Parade Ogoh – Ogoh, Simbol Kemajemukan Lintas Agama

Dok. LPM Hayamwuruk

Karnaval
Seni Budaya dan Lintas Agama yang dimulai dari tugu nol kilometer Semarang
hingga Balaikota Semarang sukses digelar pada hari Minggu (02/04). Pemukulan
gong secara simbolis oleh Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunayarti ini
menandai dimulainya parade ogoh-ogoh yang diikuti oleh 38 komunitas. Acara yang
dihadiri ribuan pengunjung ini, digelar sebagai peringatan Hari Raya Nyepi
1939.

Ikade,
selaku Ketua Panitia menjelaskan, patung ogoh-ogoh yang bermuka seram adalah
simbol dari perwujudan sifat jahat 
manusia yang harus dihilangkan. “Wajah ogoh-ogoh serem, serem wujud
angkaramuka, wujud yang harus kita lenyapkan, harus kita enyahkan” ujarnya.

Ikade
menambahkan, parade ogoh-ogoh tahun ini digelar untuk merawat kemajemukan
budaya masyarakat: “Kita perluas menjadi karnaval rangkaian seni budaya lintas
agama dan pawai ogoh – ogoh, jadi kita mengembangkan demi merajuk kebersamaan,
demi persatuan kesetaraan dan sialaturahmi antar umat agar situasi kondusif
kita jaga,” tambahnya.

Selanjutnya,
rangkaian acara festival ogoh-ogoh ini ditutup dengan pagelaran drama
sendratari Arjuna Wiwaha. Ardu, masyarakat Semarang yang secara kebetulan
mengetahui adanya acara ini merasa terkesan. “Saya antusias banget karena (acara ini) mengusung adat
Jawa, ada unsur Hindu yang peradabannya dari Hindia menurut saya bagus juga
untuk keanekaragaman Indonesia,” ujarnya.

(Hayamwuruk/Ulil)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top