentuk kemutakhiran zaman ini.
Maka dari sinilah, dalam hal Hari Film Nasional (HFN) besok, kita bisa bertanya, apa
artinya peringatan-peringatan ini bagi sutradara, produser, pemain, bioskop
terlebih kita sebagai generasi visual? hanya sebagai ritus tahunan?
Yang harus dan perlu kita tingkatkan agar perfileman nasional menjadi
lebih baik pertama-tama adalah mentalitas kita. Kita tentu tidak ingin yang
dikatakan P. Freire dalam bukunya The Pedagogy of Oppressed terjadi pada
generasi visual kita. Bahwa kekalahan budaya adalah saat kita percaya yang kita
miliki itu lebih rendah dari milik bangsa lain. []



Oleh:
Faqih Sulthan (S1-Sastra Indonesia)



[1] Merumpi:
mengeobrol sambil bergunjing dengan teman-teman. (KBBI)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top